Haus Kekuasaan
Selasa, 03-Maret-2009, Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah

 Lain dulu lain sekarang. Mungkin ungkapan ini cocok dengan keadaan pada
hari ini. Mereka telah terhempas jauh dari tuntunan Allah -Ta’ala-, dan
Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam- . Besarnya gelombang syahwat dan
syubhat membuat mereka terpisah jauh dari panutan mereka yaitu para sahabat
nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para shalafush shaleh. Mereka
beraqidah, bukan dengan aqidah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para
sahabatnya. Mereka beribadah, bukan dengan ibadah yang dicontohkan oleh Nabi
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya. Mereka bermu’amalah,
bukan dengan mu’amalah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para
sahabat. Akhirnya, Allah Ta’ala membiarkan mereka memilih jalannya sendiri
dan memalingkan mereka dari kebenaran, kemana mereka mau berpaling sebagai
hukuman kepada mereka atas kedurhakaannya kepada Rasulullah -Shollallahu
‘alaihi wasallam-, dan akibat mereka tidak mau mengikuti jalannya para
sahabat.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Barang siapa yang durhaka kepada Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti selain jalan orang-orang beriman (para sahabat) Kami biarkan dia
dalam kesesatannya dan kelak kami akan masukkan mereka ke dalam neraka
Jahannam, dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS.
An-Nisaa’ :115)

Jika kita mau memperhatikan kondisi kaum muslimin pada hari ini dan
membandingkannya dengan para sahabat dan pengikut mereka yang setia, maka
kita akan mendapatkan perbedaan yang sangat jauh. Pada hari ini, kaum
muslimin berlomba-lomba dan haus kekuasaan untuk mendapatkan jabatan dan
menjadi pemimpin. Padahal para salaf terdahulu menjauhi dan menghindarinya.

Segala cara mereka tempuh, tanpa peduli lagi dengan halal tidaknya. Maka
nampaklah gambar-gambar mereka terpampang di setiap sudut jalan dengan
kata-kata yang menggoda berharap agar mereka dipilih oleh masyarakat. Mulai
dari orang kaya sampai guru ngaji; yang tua maupun yang muda, semua berebut
kursi jabatan. Sungguh sial para pengemis kekuasaan tersebut; mereka telah
menghamburkan harta dimana-mana demi meraih kekuasaan. Andaikan harta yang
mereka hamburkan dalam pesta demokrasi itu mau dikumpulkan, lalu
disedekahkan di jalan Allah, niscaya banyak orang yang akan merasakan
manfaatnya. Tapi demikianlah setan menghiasi kehidupan dunia ini dengan
segala macam tipuannya untuk membinasakan manusia, dan membuat mereka rugi
di dunia.

Para salafush shaleh terdahulu sangat takut jika mereka diberikan kekuasaan.
Sebab mereka tahu dan pahami besarnya konsekuensi dan pertanggung jawaban
kekuasaan kelak di sisi Allah -Ta’ala-

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, فَاْلأَمِيْرُ
الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ingatlah, setiap orang diantara kalian adalah pemimpin, dan setiap dari
kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang amir (pemimpin
masyarakat) yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin, dan ia akan ditanya
tentang rakyatnya". [HR. Bukhari (5200) dan Muslim (4701)]

Seorang yang mau menjadi pemimpin dan penguasa, harus mengetahui betul bahwa
kekuasaan adalah amanah yang amat berat dipundak, dan tanggung jawab yang
amat besar di sisi Allah, sebab ia harus menunaikan hak orang banyak, dan
berbuat adil kepada mereka sebagaimana halnya mereka ingin agar rakyat
menunaikan tugasnya di hadapan dirinya. Sungguh tugas ini amat berat
digenggam, dan amat berbahaya. Tak heran jika Panutan kita, Nabi Muhammad
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengingatkan kita tentang bahayanya
kekuasaan, dan orang yang memintanya.

Abdur Rahman bin Samuroh -radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepadaku,

يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ اْلإِمَارَةَ, فَإِنَّكَ
إِنْ أُوْتِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا, وَإِنْ أُوْتِيْتَهَا
مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

"Wahai Abdur Rahman bin Samuroh, janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena
jika kau diberi kekuasaan dari hasil meminta, maka engkau akan diserahkan
kepada kekuasaan itu (yakni, dibiarkan oleh Allah & tak akan ditolong,
pent.). Jika engkau diberi kekuasaan, bukan dari hasil meminta, maka engkau
akan ditolong". [HR. Al-Bukhoriy (6622, 6722, 7146, & 7147), dan Muslim
(4257, & 4692)]

Abu Musa Al-Asy’ariy-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

دَخَلْتُ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلاَنِ
مِنْ بَنِيْ عَمِّيْ, فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ
أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلاَّكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ, وَقَالَ الآخَرُ
مِثْلَ ذَلِكَ, فَقَالَ: إِنَّا,وَاللهِ ! لاَ نُوَلِّيْ عَلَى هَذَا الْعَمَلِ
أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

"Aku pernah masuk menemui Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersama dua
orang sepupuku. Seorang diantara mereka berkata, "Wahai Rasulullah,
jadikanlah kami pemimpin dalam perkara yang Allah -Azza wa Jalla- berikan
kepadamu. Orang kedua juga berkata demikian. Maka beliau bersabda, "Demi
Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang
yang memintanya, dan tidak pula orang yang rakus kepadanya". [HR.
Al-Bukhoriy (7149), dan Muslim (1733)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لَنْ أَوْ لاَ نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ

"Kami tak akan mempekerjakan dalam urusan kami orang yang menginginkannya".
[HR. Al-Bukhoriy (2261, 6923, & 7156), dan Muslim (1733)]

Seorang yang meminta kekuasaan dan rakus terhadapnya akan mengalami
penyesalan, sebab ia bukan ahlinya. Kekuasaan menjadi sebuah kenikmatan
sementara, sedang kesusahan dan tanggung jawab akan menanti di Padang
Mahsyar.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ عَلَى اْلإِمَارَةِ وَسَتَكُوْنُ نَدَامَةً يَوْمَ
الْقِيَامَةِ, فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ

"Sesungguhnya kalian kelak akan rakus terhadap kekuasaan, dan kekuasan itu
akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Kekuasaan adalah sebaik-baik
penetek(yakni, awalnya penuh kelezatan dan kenikmatan, pent.), dan
sejelek-jelek penyapih (yakni, di akhirnya, saat terjadi kudeta, dan
pertanggungjawaban di hari akhir, pent.)". [HR. Al-Bukhoriy (6729), dan
An-Nasa’iy (4211 & 5385)]

Sungguh nasihat dan wejangan berharga ini seyogyanya menjadi peringatan bagi
kaum muslimin tentang beratnya tanggung jawab menjadi seorang pemimpin.
Hendaknya jangan berani meminta kekuasaan. Sebelum seorang diberi kekuasaan
dan tanggung jawab, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan takut akan
azab-Nya dengan membentengi diri mereka dengan ilmu sebelum menjadi
pemimpin.

Seorang ulama’ tabi’in, Al-Ahnaf bin Qois Al-Bashriy -rahimahullah- berkata,
“Umar bin Khattab pernah mengatakan kepada kami, “Pelajarilah ilmu agama
sebelum kalian memegang kekuasaan”. Sufyan berkomentar, “Karena seseorang
yang telah mengetahui ilmu agama, ia tidak akan berhasrat lagi mengejar
kekuasaan.” [Lihat Shifatush shafwah (2/236)]

Demikian pula para salaf yang lain, mereka sangat takut jika diberi
kekuasaan. Al-Miswar bin Makhromah-radhiyallahu ‘anhu- bekata, “Ketika Abdur
Rahman bin Auf diberi mandat dalam majlis syura (dewan musyawarah pemilihan
khalifah dari kalangan ulama yang cerdik dan pandai). Beliau adalah orang
yang paling kuidamkan untuk menduduki jabatan khalifah. Kalau beliau enggan,
sebaiknya Sa’ad. Tiba-tiba Amru bin Ash menjumpaiku dan berkata, “Apa
kira-kira pandangan pamanmu Abdur Rahman bin Auf, kalau ia menyerahkan
jabatan ini kepada orang lain, padahal dia tahu bahwa dirinya lebih baik
dari orang itu?”. Aku segera menemui Abdurrahman dan menceritakan kepada
beliau pertanyaan itu. Beliau lalu berkomentar, “Seandainya ada orang
meletakkan pisau dileherku lalu menusuknya hingga tembus, itu lebih kusukai
daripada menerima jabatan tersebut”. [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’
(1/87-88)].

