Peringatan Maulid
TRADISI "WEWEHAN" WARGA KALIWUNGU
Kamis, 18 Februari 2010 | 13:32 WIB
Kaliwungu
merupakan kota kecamatan di Kabupaten Kendal yang berbatasan langsung
dengan Kota Semarang. Jumlah penduduk kota Kaliwungu sekitar 150.000
jiwa, menjadikannya kota terpadat di Kendal. Kaliwungu merupakan pusat
penyebaran agama Islam dan budaya di Kendal karena Kaliwungu merupakan
ibu kota Kabupaten Kendal pada zaman Mataram. Selain itu, Kaliwungu
juga sering disebut sebagai Kota Santri karena banyaknya pondok
pesantren di kota tersebut. Napas kehidupan islami akan sangat terasa
bila kita berdiam atau singgah di Kaliwungu. "Wewehan" merupakan
sebuah tradisi yang berkembang pada masyarakat Kaliwungu untuk
memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun pada beberapa kampung
di Kaliwungu, kegiatan wewehan dilaksanakan setiap Jumat sebulan
sebelum peringatan Maulid Nabi. Wewehan berasal dari kata
"weweh" yang dalam bahasa Jawa berarti memberi. Wewehan dapat diartikan
dengan saling memberi. Pada tradisi wewehan, setiap warga membuat
makanan berupa jajan pasar maupun makanan modern yang akan dibagikan
kepada warga lain. Pembuatan makanan bergantung pada kemampuan warga.
Biasanya banyak jenis makanan khas Kaliwungu yang hanya ada pada
kegiatan wewehan, seperti sumpil. Makanan ini sejenis ketupat kecil
berbentuk segitiga yang dimakan bersama sambal kelapa. Saat
perayaan wewehan, setiap warga saling bertukar makanan yang telah
mereka buat. Warga yang memiliki anak kecil menugaskan anaknya sebagai
pengantar makanan. Sementara para orang tua yang tidak memiliki anak
kecil biasanya menunggu hantaran dari para tetangganya untuk ditukar
dengan makanan yang telah dipersiapkan. Sekilas kegiatan tersebut mirip
dengan kegiatan barter, namun ada perbedaan mendasar antara keduanya.
Dalam barter, orang akan bertransaksi apabila merasa cocok dengan
barang yang akan dibarter. Sementara dalam wewehan, penukaran makanan
didasarkan pada keikhlasan memberi, bukan berdasarkan selera penukarnya. Wewehan
merupakan tradisi yang masih berkembang di masyarakat Kaliwungu sampai
saat ini. Dalam kegiatan wewehan terkandung makna mendalam tentang
pentingnya berbagi dengan sesama. Pengetahuan untuk berbagi sejak dini
akan membekas pada setiap anak yang mengikuti acara tersebut. Selain
prosesi wewehan, pada perayaan Maulid Nabi Muhammad, warga Kaliwungu
biasanya akan menghias rumahnya dengan berbagai macam lampu. Salah satu
yang khas dari lampu hias tersebut adalah "teng-tengan". Teng-tengan
adalah sejenis lampion beraneka ragam bentuk, seperti bintang, kapal
laut, kapal terbang, atau petromaks. Zaman dahulu, teng-tengan
dinyalakan dengan lampu minyak, namun sekarang lampu minyak telah
digantikan bohlam listrik. Selain kedua tradisi di atas, pada
perayaan Maulid Nabi di Kaliwungu juga diadakan kegiatan pawai ta'aruf
yang menampilkan berbagai macam kesenian tradisional dan modern. Selain
itu, setiap dua tahun sekali, Remaja Masjid Besar Al Mutaqim,
Kaliwungu, mengadakan kegiatan Festival Masjid Al Mutaqim yang
dilaksanakan di pelataran parkir masjid selama seminggu. Acara kesenian
dan budaya yang ditampilkan pada acara festival masjid mampu menyedot
pengunjung dari luar kota Kaliwungu. Banyaknya agenda budaya di
Kaliwungu pada peringatan Maulid Nabi Muhammad tentunya bisa dijadikan
sebagai agenda wisata tahunan, sehingga akan memberikan kontribusi yang
baik untuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kendal.
Samsul Ulum
Pemerhati budaya Kendal
sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/18/1332356/tradisi.wewehan.warga.kaliwungu
samsul ulum
The Forest Trust
wildlife&HCVF specialist
kaliwungu city, kendal, central java
www.tft-forests.org
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer