Hehe.... Aku jadi ingin cerita masa lalu Waktu aku SD-SMP, aku mengaji di Kyai NU, gak lama sich, tapi lumayan dapat ilmu tajwid (cara membaca tartil). Kadang sesekali ikut Barzanji (?), pokoknya mbaca, gak tahu artinya apa. Pernah juga mau mulai nahwu shorof (fa ala yaf ulu fak lan dst..), tapi hanya di awal saja. Selama ngaji di sini, hampir gak pernah beda isi kitab al qur an atau hadits Paling banter ndengerin kyai yang ceramah.... Waktu SMA, sekolah di Muhammadiyah dan organisasi PII Kendal. Style pengajiannya jauh beda. Di sini setiap peserta dipacu bisa kultum dengan berdasarkan 1 ayat dari Quran atau hadits. Kita main baca arabnya, lalu terjemahan. Kadang terjemahan aja. Lalu berusaha menafsirkan sesuai dengan kemampuan kami yang terbatas. Kadang jika mentok di tanyakan ke Kyai. Kyai juga beda-beda lho... hehhe... Style di sini kebanyaknya tajwidnya ancur hehhe.... Itulah sekelumit cerita lalu yang berasal dari dunia non pondokan/pesantren, jadi kajiannya gak mendalam banget. skarang, gimana baiknya? - apakah belajar runtut sampai mungkin gak tuntas, TANPA berani menafsirkan? - apakah belajar tafsir, sambil sesekali minta rujukan ke narasumber? - apakah cukup puas dengan tadarus tanpa tahu maknanya? Kalo dari pemahamanku yang nekad ini, ayat tadi cukup pas untuk rujukan pacaran di dalamnya tersirat perintah bersilaturahmi (kenal mengenal), tapi warningnya "orang yang paling mulai adalah orang yang bertaqwa". ya artinya silaturahmi yang menjurus pada peningkatan taqwa. itu mas....... Atau silahkan para alim di milist ini untuk jangan pelit menebarkan ayatNYA..... buat pencerahan kita yang terlanjur abangan ini....
Muhamad Kundarto HP: 08180 272 6112 http://mkundarto.wordpress.com/ --- On Fri, 4/3/09, Budiyanto <[email protected]> wrote: From: Budiyanto <[email protected]> Subject: Re: [kendal-online] AYAT untuk Pacaran To: [email protected] Date: Friday, April 3, 2009, 9:58 PM Assalamu 'alaikum Berpendapat tentang tentang ma'salah aqidah apalagi menafsirkan AYAT, menurut kaidah ushul, tidak boleh dan dilarang menggunakan akal saja sebagaimana mas Kundarto berpendapat " setahuku ya...." tetapi diwajibkan menggunakan dalil, maksudnya yang paling afdhol adalah menerjamahkan AYAT dengan hadits, demikianlah pandangan salafush sholih yang sampe ke kita sampe hari ini. Apalagi bagi yang tidak mengerti mufrodat AYAT. kalo tidak ketemu hadits yang menafsirkan AYAT, masih ada syarat dan ilmu lain yang harus dipahami/dipelajari untuk menafsirkan AYAT dan ini memerlukan rujukan-rujukan. untuk al-Hujurot:13 sebaiknya jangan dipahami secara makna kontekstual saja (makna terjemahan Depag) tetapi pahamilah secara klausulnya dan mungkin bisa dipelajari dalam tafsir IBNU KATSIR atau kalo masih kurang bisa dilanjut dengan tafsir At-thobari. "Ya Allah janganlah engkau hukumi kami jika tersalah atau terlupa" Wassalamu 'alaikum Budiyanto 2009/4/2 muhamad kundarto <mask...@yahoo. com> setahuku ya Al Hujuraat : 13 baca deh.......

