terimakasih pak Nur,
semangat nih...

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : www.asrofi.web.id
Office : www.sentraproperty.com


2010/1/19 Yusuf Iskandar <[email protected]>

>
>
> Mas Nur dan teman2 semua,
>
> Terus terang saya tidak menganggap kesimpulan teman saya itu penting, dan
> karena itu saya merasa tidak perlu untuk bertanya lebih detil. Menurut saya
> esensinya adalah (seperti sudah saya sampaikan): Selalu ada 'langkah
> tersembunyi' yang dapat dipertanggungjawabkan (teknis, manajerial, dunia
> wal-akhirat) yang dapat kita lakukan.
>
> Kita ingin menjadi pebisnis atau entrepreneur professional. Meski perkara
> 'penglaris' (dan juga 'perbentengan diri') sudah menjadi rahasia umum, saya
> pikir baiknya sebagai pebisnis sejati kita kesampingkan dulu. Kalaupun mau
> diantisipasi, maka lakukan : Ketik reg spasi niat ibadah, kirim ke langit
> tingkat tujuh....
>
> Lebih baik mempertahankan (baca : me-manage) pelanggan lama ketimbang
> menggaet pelanggan baru. Sebab me-manage pelanggan lama secara tidak
> langsung sudah 'inklusif' menemukan pelanggan baru. Dengan kata lain,
> kebanyakan pelanggan baru bersumber dari kepuasan pelanggan lama. Kalau
> pelanggan lama dapat di-manage dengan baik, kita tinggal tidur saja dia akan
> tetap datang membeli. Tapi kalau fokusnya ke pelanggan baru, maka tidur pun
> otak kita sepertinya tetap bekerja.
>
> Saya sungguh mengapresiasi kepada teman-teman yang sudah memulai dengan
> bisnis atau usahanya, betapapun kecil atau sederhananya usaha itu. Seperti
> kata teman2 yang lain juga, selalu ada saat-saat pertama, selalu ada
> saat-saat masih kecil, masih ndeso, masih thunak-thunuk, masih thola-thole,
> masih ngah-ngoh, sebelum menjadi ruarrrr biasa. Bagaimana mungkin kita akan
> tahu rasa dan artinya sukses kalau kita tidak punya pembanding, tidak tahu
> rasa dan artinya tidak sukses atau belum sukses atau kejeblos peceren....
>
> Saya mendukung ide-ide untuk membangkitkan semangat entrepreneurship di
> kalangan warga KOL dimana saja berada.
>
>
> Salam Sepur...! (lurus, always on the right track, relatif lebih aman,
> murah dan cepat sampai tujuan...)
>
> Matur nuwun - Wass,
> Yusuf
>
> --- On Mon, 1/18/10, Muhammad Nur <[email protected] <muhnur%40gmail.com>>
> wrote:
>
> > From: Muhammad Nur <[email protected] <muhnur%40gmail.com>>
> > Subject: Re: [kendal-online] "Salam Sepur...!", Sebuah Dialog Bangun
> Tidur
> > To: [email protected] <kendal-online%40yahoogroups.com>
> > Date: Monday, January 18, 2010, 2:42 PM
>
> > Mas yusuf, dari hasil survey itu,
> > apakah terliat yg memakai 'klenik'
> > lebih laris dr yg tidak?
> >
> > Saya kbtl ada warung bakso di xwungu yg pernah jaya di thn
> > 80-90an yg
> > dikelola oleh kakak saya dan skrng dpt dying krn bnyknya
> > bermunculan
> > warung2 bakso yg baru. Menurut kakak saya, bnyk dr warung2
> > bakso baru
> > itu memakai 'penglaris' yg selama ini tidak bisa saya
> > terima
> > informasinya. Setelah membaca tulis sampeyan koq jadinya
> > 'penglarisan'
> > spt hal yg lumrah.
> >
> > Bisa tolong ditanyakan ke temennya, bagaimana caranya dia
> > dalam survey
> > shg bisa dpt kesimpulan 'optional method' tsb?
> >
> > Maturnwuwun sblmnya.
> >
> > Salam mrt (sepure kene) hehehe
> >
> > On 1/16/10, Yusuf Iskandar 
> > <[email protected]<yiskandar_2000%40yahoo.com>
> >
> > wrote:
> > > "Salam Sepur...!", Sebuah Dialog Bangun Tidur
> > > ---------------------------------------------
> > >
> > > (Judul tulisan ini tidak salah tulis). Seorang teman
> > yang berniat buka
> > > warung mi di Jogja, sengaja datang dari Jakarta ke
> > Jogja untuk melakukan
> > > survey kecil-kecilan. Sesuai namanya, kecil-kecilan,
> > pasti bebas dari
> > > tetek-bengek teori, rumusan, pedoman atau formalitas
