jika saya boleh berpendapat mending nontonn tv berlangganan saja, dari pada anak - anak balita kita meniru pakaian sekolah pada sinetron - sinetron, berbicara kasar seperti karakter - karakter sinetron. menonton tv berlangganan akan lebih banyak memberikan pengetahuan dari kanal - kanal siaran yang tersedia sesuai pilihan kita, misalnya anak balita kita pilihkan kanal tv yang memutar kartun, ato anak usia sekolah kita pilihkan kanal musik atau ilmu pengetahuan.
--- On Mon, 3/16/09, muhamad kundarto <[email protected]> wrote: From: muhamad kundarto <[email protected]> Subject: [kendal-online] Sinetron SS : shock dan sadis ! To: [email protected], [email protected], [email protected], "milist dosen UPN" <[email protected]>, "alumni faperta" <[email protected]> Cc: [email protected] Date: Monday, March 16, 2009, 8:42 PM Entah perkembangan jaman yang memang sudah masanya. Entah karena tuntutan pemirsa agar rating meningkat. Entah pula karena penulis naskah yang bernafsu menggoncang jiwa pemirsa. Akhir-akhir ini adegan-adegan dalam sinetron TV cenderung membuat jantung berdegub mendadak karena ritme cerita berubah frontal tiap hari. Peristiwa tertabrak mobil, berlumuran darah, sakit kanker, meninggal, pembunuhan, hamil diluar nikah, kawin muda, cerai sampai kekerasan fisik seperti menempeleng; menjadi adegan yang bisa dilihat setiap hari. Dan hebohnya, kadang si pelaku yang menempeleng ini kebanyakan merupakan kaum hawa, yang secara pakem kahuripan berkonotasi kelembutan dan kehalusan. Ada apa ini? apa terinspirasi geng pelajar yang melakukan adu jotos untuk seleksi anggota barunya? Memang bagi orang-orang super sibuk dan kaum pinter biasanya jarang menyentuh tontonan sinetron ini. Namun tak bisa dipungkiri bahwa banyak ibu-ibu, pembantu, anak-anak dan mungkin juga bapak-bapak yang asyik menonton sinetron tiap hari. Bahkan tidak jarang emosi mereka sering 'tumpah' sesuai alur cerita. Tayangan reality show juga dibuat mirip sinetron. Aib rumah tangga dibuka tanpa tudung lagi dengan alasan ilmiah : demi mencari dimana anggota keluarganya, demi mengetahui bagaimana sosok sebenarnya orang yang dia cinta, dst. Kalau sudah begini, kita harus bagaimana? tayangan TV sudah masuk ke ruang keluarga kita. Dalam keluarga pun rasanya jarang berantem gara-gara rebutan tayangan. Pukul 18.00-23.00 mutlak dikuasai oleh beberapa sinetron. Memang ada tayangan humor yang membuat rileks otot penat seharian tadi, tapi agaknya masih kalah kuantitas dari jumlah tayangan sinetron-sinetron itu. Bagi yang menentang, mungkin suara hatinya mengeluarkan sumpah serapah, tak tahu kemana harus mengadu dan bagaimana solusinya. Tapi bagi mereka yang sudah tergiur dan terbius tayangan sinetron ini, segala macam agenda harus disesuaikan dengan jadwal tayang sinetron. Memang sich, terkesan anggota keluarga terlihat anteng di dalam rumah. Tapi tahukah kita bahwa secara lambat dan pasti, tayangan itu akan mempengaruhi 'way of life' pemirsanya. Pola hidup konsumerisme (baca: hidup untuk belanja) dan Pola hidup mewah (baca: serba mercy euy!) adalah misi minimal yang terselubung dalam tayangan itu. Mereka kadang gak sadar bahwa panjang pendeknya cerita akan tergantung bagaimana ratingnya. Dulu ada Tersanjung sampai 5 episode, sekarang ada Cinta Fitri 3, dst. Cerita akan sengaja dicampur aduk dan diperlama jika memang pemirsa masih gandrung. Padahal yang menonton sudah geram setiap hari, larut dalam emosi pemain sinetronnya. Weleh-weleh, trus njuk kepiye lelakone sesuk nggih.... (read: what next ourlife?) Ki Asmoro Jiwo

