Pertanyaan :
--- On Sat, 2/13/10, moh anto <[email protected]> wrote:
From: moh anto <[email protected]>
Subject: [kendal-online] Normalisasi Kali atau Sungai
To: [email protected]
Date: Saturday, February 13, 2010, 3:59 PM
Normalisasi kali atau sungai seringkali mengabaikan keberadaan penahan tanggul
alami yaitu pohon bambu. Dengan alasan menghalangi kerja dari alar berat maka
byk pohon peneduh di pinggir kali atau sungai yg di tebang paksa. Dan ketika
kegiatan normalisasi ini selesai bisa di pastikan banyak sekali tanggul yg
tidak berfungsi maksimal, baik itu tanggul pasangan batu, bronjong maupun
tanggul tanah. Sungai Blorong telah membuktikan hal ini, pasangan batu yang
belum lama selesai telah kalah oleh gerusan air, dan oleh dinas yg terkait
biasanya ini di katakan sebagai bencana alam. Bagaimana pendapat lainnya?
Jawaban :
Merujuk pada teori eco-hidroulik yang terbaru, saya komentari sbb. :
Dahulu, secara alami sungai akan cenderung membentuk tubuh yang lurus apabila
kondisi curam dan membentuk berkelok pada daerah datar. Dataran makan panjang,
kelokan akan semakin banyak.
Ilmu ini pula yang dipake oleh para interpreter citra satelit atau foto udara
untuk mengetahui bagaimana kondisi lahan berdasarkan bentuk sungai. Jika lurus
dan kaku, umumnya lahan bebatuan kompak (batuan beku). Jika berkelok meander,
dapat dipastikan lahan sekitarnya merupakan batuan sedimen atau tanah alluvial.
Jika kupasan diperlebar, endapan sungai umumnya sangat subur bagi tanaman.
Dulu, sungai berkelok dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir.
Alasannya, aliran sungai akan semakin terhambat menuju laut karena harus belok
sana sini, lalu menimbulkan banjir di sekitarnya.
Lalu munculah jurus normalisasi Sungai, dimana bentuk sungai yang berkelok
'dipaksa' diluruskan agar aliran air cepat menuju laut.
Belakangan ini, ketika mulai timbul bencana kekurangan air karena debit muka
air tanah makin turun, keberadaan sungai sebagai pemasok air tanah kembali
diperhitungkan. Lahan-lahan di sekitar tubuh sungai juga perlu mendapat pasokan
air melalui proses infiltrasi, perkolasi atau rembesan (seepage).
Maka saat ini mulai manusia sadar untuk mengembalikan bentuk sungai pada
kondisi yang alami dan tetap memberikan ruang bantaran sungai sebagai ekosistem
yang tidak boleh diusik oleh manusia. Jarak antara tepi sungai dengan bangunan
secara ideal mempertimbangkan jangkauan air yang terjauh ketika terjadi luapan
(banjir) dan mempertimbangkan gaya gravitasi pada kemungkinan terjadinya
longsor.
Jadi, apabila istilah normalisasi tetap mau dipake, misalnya karena sudah
terlanjur jadi judul proyek, maka tinggal pengertiannya saja yang diubah.
normalisasi artinya difungsikan normal kembali seperti dulu jaman simbah-buyut
hehhee.
Perbanyak pohon besar di bibir sungai untuk ekosistem alaminya.
Gerombolan pohon di tepi sungai bukan penyebab banjir, karena muara masalah
sebenarnya ada di hulu yang mengalami penggundulan (deforestasi).
Silahkan kalo ada yang mau mengoreksi atau menambahkan...
Wassalam
M Kundarto