fyi
pendapat 2 orang peneliti, buat menambah diskusi
nuwun 

--- On Mon, 3/15/10, Subowo Gitosuwondo <[email protected]> wrote:


From: Subowo Gitosuwondo <[email protected]>
Subject: Re: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU
To: [email protected], [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Monday, March 15, 2010, 10:23 AM






Mengenai tembakau ini memang agak perlu penanganan yang hati-hati. Bagi kita 
sebenarnya tembakau ini merupakan salah satu komoditi yang memiliki daya saing 
spasial relatif tinggi bagi kawasan vulkanik tropika basah seperti halnya 
negara kita. Kalau ini sampai hilang dari Indonesia sementara masyarakat yang 
sudah memiliki habit dengan additive dari bahan aktif tembakau ini sangat sulit 
disembuhkan, produk tembakau wilayah lain masuk secara illegal yang sangat 
mudah ke Indonesia. Upaya kita sebaiknya cukup preventive bagi yang belum 
kecanduan dan tembakau kita eksport sebesar-besarnya agar petani kita dapat 
mendapatkan manfaat dari daya saing spasial kita ini.
 
Mengenai kentang di dataran tinggi yang mudah terdegradasi, sebenarnya 
teknologi budidaya dengan jaminan konservasi kita sudah ada, namun sulit 
diimplementasikan di dataran tinggi yang dominan berlereng. Sebenarnya potensi 
produksi kentang tinggi 40 ton/ha/musim/3-4 bulan dibanding padi 6 ton 
gabah/ha/musim/3-4 bulan. Untuk itu perlu diselesaikan skenario agar 
implementasi teknologi tsb berjalan. Hasil penelitian kentang di dataran 
medium 400 - 500 m dpl  dapat memberikan hasil 20 ton/ha/musim. Ini sebenarnya 
potensial, selain lahan tersedia cukup luas juga implementasi teknologi 
konservasi mudah dilaksanakan. Rendahnya produksi ini nampaknya akibat 
tingginya laju fotorespirasi, upaya menurunkan laju fotorespirasi ini nampaknya 
akan mampu meningkatkan produksi. Penekanan fotorespirasi ini mungkin dapat 
dilakukan dengan penggunaan naungan, mulsa ataupun penyediaan air genangan 
disekitar tanaman, penempatan pada lereng yang berada pada wilayah
 bayang2 matahari. Misal pada bulan April - September tanam di wilayah Lintang 
selatan dengan posisi lereng yang mengarah ke selatan, demikian sebaliknya. 
 
Maaf ini sekedar sumbang pemikiran, trims.
 
Subowo, G.
Balai Penelitian Tanah.   





From: Suwardi suwardi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, March 14, 2010 10:01:19 PM
Subject: Re: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU

  








Mas Kun, jaman sekarang segala hal bisa dipolitisir dan dikomersialkan. Rokok 
hukumnya sudah cukup jelas makruh. Kemudian ada pihak yang mengharamkan dan 
ternyata pihak tersebut memperoleh uang dari lembaga tertentu dari Amerika. 
Mungkin nanti kalau pernyataan haram tidak laku, akan kembali lagi 
dinyatakan makruh, toh uang sudah diterima. Di sinilah terjadi komersialisasi 
hukum.     

Bicara mengenai tanah rusak nampaknya tanah yang ditanami kentang lebih cepat 
rusak dibandingkan tembakau. Hal ini disebabkan 2 hal, pertama tanaman kentang 
umumnya ditanam di tempat yang lerengnya lebih terjal di gunung-gunung karena 
kentang memerlukan suhu yang dingin. Sementara itu tembakau dapat ditanam di 
suhu yang lebih panas sehingga lahan umumnya lebih datar. Kedua, produksi 
kentang bisa mencapai 40 ton/ha dan tembakau kurang dari itu sehingga unsur 
hara yang terangkut panen kentang lebih banyak dibandingkan tembakau. 
 
Untuk mengurangi kerusakan tanah pada lahan yang ditanami kentang dan 
tembakau dapat dilakukan dengan pemupukan organik dan rotasi tanman.
 
Suwardi 
--- On Sat, 3/13/10, muhamad kundarto <mask...@yahoo. com> wrote:


From: muhamad kundarto <mask...@yahoo. com>
Subject: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU
To: "kendal online" <kendal-online@ yahoogroups. com>, "milist alumni" 
<up...@yahoogroups. com>, "milist dosen UPN" <dosen_upnjogja@ yahoogroups. 
com>, "alumni faperta" <lintas_alumni_ fape...@yahoogro ups.com>, "ilmu tanah" 
<ilmuta...@yahoogrou ps.com>
Cc: "Eko Murdiyanto" <ekomur_upnyk@ yahoo.com>, "Didin Sastrapradja" 
<dinko...@indo. net.id>, "sri hudyastuti" <[email protected]. id>, "cnhm sc" 
<cnhm...@yahoogroups .com>, "avie kusnadi" <aviekusnadi@ yahoo.com>, "sari 
bahagiarti" <sar...@plasa. com>
Date: Saturday, March 13, 2010, 8:29 PM


  






Gerakan Anti Merokok sudah merambah ke gerakan Anti Tembakau. Artinya para 
petani tembakau didorong untuk tidak menanam tembakau lagi pada lahan 
pertaniannya. Bahkan sudah muncul fatwa haram.
 
Ternyata KAMPANYE ANTI TEMBAKAU itu didanai dari sebuah lembaga dari USA. Jadi 
prihatin melihat organisasi agama, perguruan tinggi, dan LSM terlihat 
bersemangat melakukan kampanye. Target serangan para petani yang puluhan tahun 
yakin dan terbukti bahwa "panen tembakau paling bisa memberi kekayaan dibanding 
panen komoditas pertanian yang lain". 
 
Di lihat dari sudut kerusakan lahannya, komoditas kentang terbukti nyata sangat 
merusak lahan di pegunungan, khususnya dapat diamati di sekitar dataran tinggi 
Dieng - Wonosobo. Upaya mendorong petani setempat menanam komoditas lain juga 
sangat sulit mengingat Kentang menjadi primadoda perekonomian pertanian di sana.
 
Lha sekarang ini tentang tembakau. Bukan lahannya yang rusak, tetapi hasil 
produk olahannya (baca: rokok) yang dianggap banyak menimbulkan kemudharatan 
(dampak buruk) dibandingkan dengan manfaatnya. 
 
Membicarakan dan memecahkan masalah sosial tidak bisa dilakukan dengan kejar 
tayang seperti LPJ proyek. Banyak hal yang mempengaruhi. Mengubah pola 
masyarakat butuh waktu sangat lama, kecuali dilakukan dengan cara kekerasan.
 
Kembali ke masyarakat tembakau.
Di Kendal, ada slogan, bahwa mereka akan menjadi kaya pada saat masa panen 
tembakau. Minimal, petani bisa membeli sepeda motor baru. Bahkan banyak hajatan 
pernikahan dilakukan pasca petani panen tembakau.
Di Temanggung, slogannya lebih ciamik lagi. Konon, ketika panen tembakau, 
mereka bisa membeli mobil baru. Apalagi yang ketiban rizki nomplok, yaitu 
tembakau di lahannya berubah menjadi tembakau srintil, yang harganya bisa 
beberapa kali lipat harga biasa. 
 
Hari ini saya sudah mulai melihat munculnya berita, tepatnya pernyataan, di 
media koran maupun elektronik/internet dari mereka-mereka yang terdanai untuk 
kampanye anti tembakau. Mungkin sengaja untuk memancing bagaimana pendapat 
umum, sekaligus mendorong para petani merubah paradigma.
Kasihan para petani tembakau yang tidak pernah membuka internet atau membaca 
koran. Padahal nasib mereka sedang 'dihakimi'.
 
Mohon pendapat dan masukan dari Bpk/Ibu/Sdr/ i. Nuwun



Muhamad Kundarto
Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
HP: 08180 272 6112
http://mkundarto. wordpress. com/
 
 










      

Kirim email ke