Secara umum teori2 tsb memang benar tp apakah kondisi alam saat ini dan alam 
jaman embah2 uyut kita masih sama ??? itu yang barang kali perlu diperdebatkan 
jadi kalau kita menggunakan teori jaman dulu di terapakan ke jaman sekarang 
yang penduduknya sudah berjibun ratusan juta apa masih bisa ???, selama kondisi 
tanah/alam sekitar kita dan bukan hanya di sekitar kali atau sungai saja yang 
perlu di pikirkan, mustahil kali ataupun sungai tidak akan mampu lagi menampung 
luapan air yang tidak bisa kita prediksikan lagi volumenya jika sewaktu2 hujan 
deras karena sudah banyaknya alam dan kondisi tanah kita yang sudah berubah, 
menurut saya perlu adanya kesadaran dari warga/rakyat penghuni alam ini untuk 
tetap bisa melestarikan dan menjaga alam yang kita tempatin ini dengan 
sebaik-baiknya, karena kalau tidak ya...itu tadi bapak2 atau ibu2 yang ada di 
pemerintah selalu mengatakan itu karena bencana, karena memang cara 
mengatasinya sifatnya temporer saja tidak
 pernah menggunakan bahan2 study penelitian yang akurat dari para ahli2 yang 
ada di republik ini, ilmu prakteknya dilapangan cenderung asal-asalan, karena 
itu tadi berbau Proyek.

Salam
By




________________________________
From: muhamad kundarto <[email protected]>
To: [email protected]; ilmu tanah <[email protected]>; 
milist alumni <[email protected]>; alumni faperta 
<[email protected]>; [email protected]; milist 
dosen UPN <[email protected]>
Sent: Sat, February 13, 2010 6:13:46 PM
Subject: [kendal-online] Re: Normalisasi Kali atau Sungai

  
Pertanyaan :

--- On Sat, 2/13/10, moh anto <anto_sarimanan@ yahoo.com> wrote:
From: moh anto <anto_sarimanan@ yahoo.com>
Subject: [kendal-online] Normalisasi Kali atau Sungai
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Saturday, February 13, 2010, 3:59 PM


  
>Normalisasi kali atau sungai seringkali mengabaikan keberadaan penahan tanggul 
>alami yaitu pohon bambu. Dengan alasan menghalangi kerja dari alar berat maka 
>byk pohon peneduh di pinggir kali atau sungai yg di tebang paksa. Dan ketika 
>kegiatan normalisasi ini selesai bisa di pastikan banyak sekali tanggul yg 
>tidak berfungsi maksimal, baik itu tanggul pasangan batu, bronjong maupun 
>tanggul tanah. Sungai Blorong telah membuktikan hal ini, pasangan batu yang 
>belum lama selesai telah kalah oleh gerusan air, dan oleh dinas yg terkait 
>biasanya ini di katakan sebagai bencana alam. Bagaimana pendapat lainnya?
> 
Jawaban :

Merujuk pada teori eco-hidroulik yang terbaru, saya komentari sbb. :

Dahulu, secara alami sungai akan cenderung membentuk tubuh yang lurus apabila 
kondisi curam dan membentuk berkelok pada daerah datar. Dataran makan panjang, 
kelokan akan semakin banyak. 
Ilmu ini pula yang dipake oleh para interpreter citra satelit atau foto udara 
untuk mengetahui bagaimana kondisi lahan berdasarkan bentuk sungai. Jika lurus 
dan kaku, umumnya lahan bebatuan kompak (batuan beku). Jika berkelok meander, 
dapat dipastikan lahan sekitarnya merupakan batuan sedimen atau tanah alluvial. 
Jika kupasan diperlebar, endapan sungai umumnya sangat subur bagi tanaman.

Dulu, sungai berkelok dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir. 
Alasannya, aliran sungai akan semakin terhambat menuju laut karena harus belok 
sana sini, lalu menimbulkan banjir di sekitarnya.
Lalu munculah jurus normalisasi Sungai, dimana bentuk sungai yang berkelok 
'dipaksa' diluruskan agar aliran air cepat menuju laut.
Belakangan ini, ketika mulai timbul bencana kekurangan air karena debit muka 
air tanah makin turun, keberadaan sungai sebagai pemasok air tanah kembali 
diperhitungkan. Lahan-lahan di sekitar tubuh sungai juga perlu mendapat pasokan 
air melalui proses infiltrasi, perkolasi atau rembesan (seepage).
Maka saat ini mulai manusia sadar untuk mengembalikan bentuk sungai pada 
kondisi yang alami dan tetap memberikan ruang bantaran sungai sebagai ekosistem 
yang tidak boleh diusik oleh manusia. Jarak antara tepi sungai dengan bangunan 
secara ideal mempertimbangkan jangkauan air yang terjauh ketika terjadi luapan 
(banjir) dan mempertimbangkan gaya gravitasi pada kemungkinan terjadinya 
longsor.

Jadi, apabila istilah normalisasi tetap mau dipake, misalnya karena sudah 
terlanjur jadi judul proyek, maka tinggal pengertiannya saja yang diubah. 
normalisasi artinya difungsikan normal kembali seperti dulu jaman simbah-buyut 
hehhee.
Perbanyak pohon besar di bibir sungai untuk ekosistem alaminya.
Gerombolan pohon di tepi sungai bukan penyebab banjir, karena muara masalah 
sebenarnya ada di hulu yang mengalami penggundulan (deforestasi) .

Silahkan kalo ada yang mau mengoreksi atau menambahkan. ..

Wassalam

M Kundarto 




      

Kirim email ke