Mkasih infonya mas.
Kalo semanggi ada nggak mas di bekasi/jakarta?
Di deket kompleks telkom situ, bagi yang mau mencoba makanan betawi, juga
ada warung sayur gabus. Murah dan enak.
 
Wass. 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Karang Taruna
Sent: Tuesday, February 17, 2009 8:53 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono


Melanjutkan email novan di bawah ,,,

Bagi sedulur wong kendal yg tinggal di Bekasi Selatan ,,mungkin bisa
mendapatkan nasi megono 
di Warung Pekalongan deket Perumahan Telkom SATWIKA PERMAI ,,,2 Km dari
(KOMSEN ) Pintu TOL jatiasih ke arah Cibubur ,,,

Salam dari 
Pak'e Seto 
 

--- On Thu, 2/12/09, Novanindra Dana <[email protected]> wrote:



From: Novanindra Dana <[email protected]>
Subject: Re: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
To: [email protected]
Date: Thursday, February 12, 2009, 1:42 AM







--- On Mon, 2/9/09, Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com> wrote:



From: Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com>
Subject: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
To: "Kendal Online" <kendal-online@ yahoogroups. com>
Date: Monday, February 9, 2009, 4:33 AM






Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono 

------------ --------- --------- --------- - 

Sebenarnya jarum jam masih belum memukul angka tujuh, tapi cuaca pagi di
Wonosobo sepertinya masih sangat pagi. Sang mentari rada kesulitan menebar
lepas cahayanya karena terhalang awan pagi pegunungan. Saat sedang menikmati
sruputan secangkir kopi, pandangan saya terpancing menoleh ke luar rumah
karena terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil : "Megono...... ,
megono......" . Saya pikir, itu suara seorang ibu yang sedang mencari
anaknya yang tadi lari kabur masih telanjang ketika sedang dimandikan dengan
air sumur yang dingin. 

Rupanya pikiran saya yang kelewat kotor. Ibu paruh baya bergaun hijau kusam
yang sedang berjalan melenggang sambil menggendong bakul atau tenggok itu
sedang menjajakan menu sarapan pagi. Nasi megono, nama makanan yang
dijajakannya. 

Menu sarapan pagi nasi megono sepertinya sudah menjadi bagian keseharian
warga masyarakat Wonosobo. Mereka layak membanggakan hal itu. Ungkapan yang
pas untuk menggambarkan suasana ini adalah : "Serasa belum sarapan kalau
belum menyantap nasi megono", atau lebih ekstrim lagi dikatakan "tiada hari
tanpa nasi megono". Menu yang hampir sama racikannya sebenarnya juga ada di
daerah Pekalongan dan Temanggung, meski agak beda komponen produknya. 

Penjual nasi megono banyak dijumpai di pinggir atau sudut-sudut kota
Wonosobo setiap pagi hari. Para pegawai, pelajar, buruh dan umumnya
masyarakat Wonosobo pun bisa membekali perutnya sebelum pergi meninggalkan
rumah dengan praktis dan berbiaya murah. Sebungkus nasi megono yang
dibungkus daun pisang berlapis kertas seadanya bisa diperoleh dengan
pengganti uang Rp 500,- sampai Rp 1.000,- tergantung takaran dan menu
tambahannya. 

Citarasa masakan setiap orang pasti tidak sama meskipun racikan bumbunya
sama, maka biasanya setiap orang sudah memiliki bakul favoritnya
masing-masing. Seperti keluarga teman saya yang tinggal di kawasan dusun
Karangkajen, desa Wonosobo Timur, juga sudah punya langganan bakul nasi
megono (atau terbalik, bakul nasi megono yang punya pelanggan keluarga teman
saya....). Masakan nasi megono Bu Peno terasa lebih pas di lidah. Setiap
pagi Bu Peno yang berparas ayu seperti dawet Banjarnegara, selalu
menyempatkan mampir ke rumah teman saya itu untuk menjajakan nasi megono.
Maka Bu Peno yang pagi itu tampil lugu dan sportif dengan lilitan kain
kebaya agak nyingkrang (tampil sportif tidak harus dengan berkaus ketat plus
celana pendek oleh artis sinetron) pun dengan sigap bak satpol PP siap
beroperasi, membongkar bakul atau tenggok-nya dan segera membungkus nasi
megono sebanyak yang dipesan. 

