Gerakan Anti Merokok sudah merambah ke gerakan Anti Tembakau. Artinya para petani tembakau didorong untuk tidak menanam tembakau lagi pada lahan pertaniannya. Bahkan sudah muncul fatwa haram. Ternyata KAMPANYE ANTI TEMBAKAU itu didanai dari sebuah lembaga dari USA. Jadi prihatin melihat organisasi agama, perguruan tinggi, dan LSM terlihat bersemangat melakukan kampanye. Target serangan para petani yang puluhan tahun yakin dan terbukti bahwa "panen tembakau paling bisa memberi kekayaan dibanding panen komoditas pertanian yang lain". Di lihat dari sudut kerusakan lahannya, komoditas kentang terbukti nyata sangat merusak lahan di pegunungan, khususnya dapat diamati di sekitar dataran tinggi Dieng - Wonosobo. Upaya mendorong petani setempat menanam komoditas lain juga sangat sulit mengingat Kentang menjadi primadoda perekonomian pertanian di sana. Lha sekarang ini tentang tembakau. Bukan lahannya yang rusak, tetapi hasil produk olahannya (baca: rokok) yang dianggap banyak menimbulkan kemudharatan (dampak buruk) dibandingkan dengan manfaatnya. Membicarakan dan memecahkan masalah sosial tidak bisa dilakukan dengan kejar tayang seperti LPJ proyek. Banyak hal yang mempengaruhi. Mengubah pola masyarakat butuh waktu sangat lama, kecuali dilakukan dengan cara kekerasan. Kembali ke masyarakat tembakau. Di Kendal, ada slogan, bahwa mereka akan menjadi kaya pada saat masa panen tembakau. Minimal, petani bisa membeli sepeda motor baru. Bahkan banyak hajatan pernikahan dilakukan pasca petani panen tembakau. Di Temanggung, slogannya lebih ciamik lagi. Konon, ketika panen tembakau, mereka bisa membeli mobil baru. Apalagi yang ketiban rizki nomplok, yaitu tembakau di lahannya berubah menjadi tembakau srintil, yang harganya bisa beberapa kali lipat harga biasa. Hari ini saya sudah mulai melihat munculnya berita, tepatnya pernyataan, di media koran maupun elektronik/internet dari mereka-mereka yang terdanai untuk kampanye anti tembakau. Mungkin sengaja untuk memancing bagaimana pendapat umum, sekaligus mendorong para petani merubah paradigma. Kasihan para petani tembakau yang tidak pernah membuka internet atau membaca koran. Padahal nasib mereka sedang 'dihakimi'. Mohon pendapat dan masukan dari Bpk/Ibu/Sdr/i. Nuwun
Muhamad Kundarto Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta HP: 08180 272 6112 http://mkundarto.wordpress.com/

