Kalau menurut mas-mas dan mbak-mbak (ono mbak2e ra yo??hehe) lebih baik mempertahankan pelanggan lama atau mencari pelanggan baru??minta pendapatnya saja..
best regards, Zakie Z. Anshori Jl. Masjid Al-Muttaqin RT5/RW2 Sukolilan Patebon Kendal 51351 --- Pada Sen, 18/1/10, Agus Muhajir <[email protected]> menulis: Dari: Agus Muhajir <[email protected]> Judul: Re: [kendal-online] "Salam Sepur...!", Sebuah Dialog Bangun Tidur Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Cc: "[email protected]" <[email protected]> Tanggal: Senin, 18 Januari, 2010, 6:21 PM Maaf, rumah ku jg diutara rel sepur . . ;-D Mgkin memang ada warung yg seperti itu, tp jika tidak memikirkan kualitas, jg akan percuma. Karena uang utk biaya 'wes e wes' penglaris, jg gak sedikit. Biasanya ada refill terus tiap bulan. Sudah habis pikir ttg pesaing yg bnyak, refill 'wes e wes', mikir hidup, dan akhirnya lupa mikir hidupnya pelanggan lama. Yg penting bnyak pelanggan baru terus. Payah, itu namanya gagal mempertahankan pelanggan. Ingat, bisnis bukan hanya mendapatkan uang banyak. Yg datang pun udah bukan orang lokal sekitar warung, tp jauh2. Semakin terkenal, kualitas harusnya lebih terjamin. Bukan begitu? _hajir_ sisfokol developer http://sisfokol. wordpress. com Muhammad Nur wrote: > Mas yusuf, dari hasil survey itu, apakah terliat yg memakai 'klenik' > lebih laris dr yg tidak? > Saya kbtl ada warung bakso di xwungu yg pernah jaya di thn 80-90an yg > dikelola oleh kakak saya dan skrng dpt dying krn bnyknya bermunculan > warung2 bakso yg baru. Menurut kakak saya, bnyk dr warung2 bakso baru > itu memakai 'penglaris' yg selama ini tidak bisa saya terima > informasinya. Setelah membaca tulis sampeyan koq jadinya 'penglarisan' > spt hal yg lumrah. > Bisa tolong ditanyakan ke temennya, bagaimana caranya dia dalam survey > shg bisa dpt kesimpulan 'optional method' tsb? > Maturnwuwun sblmnya. > Salam mrt (sepure kene) hehehe > On 1/16/10, Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com> wrote: >> "Salam Sepur...!", Sebuah Dialog Bangun Tidur >> ------------ --------- --------- --------- ------ >> >> (Judul tulisan ini tidak salah tulis). Seorang teman yang berniat buka >> warung mi di Jogja, sengaja datang dari Jakarta ke Jogja untuk melakukan >> survey kecil-kecilan. Sesuai namanya, kecil-kecilan, pasti bebas dari >> tetek-bengek teori, rumusan, pedoman atau formalitas lain yang semacam ini. >> Pokoknya datang ke Jogja, mampir ke beberapa warung bakmi yang dijumpai, >> memesan untuk mencicipi rasanya dan mencatat harganya, melakukan interview >> sederhana dan mempelajari lingkungannya. Begitu saja. >> >> Setelah kembali ke Jakarta, tiba-tiba suatu pagi teman saya itu membangunkan >> saya melalui SMS yang dikirimkannya dan menceritakan tentang kesimpulan >> hasil survey-nya. Kesimpulannya mencengangkan saya : Dari tujuh warung mi >> yang ditelisik, 50% memakai "optional method" agar dagangannya laris. Saya >> mengernyitkan kening : "Metode opo maneh iki (metode apa lagi ini)...?" (Ini >> pasti hitungan kasar, sebab 50% dari tujuh berarti ada tiga setengah warung, >> tentu susah dibayangkan) >> >> Hanya perlu beberapa detik untuk mengernyit, lalu saya pun tersenyum sendiri >> (lebih baik bangun tidur tersenyum sendiri ketimbang bangun tidur langsung >> uring-uringan) . Biar saya pertegas, rupanya yang dimaksud "optional method" >> oleh teman saya itu adalah metode "tulis reg spasi sajen, kembang atau >> dukun", kata lain untuk aplikasi software perklenikan. >> >> Harap dimaklumi, ini kesimpulan coro ndeso (ala kampung) yang tidak perlu >> dipertanyakan keabsahannya karena memang sampai kapanpun tidak akan pernah >> dapat dibuktikan, selain dipercaya saja bagi yang mempercayainya. Tentu >> teman saya itu punya alasan sendiri kenapa sampai berkesimpulan demikian, >> dan bukan sekedar katanya atau kelihatannya. Dan teman saya yang pada >> dasarnya tidak percaya dan tidak suka dengan aplikasi software perklenikan >> semacam ini, menghibur diri untuk tetap berpikir rasional. Lalu mengakhiri >> SMS-nya dengan kata-kata : "He..he..Salam Super!". Tanda bahwa dia >> menanggapinya sebagai bahan guyonan tapi semangat Mario Teguh. >> >> Sambil kucek-kucek mata, saya balas SMS-nya layaknya seorang 'tukang kompor' >> (orang yang suka ngompor-ngomporin) sekelas Mario Teguh agak di bawahnya >> banyak : "Selalu ada 'langkah tersembunyi' yang dapat dipertanggungjawabk an >> yang dapat kita lakukan. Dan tugas pebisnis sejati adalah menemukan dan >> mengimplementasikan hal itu". Saya pun tidak mau kalah mengakhiri balasan >> SMS saya dengan mengucapkan : "Salam Sepur...! (lurus, always on the right >> track, relatif lebih aman, murah dan cepat sampai tujuan...)". Lalu teman >> saya itu menimpali : "Asal sepurnya tidak nyerempet irrational thing".. >> >> Moral ceritanya adalah : Jangan karena kita tidak suka mengunakan software >> perklenikan lalu menyurutkan semangat untuk memulai usaha membuka warung, >> sebab selalu ada ‘langkah tersembunyi’ yang dapat dilakukan. Temukan itu, >> dan implementasikan. Lalu perhatikan apa yang terjadi. >> >> Kalau yang terjadi ternyata warungnya sepi dan kalah bersaing? Ya, berarti >> 'langkah tersembunyi' -nya belum ditemukan... (tanyakan kepada ahlinya dan >> jangan bertanya kepada 'tukang kompor' yang belum punya pengalaman nyata >> dalam bisnis perwarungan) . Hidup entrepreneur. ..! >> >> Yogyakarta, 16 Januari 2010 >> Yusuf Iskandar >> >> http://madurejo. wordpress. com >> >> >> >> > ------------ --------- --------- ------ > _____ http://www.KendalOn line.Net _____ > Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet > <!--Yahoo! Groups Links > Individual Email | Traditional > http://docs. yahoo.com/ info/terms/ "Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com"

