Ass. wr. wb.,
Maaf lama tidak ikut nulis di KOL, di bawah ini saya forwardkan tulisan tentang
Boediono dari milis tetangga, semoga bermanfaat.
Tidak ada maksud apa-apa kecuali agar kita dapat bersikap lebih adil:
"Janganlah kebencianmu kepada seseorang menghalangimu untuk berbuat adil"
Sukses selalu buat kendal dan warganya, amin
Wassalam,
Mudasir
Department of Chemistry
Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Gadjah Mada University, Sekip Utara
PO Box Bls 21, Yogyakarta 55281
Indonesia
HP:(+62)-811-251267
Fax:(+62)-274-5451
tentang pak Boediono, dari millist sebelah:
Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal...
/Jumat, 15 Mei 2009 | 10:22 WIB
Oleh Faisal Basri *
Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang
enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an.Kalau tak salah,
judul-judul bukunya selalu diawali dengan kata ”sinopsis”, ada Sinopsis
Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, SinopsisEkonomi Moneter, dan Sinopsis
Ekonomi Internasional. Kita mendapatkansaripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya
yang mudah dicerna.
Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi
buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa
menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat
Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis
buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan
setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintahan
Ibu Megawati.
Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian)
bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” dibawah
pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhanekonomi mengalami
peningkatan terus-menerus.
Di tengah ingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan
oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata
perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja
keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi
pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen,tertinggi sejak krisis hingga
sekarang.
Selama dua tahunpertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami
kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet,sejumlah
kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed
agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar
lebih afdol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak
mereka, Ibu bisa turut luluh denganpengharapan mereka.
Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin
sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed
dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang
muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk
mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang
Susantono, dan banyak lagi.Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.
Interaksilangsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota
Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi EkonomiPresiden (anggota
lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani
Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang
saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak
Boed tak pernah mau menonjolkan diri walau ia sempat jadi menteri pada masa
transisi.
Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak
mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-
nyerempet,”jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak
Boedmenjelek- jelekkan orang lain, bahkan sekadar mengkritik sekalipun.
Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di
Kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak
memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang
terkatung-katung.
Suatu waktu menjelang Lebaran,Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak
salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak
Boed wanti-wantikepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan
hasil kajian yang telah mereka buat.
Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang
konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah… Keesokan harinya, saya
membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres,
semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.
Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau
berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas
Anggito.
Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed.
Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri
Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari
kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendirimobil tua mereka.
Kedua, saya dan istri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di supermarket
dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja.
Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu
adalah seorang Menko.
Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di
Bandara Soekarno-Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu)
bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed.
Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap
rendah hati dan kesederhanaannya.
Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia
mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang
terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di
senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI
sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan
mobil para deputi dan deputi senior lebih mewah dari mobil dinas gubernur.
Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan
Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan
Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong
sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi
di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.
Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antekIMF, simbol
Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya?
Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali
ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa
langka di negeri ini.
Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan,
bagi kemajuan Bangsa.
***
Tulisan ini ditayangkan dalam blog pribadi Faisal Basri di Kompasiana
:
________________________________
Recent Activity
* 1
New Members
* 1
New PollsVisit Your Group
Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.
Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
.