Kopi secangkir yang belum sempat saya habiskan segera saya tinggalkan, lalu
gantian membedah bungkusan nasi megono bikinan Bu Peno. Sepiring tempe kemul
yang masih panas kebul-kebul, dilengkapi setoples peyek teri pun menemani
sarapan pagi dengan nasi megono. Hmmm..... nikmat benar (mengingatkan saya
akan sarapan pagi dengan gudangan yang dibeli di pasar Sentul Jogja). Nasi
megono yang masih hangat, sepertinya pas benar dilahap sebagai sarapan pagi
di kala udara Wonosobo yang masih dingin.   

    

Sebungkus nasi megono yang tampilan warnanya semburat kecoklatan itu
sepintas memang telihat kurang membangkitkan nafsu makan. Tapi bersabarlah
sedikit, hirup aroma wanginya, sempatkan menelisik komponen produknya, lalu
cicipi sedikit demi sedikit. Maka itu adalah hasil pencampuran nasi dan
sayur-mayur antara lain daun pepaya dan polong atau kol hijau yang dirajang
kecil-kecil, diramu dengan parutan kelapa muda, dan dimasak bersama-sama
dengan cara dikukus atau orang Jawa menyebutnya di-dang. Hasilnya adalah
nasi megono yang gurih dan hoenak, beraroma merangsang selera dan nyamleng
tenan..... 

Mengunyah dan menelan nasi megono, diselang-seling dengan menggigit tempe
kemul (tempe goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan tepung
beras ditambah sedikit kunyit dan rempah penyedap) dipadu dengan kriuk-kriuk
peyek teri, adalah sebuah pengalaman menyantap sarapan pagi yang sungguh
nikmat. Sebuah tradisi sarapan pagi yang perlu dipertahankan. Bukan saja
mengandung nilai nostalgia bagi mereka warga Wonosobo yang sudah tua atau
kini merantau di tanah seberang, melainkan juga lebih sehat dan bergizi
alami. 

Di Temanggung ada juga nasi gono atau sego gono. Mirip-mirip nasi megono,
tapi campurannya lebih bervariasi dan biasanya berbumbu pedas. Dulu banyak
dijumpai saat tiba musim panen, menjadi bekal makan para petani saat harus
seharian berada di sawah. Entah sekarang apa masih menjadi tradisi atau
sudah berganti. 

Di Pekalongan juga ada nasi megono yang nasinya berupa nasi liwet yang
disajikan terpisah dengan sayur-mayur semacam urap. Sayurnya pun biasanya
berupa buah nangka muda atau gori yang dirajang agak kasar, lalau dikukus
bercampur parutan kelapa muda dan bunga kecombrang. Makanya lebih beraroma
wangi dan (juga) sedap. Sajian komplit nasi megono Pekalongan bisa merupakan
perpaduan dengan nasi putih, dan bisa juga dinikmati bersama menu pelengkap
berupa tumis tauco, sayur lodeh, sambal kering tempe, balado telor, ikan
asin dan lalapan mentimun. 

Sajian nasi megono Wonosobo agaknya lebih sederhana tapi gurih dan numani
(membuat ketagihan). Karena itu, sebaiknya jangan lewatkan menikmati nasi
megono jika sempat menjumpai suasana pagi hari dan kebetulan pas berada di
kota Wonosobo. 

Yogyakarta, 9 Januari 2009 

Yusuf Iskandar 

 http://yiskandar. wordpress. com







Kirim email ke