Utsman bin Affan pernah mengeluh karena mimisan (keluar darah dari hidung),
lalu beliau memanggil Humran. Beliau berkata, “Tuliskan mandat untuk
Abdurrahman untuk menggantikan aku bila aku meninggal". Maka Humran pun
menuliskan mandat itu. Setelah itu, Humran datang menjumpai Abdur Rahman
seraya berkata, “ Ada kabar gembira”. Abdur Rahman bertanya, “Kabar apakah
itu?”. Humran berkata, “Utsman telah menuliskan mandat untuk anda
sepeninggalannya”. Abdur Rahman pun segera berdiri di antara makam dan
mimbar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- (yakni, di Raudhah), lalu
berdo’a, “Ya Allah apabila penyerahan jabatan dari Utsman sepeninggalnya
betul-betul terjadi, maka matikanlah aku sebelum itu”. Tak lebih enam bulan
berselang, beliau pun wafat. [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ (1/88)]

Yazib bin Al-Muhallab ketika diangkat sebagai gubernur Khurasan, ia membuat
pernyataan, “Beritahukanlah kepadaku tentang seorang laki-laki yang memiliki
kepribadian yang luhur lagi sempurna”. Beliau lalu dikenalkan kepada Abu
Burdah Al-Asy’ariy. Ketika Sang Gubernur menemui Abu Burdah, ia mendapatinya
sebagai seorang lelaki yang memiliki keistimewaan. Ketika Abu Burdah
berbicara, ternyata apa yang ia dengar dari ucapannya lebih baik dari apa
yang ia lihat dari penampilannya. Sang Gubernur lantas berkata, “Aku akan
menugaskanmu untuk urusan ini dan ini, yang termasuk dalam kekuasaanku". Abu
Burdah meminta maaf karena tidak bisa menerimanya. Namun Sang Gubernur tidak
menerima alasannya. Akhirnya Abu Bardah pun berkata, “Wahai Gubernur,
sudikan anda mendengarkan apa yang disampaikan oleh ayahku? Bahwa ia pernah
mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda”. Gubernur
berkata, “Sampaikanlah”. Abu Bardah berkata, “Sesungguhnya Ayahku (Abu Musa
Al-‘Asy’ariy) telah mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda:

“Barang siapa yang ditugaskan untuk memikul suatu pekerjaan yang dia tahu
bahwa dirinya bukanlah orang yang ahli atau pantas dalam pekerjaan tersebut,
bersiap-siaplah ia masuk ke dalam neraka”.

Aku bersaksi wahai Gubernur, "Bahwa aku bukanlah orang yang ahli atau pantas
dalam urusan yang anda tawarkan". Sang Gubernur justru berkata, “Dengan
ucapanmu itu, kamu justru membuat kami makin berhasrat dan senang menaruh
kepercayaan kepadamu. Laksanakanlah dengan segala tugas-tugasmu. Kami tidak
bisa menerima alasanmu”. Maka lelaki itu pun menjalankan tugasnya di antara
mereka selama beberapa waktu. Lalu ia meminta ijin untuk dapat menemui
Gubernur, dan ia diijinkan. Lalu ia berkata, “Wahai Gubernur, sudikan anda
mendengarkan apa yang disampaikan ayahku kepadaku bahwa ia mendengar
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “terlaknatlah orang yang
meminta atas nama Allah. Terlaknatlah orang yang diminta atas nama Allah,
lalu tidak mengabulkan permintaan si peminta, selama ia (si peminta) tidak
meminta perkara yang memutuskan persaudaraan”.

Sekarang aku minta atas nama Allah untuk tidak menjalankan tugas lagi, dan
memaafkan saya atas pekerjaan yang telah saya lakukan.” Maka sang Gubernur
pun menerima alasannya. [Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ (4/345)]

Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit
daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita bisa dapati orang zuhud dalam
hal makanan, minuman, harta, dan pakaian, namun kalau kita berikan kepadanya
kekuasaan, ia akan mempertahankannya dan berani bermusuhan membelanya”.
[Lihat Siyar Al-A’lam An-Nubala’ (7/262)]

Itulah sebagian dari nasihat dan mutiara hikmah dan petuah salafush shaleh
yang tinggi mutunya, mahal harganya, dan besar faedahnya. Kalimat yang
muncul dari lisan generasi terbaik umat ini. Yakni sahabat, tabi’in, dan
tabi’ut tabi’in -radhiyallahu anhum-.

Allah -Ta’ala- berfirman ketika memuji mereka,

“Orang-orang yang terduhulu lagi pertama dari kalangan muhajirin dan anshar
dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka
dan mereka ridho kepada Allah dan Dia menyiapkan bagi mereka surga-surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya.
Itulah kemenangan yang besar”. ( QS. At-Taubah: 100)

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, “Allah mengabarkan tentang ridhonya
kepada orang-orang beriman dari kalangan muhajirin dan anshar dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta keridhoan mereka kepada
Allah. Dengan apa yang Allah telah siapkan mereka berupa surga-surga yang
nikmat dan kenikmatan yang abadi [Lihat Tafsir Al-Qur’anil Adzim (2/398)]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah di zamanku, kemudian setelahnya (tabi’in),
kemudian setelahnya (tabi’ut-tabi’in)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab
Asy-Syahadat (2509), dan Muslim dalam Fadho’il Ash-Shohabah (2533)]

Ayat dan hadits di atas menjelaskan kepada kita tentang keutamaan dan
kedudukan yang agung yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada para
sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik. Karena itu, hendaknya
kita menjadikan mereka sebagai panutan dan suri teladan yang baik. Merekalah
yang dikenal dengan "Salafush Sholih" (Pendahulu yang Baik)

Alangkah indahnya ucapan Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu ‘anhu-,
“Barangsiapa yang ingin mengambil teladan maka hendaklah ia mengambil
teladan pada orang yang telah meninggal (yakni, para sahabat), sebab orang
yang masih hidup tidaklah aman dari ujian. Mereka adalah para sahabat nabi
Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-, mereka adalah manusia terbaik umat
ini, yang paling bagus hatinya, yang paling dalam ilmunya, dan paling
sedikit membebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah
untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah keutamaan
mereka! Ikutilah jalan mereka, dan berpegang teguhlah dengan akhlak dan
agama mereka semampu kalian, karena mereka berada pada petunjuk yang lurus
[HR. Abu Nua’im dalam Al-Hilyah (1/305)]

Al-Imam Abu Amer Al-Auza’iy-rahimahullah- berkata, “Sabarkanlah dirimu di
atas sunnah. Berhentilah di mana kaum itu (para sahabat) berhenti.
Berucaplah dengan apa yang mereka ucapkan, tahanlah (dirimu) dari apa yang
mereka menahan diri darinya, dan tempuhlah jalan salafush shalehmu
(pendahulumu yang shaleh). Karena sesungguhnya apa yang engkau leluasa
(melakukannya) leluasa pula bagi mereka”. [HR. Al-Lalikaa’iy dalam Syarh
I’tiqod Ahlis Sunnah (no.315), Al-Ajurriy dalam Asy-Syari’ ah (1/148)]

Inilah beberapa buah petikan nasihat dari kehidupan Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- dan para sahabatnya yang jauh dari ketamakan terhadap
kekuasaan. Mereka amat takut menerima kekuasaan; berbeda dengan orang-orang
di akhir zaman ini, mereka berlomba-lomba meminta kekuasaan dengan berbagai
macam dalih, seperti "Demi Islam". Padahal semuanya demi kursi!! Islam tak
butuh kepada perjuangan yang jauh dari petunjuk Islam. Fa’tabiruu ya ulil
abshor.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 98 Tahun II.
http://almakassari.com/?p=329#more-329
Budiyanto

Pada 5 Maret 2009 23:15, moh anto <[email protected]> menulis:

>   Menurut kabar yang sedang santer beredar DPRD Kab Kendal sedang didesak
> untuk segera melakukan pelantikan Wabup Siti Nurmarkesi utk menjadi bupati
> yg definitf, akan tetapi tampaknya ada ganjalan dr fraksi terbesar di DPRD
> Kab Kendal ttg hal ini.
> Fraksi terbesar ini tampaknya mempunyai tuntutan utk bisa mengisi posisi
> wabup yg kosong namun yg konyol calon yg muncul adalah Widya Kandi Susanti
> yg notabene adlah istri dari bupati yg di copot krn kasus korupsi. Klo ini
> terjadi alangkah konyolnya para wakil rakyat karena sangat tidak mungkin
> kasus korupsi bupati Kendal terjadi tnp melibatkan sosok istrinya, baik
> langsung maupun tidak langsung.
> Sebagai warga Kendal yg masih bermukim di Kab tercinta ini tentu sangat
> mendambakan sosok atau figur pemimpin yg mampu mengemban amanah dengan baik
> dan jujur....
>
> ------------------------------
> Warnai pesan status dengan Emoticon.
>  Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru.
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/maxwell/*http://id.messenger.yahoo.com/>
> 
>

Kirim email ke