oleh karenanya Tuhan memberikan kita hati dan logika, bacalah semua yang ada... dengan logka dan hati kita.
nafsu+logika+hati = manusia nafsu - logika - hati = kodok ASROFI Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal Mobile : +6281 311 661 479 Yahoo : asrofism G-Talk : [email protected] Email : [email protected] Blog : www.asrofi.web.id Office : www.sentraproperty.com 2009/7/6 Sang Lakon <[email protected]> > > > > Mbah Kund, memang faham latah sangat membudaya, dibendung atau tidak, di > tolak atau tidak. > kelatahan memang sampai pada taste lidah, misalnya untuk memanggil ortu, > anak kita kita biasakan mengucapkan pama-mama, bukan bapak-ibu. > > Tapi beberapa hal yg aku pelajari ketika dari tenaga IT di perusahaan asing > adalah kalo bisa cepat kenapa pelan, dan waktu di sma negeri kendal dulu ada > guru matematika Pak Faizin, selalu memacu siswanya dengan kalimat biar cepat > asal benar. rasanya kita mesti kaji ulang budaya mana yg harus dijadikan > pakem dan dilestarikan, serta budaya yang dipeti-eskan. > Aku pribadi sering terhambat dalam berbisnis, hanya karena rekan ungkapan2 > semacam: > 1. alon alon waton kelakon. > 2. rak masalah, wong njowo salah sithik biasa. > 3. isaku iki, gelem ra gelem yo ngene iki. > 4. mbiyen mbahku ngene wae yo lancar, ora usah neko-neko to > dan lain-lain. > ini adalah jebakan yang secara turun-temurun entah sampe kapan menjadi > bahaya laten bahayanya nomor 2 setelah PKI. > > Budaya barat juga buanyak yang negatif, bahkan menggirin kepada jahiliyah, > sehingga kita harus waspada dan tanggap minimal dengan apa yang terjadi di > keluarga kita. > > kendal maju terus!!! > warm regards from coolest peak on Lawu, > Himawan > > > > --- On *Sun, 7/5/09, [email protected] <[email protected]>* wrote: > > > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: [kendal-online] Budaya Salah Naroh bin Salah Kaprah > To: "milist alumni" <[email protected]>, "milist dosen UPN" < > [email protected]>, "kendal online" < > [email protected]>, "rori channel" < > [email protected]>, "endah bappeda" <[email protected]>, > "avie kusnadi" <[email protected]>, "heni sosek" <[email protected]>, > "sri hudyastuti" <[email protected]>, "Arief Yuwono" <[email protected]>, > "Didin Sastrapradja" <[email protected]> > Cc: "wiwie buss" <[email protected]>, "alumni faperta" < > [email protected]> > Date: Sunday, July 5, 2009, 4:03 PM > > > > Entah disadari atau tidak, perpindahan budaya atau kebiasaan yang > 'tidah empan papan' (baca: tidak pada tempatnya) akan memberikan fenomena > yang mengundang senyum dan geleng kepala dari mereka yang tahu duduk > perkaranya. > Berikut ini beberapa fenomena menarik itu.... > > Pertama, kaum bule di negara 4 musim sana sering memakai pakaian minim > (menurut kita: sexy) pada saat musim panas, dengan satu alasan : gerah. > Mereka juga suka berjemur dengan bikini di panas matahari pagi, dengan > tujuan agar kulitnya bisa agak kecoklatan dikit. Mungkin warna kecoklatan > bagi mereka akan terasa lebih sexy pula. > Nah, ternyata budaya bule berpakaian minim itu tanpa sadar banyak diadopsi > oleh kaum hawa di negara ketimuran ini. Entah mereka tahu atau tidak bahwa > kita negara tropis yang mataharinya mudah menghitamkan kulit yang sudah > coklat. Lucunya, sekarang ini banyak kaum hawa naik motor dengan model kaos > tank top (tanpa lengan) dan atau celana pendek. Kaum adam sich dijamin mak > nyuss lihatnya. Tapi sadarkah bahwa si cewek itu akan cepat sekali berubah > warna kulit lengan dan pahanya menjadi semakin hitam. > Terhadap fenomena ini, sering kuceritakan anekdot bahwa "ternyata perempuan > itu lebih tanah masuk angin daripada lelaki, tuh buktinya lelaki selalu pake > jaket pas naik motor, si perempuan malah seperti tanah panas (di siang hari) > dan dingin (di malam hari) dengan memakai baju minim...". Anekdot ini bukan > untuk diprotes...... > > Kedua, negara dingin biasanya punya budaya minum minuman penghangat (baca: > beralkohol). Juga para nelayan yang terapung pada perahu di tengah lautan > beberapa hari, sering menenggak minum beralkohol. Tujuannya agar badan lebih > tahan terhadap hawa dingin yang menusuk tulang. Celakanya, kita yang di > negara tropis ini latah ikutan minum. Padahal kita sudah sumuk/gerah tiap > hari. Jadilah yang panas akan semakin panas. > > Ketiga, saat kita melihat film barat menampilkan pakaian bandit atau jagoan > berbentuk jaket menjuntai sampai lutut. "Wah kerenn....." pikir kita yang > nonton. Akhirnya kita ikutan berjaket seperti itu. Begitu juga jaket kulit. > Mungkin cukup tepat jika dipake berkendara motor karena memang badan kita > perlu perlindungan dari angin kencang. Lha ini kadang jaket tebal dan mudah > membuat sumuk, kok dipake hanya buat mejeng doank...... > > Keempat, sistem demokrasi mengenal aturan one man one vote (baca: satu > orang, satu suara). Ini dipake di negara barat yang memang di sana > kesetaraan hanya dipandang dari jumlah kepala saja. Beda dengan budaya > ketimuran, dimana apabila pak Kyai mengatakan A maka ratusan santrinya akan > ikut mengatakan A, dimana apabila Sultan mengatakan "jangan" maka jutaan > rakyatnya akan patuh tidak melanggar, dimana saat kepala suku mengatakan > "OK" maka warga suku itu akan tunduk dan patuh. Akan salah dan kurang tepat > apabila bobot contrengan sang kyai sama dengan santrinya, atau bobot sultan > sama dengan rakyatnya, atau bobot kepala suku sama dengan warganya. > So, jangan terlalu muluk-muluk memimpikan kriteria pemimpin itu seperti > apa, karena semua akan tergantung siapa pencontrengnya. Kalo mayoritas > pencontreng memilih hanya karena kegantengan/kecantikan, ya para pakar > ngupasnya jangan kejauhan sampai visi misi dan program kerja 100 hari segala > hehhee. > > Kelima, pakaian resmi orang bule biasanya ber-jas dan berdasi. Kita pun > latah menirunya. Akhirnya malah megap-megap kepanasan karena dipake bukan > pada tempat yang ber-AC. Kenapa pakaian resmi tidak memakai batik saja, yang > semriwing alias isis alias suejuk. Mungkin simbah buyut kita sudah tahu > bahwa lingkungan kita mudah membuat sumuk bin gerah, makanya diciptakan > pakaian yang ventilasinya mak nyuss. > > Keenam, model rumah modern biasanya kebarat-baratan. Satu yang sering latah > dilakukan adalah rumah tanpa pyan (emperan), sehingga jika hujan akan mudah > ketampu (air hujan masuk lewat ventilasi). Ingatlah bentuh rumah warisan > leluhur yang biasanya berbentuk limas dan joglo, dimana atap bagian sisi > selalu disisakan sekitar 1 meter sebagai pelindung hujan dan terik matahari. > Lha mbok yao, mencermati bangunan rumah peninggalan walondo di Indonesia > yang selalu bertembok tebal dan ukuran dinding-pintu-jendela super besar. > Ternyata disain itu berorientasi pada sirkulasi udara agar sejuk. Dengan > kata lain bangunan itu hasil adaptasi pada lingkungan tropis ini. > > Ketujuh, beberapa waktu lalu kita heboh seperti anti pada poligami dan > pernikahan dengan pasangan di bawah umur (baca: masih remaja). Berita gosip > di TV membombardir yang berkesan itu dilarang dan tidak pantas. Seakan kita > terlupakan pada sejarah masa lalu, dimana para raja atau pejabat negara > sudah terbiasa dengan beristri banyak. Yang perlu diprotes mungkin model > poliandri, dimana 1 istri dengan suami banyak. Kita juga lupa bahwa mbah > buyut kita doeloe, atau masih ada juga budaya di pelosok desa, sudah biasa > menikahkan anak perempuannya pada usia di bawah 17 tahun. Lha kok doeloe gak > ada yang protes yaaa? Yang perlu diprotes harusnya yang sex bebas atau hobby > jajan. Memang wolak waliking jaman, ya, jamane wis kuwalik (baca: semakin > maju jaman malah aturan semakin tidak jelas). > > Hukum sosial memang sangat dinamis dan sulit dimengerti oleh ahli hukum > sendiri, karena memang seiring waktu "yang boleh" bisa menjadi "tidak boleh" > atau malah kembali lagi menjadi "boleh"..... > > Ki Asmoro Jiwo > > > > > >

