Assalamu 'alaikum

agak susah juga ya...dari sisi mana mulainya kalo sudah melebar gini, karena
dari penjelasan dan uraian dibalas dengan crita pengalaman. bukan sesuatu
yang jelek memang, tapi kaidahnya sudah lepas.

Ma'af pa Pur... mau jlentrehkan yang 1 dulu deh, masalah silaturahim (kalo
dibaca) dan silaturahmi (kalo ditulis).
dan makna silaturahim ini sangat jarang sekali dipahami menurut makna
sebenar-benarnya bahkan sudah salah kaprah kalo menjadi ucapan dan
pengertian kita sehari-hari.

silaturahim menurut bahasa asalnya terdiri dari 2 kata yang mempunyai makna
tunggal yang tidak bisa dipisahkan, ini ditinjau menurut kaidah tata bahasa
asalnya. Bentuk mufrodatnya adalah Silatun yang maknanya menyambung dan
ar-Rahmi adalah tempat dimana kita makan dan minum selama kurang lebih 9
bulan. susunan tata bahasa asalnya seperti ini, Silatun disebut mudhof
(artinya yang disandarkan) dan ar-Rahmi disebut mudhofun ilaih (artinya yang
disandari). makna yang lebih mendekati arti bahasa asalnya (insya Allah)
adalah menjalin/ menyambung hubungan rahim. apa rahim itu yaitu ar-Rahim.
jadi kalo orang tidak pernah makan minum satu rahim maka tidak termasuk
dalam makna kata ini dan erat hubungannya hadits yang artinya : "tidak akan
masuk surga orang memutus (yang tidak menyambung) tali silaturahim."

banyak orang berkata "sesama .... itu bersaudara" (isi sendiri yaaa
titiknya). ini dalilnya banyak sekali dalam Al-Qur'an dan dihadits
diantaranya "INNAMAL MUKMINUNA IKHWAN" 'INNAMAL MUSLIMUNA IKHWAN". kalo saya
berkata " Antum ikhwani" semua diKOL sini saudaraku.

mungkin dari sini ada gambaran kalo ayat Al-Hujurot ... bukan untuk dalil
pacaran. kecuali kalao ta'aruf (saling mengenal) diperlakukan sama dengan
pacaran, maka kaidah  tafsirnya boleh jadi pake Hernemeutika. dan kalo itu
yang dipake, yah ....

"Ya Allah janganlah engkau hukumi kami jika tersalah atau terlupa"

Wasalamu 'alaikum
Budiyanto

Pada 8 April 2009 07:51, vakvoer <[email protected]> menulis:

>   Nuwun sewu .. kok jadi pengen ikut komentar ..
> Mungkin ada baiknya didefinisikan dulu secara rinci dan komplit .. apa itu
> pacaran ? penjelasan memasukkan unsur ruang, waktu (jam, era/jaman), alat
> (perangkat), tindakan, ijin orang tua, biaya, lingkungan, dan kesehatan
> (jiwa dan raga). Penjelasan ini harus future proof, karena Al-Quran jelas
> future proof .. jadi biar nyambung gitu .. nah, nanti tinggal dipilih .. mau
> ya atau tidak, menurut Quran tentunya. Kalau menurut manusia, mah ... bisa
> fleksibel atuh .. hehe ..
> Monggo kalau ada yg mau "menjlentrehkan" ... (bhs opo kui) :D
>
> Salam
> PakPur
>
>
> --- In [email protected] <kendal-online%40yahoogroups.com>,
> muhamad kundarto <mask...@...> wrote:
> >
> > Hehe....
> > Aku jadi ingin cerita masa lalu
> >
> > Waktu aku SD-SMP, aku mengaji di Kyai NU, gak lama sich, tapi lumayan
> dapat ilmu tajwid (cara membaca tartil). Kadang sesekali ikut Barzanji (?),
> pokoknya mbaca, gak tahu artinya apa. Pernah juga mau mulai nahwu shorof (fa
> ala yaf ulu fak lan dst..), tapi hanya di awal saja.
> > Selama ngaji di sini, hampir gak pernah beda isi kitab al qur an atau
> hadits
> > Paling banter ndengerin kyai yang ceramah....
> >
> > Waktu SMA, sekolah di Muhammadiyah dan organisasi PII Kendal. Style
> pengajiannya jauh beda. Di sini setiap peserta dipacu bisa kultum dengan
> berdasarkan 1 ayat dari Quran atau hadits. Kita main baca arabnya, lalu
> terjemahan. Kadang terjemahan aja. Lalu berusaha menafsirkan sesuai dengan
> kemampuan kami yang terbatas. Kadang jika mentok di tanyakan ke Kyai. Kyai
> juga beda-beda lho... hehhe...
> > Style di sini kebanyaknya tajwidnya ancur hehhe....
> >
> > Itulah sekelumit cerita lalu yang berasal dari dunia non
> pondokan/pesantren, jadi kajiannya gak mendalam banget. skarang, gimana
> baiknya?
> > - apakah belajar runtut sampai mungkin gak tuntas, TANPA berani
> menafsirkan?
> > - apakah belajar tafsir, sambil sesekali minta rujukan ke narasumber?
> > - apakah cukup puas dengan tadarus tanpa tahu maknanya?
> >
> > Kalo dari pemahamanku yang nekad ini,
> > ayat tadi cukup pas untuk rujukan pacaran
> > di dalamnya tersirat perintah bersilaturahmi (kenal mengenal), tapi
> warningnya "orang yang paling mulai adalah orang yang bertaqwa". ya artinya
> silaturahmi yang menjurus pada peningkatan taqwa.
> > itu mas.......
> >
> > Atau silahkan para alim di milist ini untuk jangan pelit menebarkan
> ayatNYA.....
> > buat pencerahan kita yang terlanjur abangan ini....
> >
> >
> >
> > Muhamad Kundarto
> > HP: 08180 272 6112
> > http://mkundarto.wordpress.com/
> >
> >
> >
> > --- On Fri, 4/3/09, Budiyanto <hr2fat...@...> wrote:
> >
> >
> > From: Budiyanto <hr2fat...@...>
> > Subject: Re: [kendal-online] AYAT untuk Pacaran
> > To: [email protected] <kendal-online%40yahoogroups.com>
> > Date: Friday, April 3, 2009, 9:58 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Assalamu 'alaikum
> >
> > Berpendapat tentang tentang ma'salah aqidah apalagi menafsirkan AYAT,
> menurut kaidah ushul, tidak boleh dan dilarang menggunakan akal saja
> sebagaimana mas Kundarto berpendapat " setahuku ya...." tetapi diwajibkan
> menggunakan dalil, maksudnya yang paling afdhol adalah menerjamahkan AYAT
> dengan hadits, demikianlah pandangan salafush sholih yang sampe ke kita
> sampe hari ini. Apalagi bagi yang tidak mengerti mufrodat AYAT. kalo tidak
> ketemu hadits yang menafsirkan AYAT, masih ada syarat dan ilmu lain yang
> harus dipahami/dipelajari untuk menafsirkan AYAT dan ini memerlukan
> rujukan-rujukan.
> >
> > untuk al-Hujurot:13 sebaiknya jangan dipahami secara makna kontekstual
> saja (makna terjemahan Depag) tetapi pahamilah secara klausulnya dan mungkin
> bisa dipelajari dalam tafsir IBNU KATSIR atau kalo masih kurang bisa
> dilanjut dengan tafsir At-thobari.
> >
> > "Ya Allah janganlah engkau hukumi kami jika tersalah atau terlupa"
> >
> > Wassalamu 'alaikum
> > Budiyanto
> >
> >
> > 2009/4/2 muhamad kundarto <mask...@yahoo. com>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > setahuku ya Al Hujuraat : 13
> >
> > baca deh.......
> >
>
>  
>

Kirim email ke