Mas Nur dan teman2 semua,

Terus terang saya tidak menganggap kesimpulan teman saya itu penting, dan 
karena itu saya merasa tidak perlu untuk bertanya lebih detil. Menurut saya 
esensinya adalah (seperti sudah saya sampaikan): Selalu ada 'langkah 
tersembunyi' yang dapat dipertanggungjawabkan (teknis, manajerial, dunia 
wal-akhirat) yang dapat kita lakukan.

Kita ingin menjadi pebisnis atau entrepreneur professional. Meski perkara 
'penglaris' (dan juga 'perbentengan diri') sudah menjadi rahasia umum, saya 
pikir baiknya sebagai pebisnis sejati kita kesampingkan dulu. Kalaupun mau 
diantisipasi, maka lakukan : Ketik reg spasi niat ibadah, kirim ke langit 
tingkat tujuh....

Lebih baik mempertahankan (baca : me-manage) pelanggan lama ketimbang menggaet 
pelanggan baru. Sebab me-manage pelanggan lama secara tidak langsung sudah 
'inklusif' menemukan pelanggan baru. Dengan kata lain, kebanyakan pelanggan 
baru bersumber dari kepuasan pelanggan lama. Kalau pelanggan lama dapat 
di-manage dengan baik, kita tinggal tidur saja dia akan tetap datang membeli. 
Tapi kalau fokusnya ke pelanggan baru, maka tidur pun otak kita sepertinya 
tetap bekerja.

Saya sungguh mengapresiasi kepada teman-teman yang sudah memulai dengan bisnis 
atau usahanya, betapapun kecil atau sederhananya usaha itu. Seperti kata teman2 
yang lain juga, selalu ada saat-saat pertama, selalu ada saat-saat masih kecil, 
masih ndeso, masih thunak-thunuk, masih thola-thole, masih ngah-ngoh, sebelum 
menjadi ruarrrr biasa. Bagaimana mungkin kita akan tahu rasa dan artinya sukses 
kalau kita tidak punya pembanding, tidak tahu rasa dan artinya tidak sukses 
atau belum sukses atau kejeblos peceren....  

Saya mendukung ide-ide untuk membangkitkan semangat entrepreneurship di 
kalangan warga KOL dimana saja berada.

Salam Sepur...! (lurus, always on the right track, relatif lebih aman, murah 
dan cepat sampai tujuan...)

Matur nuwun - Wass,
Yusuf



--- On Mon, 1/18/10, Muhammad Nur <[email protected]> wrote:

> From: Muhammad Nur <[email protected]>
> Subject: Re: [kendal-online] "Salam Sepur...!", Sebuah Dialog Bangun Tidur
> To: [email protected]
> Date: Monday, January 18, 2010, 2:42 PM
> Mas yusuf, dari hasil survey itu,
> apakah terliat yg memakai 'klenik'
> lebih laris dr yg tidak?
> 
> Saya kbtl ada warung bakso di xwungu yg pernah jaya di thn
> 80-90an yg
> dikelola oleh kakak saya dan skrng dpt dying krn bnyknya
> bermunculan
> warung2 bakso yg baru. Menurut kakak saya, bnyk dr warung2
> bakso baru
> itu memakai 'penglaris' yg selama ini tidak bisa saya
> terima
> informasinya. Setelah membaca tulis sampeyan koq jadinya
> 'penglarisan'
> spt hal yg lumrah.
> 
> Bisa tolong ditanyakan ke temennya, bagaimana caranya dia
> dalam survey
> shg bisa dpt kesimpulan 'optional method' tsb?
> 
> Maturnwuwun sblmnya.
> 
> Salam mrt (sepure kene) hehehe
> 
> On 1/16/10, Yusuf Iskandar <[email protected]>
> wrote:
> > "Salam Sepur...!", Sebuah Dialog Bangun Tidur
> > ---------------------------------------------
> >
> > (Judul tulisan ini tidak salah tulis). Seorang teman
> yang berniat buka
> > warung mi di Jogja, sengaja datang dari Jakarta ke
> Jogja untuk melakukan
> > survey kecil-kecilan. Sesuai namanya, kecil-kecilan,
> pasti bebas dari
> > tetek-bengek teori, rumusan, pedoman atau formalitas
> lain yang semacam ini.
> > Pokoknya datang ke Jogja, mampir ke beberapa warung
> bakmi yang dijumpai,
> > memesan untuk mencicipi rasanya dan mencatat harganya,
> melakukan interview
> > sederhana dan mempelajari lingkungannya. Begitu saja.
> >
> > Setelah kembali ke Jakarta, tiba-tiba suatu pagi teman
> saya itu membangunkan
> > saya melalui SMS yang dikirimkannya dan menceritakan
> tentang kesimpulan
> > hasil survey-nya. Kesimpulannya mencengangkan saya :
> Dari tujuh warung mi
> > yang ditelisik, 50% memakai "optional method" agar
> dagangannya laris. Saya
> > mengernyitkan kening : "Metode opo maneh iki (metode
> apa lagi ini)...?" (Ini
> > pasti hitungan kasar, sebab 50% dari tujuh berarti ada
> tiga setengah warung,
> > tentu susah dibayangkan)
> >
> > Hanya perlu beberapa detik untuk mengernyit, lalu saya
> pun tersenyum sendiri
> > (lebih baik bangun tidur tersenyum sendiri ketimbang
> bangun tidur langsung
> > uring-uringan). Biar saya pertegas, rupanya yang
> dimaksud "optional method"
> > oleh teman saya itu adalah metode "tulis reg spasi
> sajen, kembang atau
> > dukun", kata lain untuk aplikasi software
> perklenikan.
> >
> > Harap dimaklumi, ini kesimpulan coro ndeso (ala
> kampung) yang tidak perlu
> > dipertanyakan keabsahannya karena memang sampai
> kapanpun tidak akan pernah
> > dapat dibuktikan, selain dipercaya saja bagi yang
> mempercayainya. Tentu
> > teman saya itu punya alasan sendiri kenapa sampai
> berkesimpulan demikian,
> > dan bukan sekedar katanya atau kelihatannya. Dan teman
> saya yang pada
> > dasarnya tidak percaya dan tidak suka dengan aplikasi
> software perklenikan
> > semacam ini, menghibur diri untuk tetap berpikir
> rasional. Lalu mengakhiri
> > SMS-nya dengan kata-kata : "He..he..Salam Super!".
> Tanda bahwa dia
> > menanggapinya sebagai bahan guyonan tapi semangat
> Mario Teguh.
> >
> > Sambil kucek-kucek mata, saya balas SMS-nya layaknya
> seorang 'tukang kompor'
> > (orang yang suka ngompor-ngomporin) sekelas Mario
> Teguh agak di bawahnya
> > banyak : "Selalu ada 'langkah tersembunyi' yang dapat
> dipertanggungjawabkan
> > yang dapat kita lakukan. Dan tugas pebisnis sejati
> adalah menemukan dan
> > mengimplementasikan hal itu". Saya pun tidak mau kalah
> mengakhiri balasan
> > SMS saya dengan mengucapkan : "Salam Sepur...! (lurus,
> always on the right
> > track, relatif lebih aman, murah dan cepat sampai
> tujuan...)". Lalu teman
> > saya itu menimpali : "Asal sepurnya tidak nyerempet
> irrational thing".
> >
> > Moral ceritanya adalah : Jangan karena kita tidak suka
> mengunakan software
> > perklenikan lalu menyurutkan semangat untuk memulai
> usaha membuka warung,
> > sebab selalu ada ‘langkah tersembunyi’ yang dapat
> dilakukan. Temukan itu,
> > dan implementasikan. Lalu perhatikan apa yang
> terjadi.
> >
> > Kalau yang terjadi ternyata warungnya sepi dan kalah
> bersaing? Ya, berarti
> > 'langkah tersembunyi'-nya belum ditemukan... (tanyakan
> kepada ahlinya dan
> > jangan bertanya kepada 'tukang kompor' yang belum
> punya pengalaman nyata
> > dalam bisnis perwarungan). Hidup entrepreneur...!
> >
> > Yogyakarta, 16 Januari 2010
> > Yusuf Iskandar
> >
> > http://madurejo.wordpress.com
> >
> >
> >
> >
> 
> 
> ------------------------------------
> 
> _____ http://www.KendalOnline.Net _____
> Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet
> 
> <!--Yahoo! Groups Links
> 
> 
>     [email protected]
> 
> 
> 


      

Kirim email ke