dari perumahan Komsen ke arah cibubur Angkot no 44 ,,,,

Setelah lewat permuahan telkom SATWIKA PERMAI...nanti ada di sebelah kanan 
(barat) jalan ,,,,Sebelum Gang YAPIDH ....

Monggo di coba ,,,,


--- On Tue, 2/17/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 17, 2009, 1:57 AM











    
            
     Sebelah mana warungnya mas ya ?Sent from my BlackBerry® smartphone from 
Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !From:  Karang Taruna 
Date: Mon, 16 Feb 2009 17:52:40 -0800 (PST)
To: <kendal-online@ yahoogroups. com>
Subject: Re: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
                    Melanjutkan email novan di bawah ,,,

Bagi sedulur wong kendal yg tinggal di Bekasi Selatan ,,mungkin bisa 
mendapatkan nasi megono 
di Warung Pekalongan deket Perumahan Telkom SATWIKA PERMAI ,,,2 Km dari (KOMSEN 
) Pintu TOL jatiasih ke arah Cibubur ,,,

Salam dari 
Pak'e Seto 
 

--- On Thu, 2/12/09, Novanindra Dana <nov_re...@ymail. com> wrote:
From: Novanindra Dana <nov_re...@ymail. com>
Subject: Re: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Thursday, February 12, 2009, 1:42 AM

                        

--- On Mon, 2/9/09, Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com> wrote:
From: Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com>
Subject: [kendal-online] Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono
To: "Kendal Online" <kendal-online@ yahoogroups. com>
Date: Monday, February 9, 2009, 4:33 AM

