Tiap orang mendambakan kriteria yang ideal buat pasangannya. Dari ukuran wajah,
anggota tubuh, materi, sifat, dll; kesemuanya punya alasan tersendiri. Namun
banyak orang juga terlalu gegabah menentukan pasangan tanpa berkaca pada
kondisi dirinya sendiri. Ibarat bernafsu beli kulkas padahal di desanya belum
ada listrik. Ibarat pengen punya HP padahal di desanya belum ada sinyal yang
masuk.
Artinya, menentukan pasangan harus disesuaikan dengan SIAPA yang dipasangkan.
Makna pasangan artinya separoh bagian yang harus 'klik' manakala dipasangkan
dengan bagian yang lain. Boleh jadi perhiasan emas permata sangat cocok
dipakai, tetapi menjadi tiada bermakna apabila si pemakai menjadi pertapa
(baca: bertahun-tahun tidak ketemu orang lain). Makna hakekat perhiasan adalah
untuk dipandang oleh orang lain.
Boleh jadi orang yang cerdas, banyak ide dan hoby memerintah adalah pasangan
yang menarik; tetapi menjadi kontraproduktif apabila pasangannya juga mempunyai
karakter yang sama. Jadilah tiap hari bersitegang karena sama-sama ingin
memerintah dan tidak mau diperintah. Maka dicarilah kriteria pasangan yang
saling melengkapi. Karakter umum lelaki adalah suka terima tantangan dan mudah
bosan pada kemapanan. Karakter umum perempuan adalah suka menjaga kemapanan dan
sering tidak berani mengambil resiko yang terlalu besar.
Kriteria yang lebih spesifik ibarat Im-Yang, dingin-panas, pendiam-cerewet,
manja-mengayomi, keras kepala - lembut/penyabar, dll.
Sebelum menentukan bagaimana pasangan, lebih baik secara tepat MEMBACA diri
sendiri. "Menurut anda, siapakah anda ini?" begitu pertanyaan awal yang harus
dijawab oleh batin secara tulus ikhlas. Langkah berikutnya menentukan karakter
yang pas dan saling melengkapi dengan karakter diri sendiri.
Karakter orang juga tidak boleh monoton, karena salah satu sifat manusia dan
merupakan bawaan orok adalah "manusia mudah merasa bosan". Maka, dibutuhkan
kedinamisan sifat dengan bentuk perubahan menyelaraskan perubahan yang dialami
oleh pasangan. Kita tidak selamanya tegar, kadang juga rapuh, sedih dan bahkan
kekanak-kanakan. Orang yang rapuh butuh pertolongan dan ketegaran. Orang yang
sedih butuh sumber kegembiraan. Orang manja butuh pihak yang mau memanjakan.
Tidak selalu yang tua mengalah terus. Tidak selalu yang muda tidak bisa tampil
sangat dewasa. Tidak selalu si cewek manja melulu, kadang lelakipun butuh
dimanjakan.
Artinya, seseorang harus belajar menjadi figur yang multi karakter. Kadang dia
sangat dewasa, manakala pasangannya sangat rapuh dan butuh bimbingan. Kadang
dia sangat ceria dan lucu, manakala pasangan butuh teman bermain. Dan
seterusnya.
Manajemen konflik juga butuh kedinamisan. Terkadang rayuan tertentu akan ampuh
pada saat ini, tetapi sangat menyebalkan manakala selalu diulang-ulang.
Terkadang menasehati tidak selalu dengan menyalahkan, kadang kita perlu
mengajak pasangan ke peristiwa lain tempat yang bermakna nasehat, misalnya
nonton film dengan hikmah tertentu. Terkadang kita harus terdiam manakala
pasangan sedang dalam puncak pe-ngomel-an.
Terakhir, kadang kita begitu sangat toleran pada teman dan sahabat pada sesuatu
kekurangan atau kegagalan. Tapi, kadang kita terlalu bernafsu untuk menyalahkan
dan mengatur manakala pasangan melakukan hal yang sama. Di sinilah kita perlu
membangun jiwa besar, sehingga ritme hidup selaras dengan gelombang-riak aliran
air kehidupan yang serba misteri dan butuh kewaspadaan.
Selasa, 6 Oktober 2009 pukul 23.30 WIB
Ki Asmoro Jiwo