> > lain yang semacam ini.
> > > Pokoknya datang ke Jogja, mampir ke beberapa warung
> > bakmi yang dijumpai,
> > > memesan untuk mencicipi rasanya dan mencatat harganya,
> > melakukan interview
> > > sederhana dan mempelajari lingkungannya. Begitu saja.
> > >
> > > Setelah kembali ke Jakarta, tiba-tiba suatu pagi teman
> > saya itu membangunkan
> > > saya melalui SMS yang dikirimkannya dan menceritakan
> > tentang kesimpulan
> > > hasil survey-nya. Kesimpulannya mencengangkan saya :
> > Dari tujuh warung mi
> > > yang ditelisik, 50% memakai "optional method" agar
> > dagangannya laris. Saya
> > > mengernyitkan kening : "Metode opo maneh iki (metode
> > apa lagi ini)...?" (Ini
> > > pasti hitungan kasar, sebab 50% dari tujuh berarti ada
> > tiga setengah warung,
> > > tentu susah dibayangkan)
> > >
> > > Hanya perlu beberapa detik untuk mengernyit, lalu saya
> > pun tersenyum sendiri
> > > (lebih baik bangun tidur tersenyum sendiri ketimbang
> > bangun tidur langsung
> > > uring-uringan). Biar saya pertegas, rupanya yang
> > dimaksud "optional method"
> > > oleh teman saya itu adalah metode "tulis reg spasi
> > sajen, kembang atau
> > > dukun", kata lain untuk aplikasi software
> > perklenikan.
> > >
> > > Harap dimaklumi, ini kesimpulan coro ndeso (ala
> > kampung) yang tidak perlu
> > > dipertanyakan keabsahannya karena memang sampai
> > kapanpun tidak akan pernah
> > > dapat dibuktikan, selain dipercaya saja bagi yang
> > mempercayainya. Tentu
> > > teman saya itu punya alasan sendiri kenapa sampai
> > berkesimpulan demikian,
> > > dan bukan sekedar katanya atau kelihatannya. Dan teman
> > saya yang pada
> > > dasarnya tidak percaya dan tidak suka dengan aplikasi
> > software perklenikan
> > > semacam ini, menghibur diri untuk tetap berpikir
> > rasional. Lalu mengakhiri
> > > SMS-nya dengan kata-kata : "He..he..Salam Super!".
> > Tanda bahwa dia
> > > menanggapinya sebagai bahan guyonan tapi semangat
> > Mario Teguh.
> > >
> > > Sambil kucek-kucek mata, saya balas SMS-nya layaknya
> > seorang 'tukang kompor'
> > > (orang yang suka ngompor-ngomporin) sekelas Mario
> > Teguh agak di bawahnya
> > > banyak : "Selalu ada 'langkah tersembunyi' yang dapat
> > dipertanggungjawabkan
> > > yang dapat kita lakukan. Dan tugas pebisnis sejati
> > adalah menemukan dan
> > > mengimplementasikan hal itu". Saya pun tidak mau kalah
> > mengakhiri balasan
> > > SMS saya dengan mengucapkan : "Salam Sepur...! (lurus,
> > always on the right
> > > track, relatif lebih aman, murah dan cepat sampai
> > tujuan...)". Lalu teman
> > > saya itu menimpali : "Asal sepurnya tidak nyerempet
> > irrational thing".
> > >
> > > Moral ceritanya adalah : Jangan karena kita tidak suka
> > mengunakan software
> > > perklenikan lalu menyurutkan semangat untuk memulai
> > usaha membuka warung,
> > > sebab selalu ada ‘langkah tersembunyi’ yang dapat
> > dilakukan. Temukan itu,
> > > dan implementasikan. Lalu perhatikan apa yang
> > terjadi.
> > >
> > > Kalau yang terjadi ternyata warungnya sepi dan kalah
> > bersaing? Ya, berarti
> > > 'langkah tersembunyi'-nya belum ditemukan... (tanyakan
> > kepada ahlinya dan
> > > jangan bertanya kepada 'tukang kompor' yang belum
> > punya pengalaman nyata
> > > dalam bisnis perwarungan). Hidup entrepreneur...!
> > >
> > > Yogyakarta, 16 Januari 2010
> > > Yusuf Iskandar
> > >
> > > http://madurejo.wordpress.com
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> > ------------------------------------
> >
> > _____ http://www.KendalOnline.Net _____
> > Komunitas Masyarakat Kendal Di Internet
> >
> > <!--Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >     
> > [email protected]<kendal-online-fullfeatured%40yahoogroups.com>
> >
> >
> >
>
>  
>

Kirim email ke