                        Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono ------------ 
--------- --------- --------- -  Sebenarnya jarum jam masih belum memukul angka 
tujuh, tapi cuaca pagi di Wonosobo sepertinya masih sangat pagi. Sang mentari 
rada kesulitan menebar lepas cahayanya karena terhalang awan pagi pegunungan. 
Saat sedang menikmati sruputan secangkir kopi, pandangan saya terpancing 
menoleh ke luar rumah karena terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil : 
”Megono...... , megono......” . Saya pikir, itu suara seorang ibu yang sedang 
mencari anaknya yang tadi lari kabur masih telanjang ketika sedang dimandikan 
dengan air sumur yang dingin.   Rupanya pikiran saya yang kelewat kotor. Ibu 
paruh baya bergaun hijau kusam yang sedang berjalan melenggang sambil 
menggendong bakul atau tenggok itu sedang menjajakan menu sarapan pagi. Nasi 
megono, nama makanan yang dijajakannya.   Menu sarapan pagi nasi megono 
sepertinya sudah menjadi bagian keseharian warga
 masyarakat Wonosobo. Mereka layak membanggakan hal itu. Ungkapan yang pas 
untuk menggambarkan suasana ini adalah : ”Serasa belum sarapan kalau belum 
menyantap nasi megono”, atau lebih ekstrim lagi dikatakan ”tiada hari tanpa 
nasi megono”. Menu yang hampir sama racikannya sebenarnya juga ada di daerah 
Pekalongan dan Temanggung, meski agak beda komponen produknya.    Penjual nasi 
megono banyak dijumpai di pinggir atau sudut-sudut kota Wonosobo setiap pagi 
hari. Para pegawai, pelajar, buruh dan umumnya masyarakat Wonosobo pun bisa 
membekali perutnya sebelum pergi meninggalkan rumah dengan praktis dan berbiaya 
murah. Sebungkus nasi megono yang dibungkus daun pisang berlapis kertas 
seadanya bisa diperoleh dengan pengganti uang Rp 500,- sampai Rp 1.000,- 
tergantung takaran dan menu tambahannya.   Citarasa masakan setiap orang pasti 
tidak sama meskipun racikan bumbunya sama, maka biasanya setiap orang sudah 
memiliki bakul favoritnya masing-masing.
 Seperti keluarga teman saya yang tinggal di kawasan dusun Karangkajen, desa 
Wonosobo Timur, juga sudah punya langganan bakul nasi megono (atau terbalik, 
bakul nasi megono yang punya pelanggan keluarga teman saya....). Masakan nasi 
megono Bu Peno terasa lebih pas di lidah. Setiap pagi Bu Peno yang berparas ayu 
seperti dawet Banjarnegara, selalu menyempatkan mampir ke rumah teman saya itu 
untuk menjajakan nasi megono. Maka Bu Peno yang pagi itu tampil lugu dan 
sportif dengan lilitan kain kebaya agak nyingkrang (tampil sportif tidak harus 
dengan berkaus ketat plus celana pendek oleh artis sinetron) pun dengan sigap 
bak satpol PP siap  beroperasi, membongkar bakul atau tenggok-nya dan segera 
membungkus nasi megono sebanyak yang dipesan.   Kopi secangkir yang belum 
sempat saya habiskan segera saya tinggalkan, lalu gantian membedah bungkusan 
nasi megono bikinan Bu Peno. Sepiring tempe kemul yang masih panas kebul-kebul, 
dilengkapi setoples peyek teri pun
 menemani sarapan pagi dengan nasi megono. Hmmm..... nikmat benar (mengingatkan 
saya akan sarapan pagi dengan gudangan yang dibeli di pasar Sentul Jogja). Nasi 
megono yang masih hangat, sepertinya pas benar dilahap sebagai sarapan pagi di 
kala udara Wonosobo yang masih dingin.       Sebungkus nasi megono yang 
tampilan warnanya semburat kecoklatan itu sepintas memang telihat kurang 
membangkitkan nafsu makan. Tapi bersabarlah sedikit, hirup aroma wanginya, 
sempatkan menelisik komponen produknya, lalu cicipi sedikit demi sedikit. Maka 
itu adalah hasil pencampuran nasi dan sayur-mayur antara lain daun pepaya dan 
polong atau kol hijau yang dirajang kecil-kecil, diramu dengan parutan kelapa 
muda, dan dimasak bersama-sama dengan cara dikukus atau orang Jawa menyebutnya 
di-dang. Hasilnya adalah nasi megono yang gurih dan hoenak, beraroma merangsang 
selera dan nyamleng tenan.....    Mengunyah dan menelan nasi megono, 
diselang-seling dengan menggigit tempe
 kemul (tempe goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan tepung beras 
ditambah sedikit kunyit dan rempah penyedap) dipadu dengan kriuk-kriuk peyek 
teri, adalah sebuah pengalaman menyantap sarapan pagi yang sungguh nikmat. 
Sebuah tradisi sarapan pagi yang perlu dipertahankan. Bukan saja mengandung 
nilai nostalgia bagi mereka warga Wonosobo yang sudah tua atau kini merantau di 
tanah seberang, melainkan juga lebih sehat dan bergizi alami.   Di Temanggung 
ada juga nasi gono atau sego gono. Mirip-mirip nasi megono, tapi campurannya 
lebih bervariasi dan biasanya berbumbu pedas. Dulu banyak dijumpai saat tiba 
musim panen, menjadi bekal makan para petani saat harus seharian berada di 
sawah. Entah sekarang apa masih menjadi tradisi atau sudah berganti.   Di 
Pekalongan juga ada nasi megono yang nasinya berupa nasi liwet yang disajikan 
terpisah dengan sayur-mayur semacam urap. Sayurnya pun biasanya berupa buah 
nangka muda atau gori yang dirajang agak
 kasar, lalau dikukus bercampur parutan kelapa muda dan bunga kecombrang. 
Makanya lebih beraroma wangi dan (juga) sedap. Sajian komplit nasi megono 
Pekalongan bisa merupakan perpaduan dengan nasi putih, dan bisa juga dinikmati 
bersama menu pelengkap berupa tumis tauco, sayur lodeh, sambal kering tempe, 
balado telor, ikan asin dan lalapan mentimun.  Sajian nasi megono Wonosobo 
agaknya lebih sederhana tapi gurih dan numani (membuat ketagihan). Karena itu, 
sebaiknya jangan lewatkan menikmati nasi megono jika sempat menjumpai suasana 
pagi hari dan kebetulan pas berada di kota Wonosobo.    Yogyakarta, 9 Januari 
2009 Yusuf Iskandar  http://yiskandar. wordpress. com
                                        
                                        
                                                   
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke