Temen2 kol,
yen boso kendale kelereng/gundu iku 'setin' aku eling.

Yen dolanan sing bentuke wayang2an soko plastik keras, dolalane model
koyo 'setin' iku opo yo jenenge?

Penasaran, pls help :)

suwun-
sinur

On 8/6/09, ASROFI <[email protected]> wrote:
> ASROFI
>
> Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
> Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
> Selatan
> Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal
>
> Mobile  : +6281 311 661 479
> Yahoo : asrofism
> G-Talk : [email protected]
> Email : [email protected]
> Blog : www.asrofi.web.id
> Office : www.sentraproperty.com
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Joko Jorindo <[email protected]>
> Date: 2009/8/6
> Subject: APA YANG KITA SOMBONGKAN?
> To: ENI <[email protected]>
> Cc: [email protected], [email protected],
> [email protected], "Siliasih, Roro" <
> [email protected]>, Richard S Oentoro <[email protected]>,
> [email protected], [email protected], [email protected], Yuddy
> Nassay <[email protected]>, YPI BINTARO <[email protected]>,
> Yunan Novaris <[email protected]>, uly rattan
> <[email protected]>,
> muhamad ifan <[email protected]>, Indriawan <
> [email protected]>, [email protected], Ina Astari Utaminingsih <
> [email protected]>, [email protected], Purbo Wahono <[email protected]>,
> "Venantin Nining R.A" <[email protected]>, [email protected], ASROFI <
> [email protected]>, Andhika <[email protected]>,
> [email protected], suratno <[email protected]>,
> [email protected], "Supardi, Supriyanto / Kuehne + Nagel / Jkt VC" <
> [email protected]>, Sylvia Chen/Maxlines <
> [email protected]>, "Dalimonthe, Nurry" <
> [email protected]>, [email protected], Gunawan <
> [email protected]>, Helmi Yulita <[email protected]>, "Hidayat,
> Lukman" <[email protected]>, [email protected], Chuldan
> Imansyah <[email protected]>,
> [email protected],
> [email protected]
>
>
>
>
>
>
> Dari milis tetangga, semoga bermanfaat
>
>
>
> APA YANG KITA SOMBONGKAN?
>
> Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat
> Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat
> lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan
> keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"
>
> Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
> nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka
> pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa
> menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu,
> saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."
>
> Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang
> benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.
>
> Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor MATERI. Kita merasa
> lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
>
> Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor KECERDASAN. Kita merasa
> lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
>
> Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor KEBAIKAN. Kita sering
> menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
> dibandingkan dengan orang lain.
>
> Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita
> mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong
> karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena
> seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.
>
> Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang
> lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan
> kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini
> berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan
> kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
>
> Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu EGO di satu kutub dan
> KESADARAN sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam
> keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu,
> kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan
> dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih
> banyak lagi.
>
> Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego
> inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan
> kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.
>
> Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju KESADARAN sejati.
> Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan
> paradigma yang perlu kita lakukan.
>
> Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah MAKHLUK
> FISIK, tetapi MAKHLUK SPIRITUAL. Kesejatian kita adalah spiritualitas,
> sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir
> dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
> Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam
> kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,
> label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak
> dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai
> kesombongan atau ilusi ego.
>
> Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan,
> semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan
> sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini
> berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak
> akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang
> lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk
> persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.
> Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat
> baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan ?
>
>
>

Kirim email ke