Wah makin menarik neh diskusinya, saya urun rembuk juga:

  1. Terlepas dari seperti mas BW bilang tentagn hukum positif yg diupayakan oleh PKS, mohon maaf karena saya terus terang ndak interest sama politisi termasuk PKS yang lidahnya suka mleset-mlesetin hukum. Rokok bagi saya pribadi adalah haram, karena sesungguhnya akan ada double kerugian, pertama bagi perokok aktif dan kedua yang lebih besar bagi perokok pasif. Eksternal cost dari efek rokok itu jauh lebih besar dibandingkan dengan income gy diterima.
  2. Saya terus terang heran, dari beberapa negara ASEAN yang saya singgahi, orang Indonesia ini yang paling hobi ngisep rokok. Bahkan terkesan bangga dan bergaya klo mengisep rokok, sehingga kawula mudanya teracuni dengan tayangan2 iklan rokok yang terlihat gaul itu. Negara2 macam Singapore dan Thailand sudah jelas-jelas melarang iklan rokok, bahkan beberapa film yang memiliki adegan merokok pasti akan kena sensor.
  3. Soal petani tembakau, saya kira fungsi tanaman tembakau tidak hanya untuk merokok saja, sejauh ini penelitian membuktikan bahwa protein yang terkandung di daun tembakau juga bisa digunakan dalam industri farmasi. Meskipun saat ini kapasitasnya masih terbatas, tapi saya yakin dengan diharamkannya tembakau akan semakin menginspirasi para ilmuwan Indonesia untuk giat meneliti kandungan dan manfaat daun tembakau yg lain.
Pada kesimpulannya, saya mendukung penuh fatwa merokok itu haram, bahkan mendorong pemerintah dan sektor terkait untuk mulai memberdayakan petani tembakau dengan hal2 lain yg lebih bermanfaat. Selain itu tentunya perlu adanya ketentuan hukum tentang industri rokok berserta pengkonsumsiannya.
 
Salam,


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/





From: Setyo Wibowo <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, 15 March, 2010 13:44:53
Subject: RE: [kendal-online] Fw: Re: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU

 

Menghubungkan upaya antirokok dengan sumbangan luar negeri, sampai komersialisasi hukum segala, menurut saya kejauhan (kalau tidak mau dikatakan, tuduhan jahat).

 

Upaya2 antirokok sudah berjalan lama, Bos. Pada jamaah2 Islam yang lebih saklek, seperti komunitas tarbiyah (PKS), HT, salafy, dsb, antirokok (baca: pengharaman) sudah mulai sejak 80-an. Termasuk hukum2 positif yg digulirkan terkait dg pembatasan rokok, konon juga tidak lepas dari upaya2 antirokok dari teman2 PKS di legislatif.

Kalau MUI dan Muhammadiyah kemudian bersikap sama, menurut saya, hanya masalah timing saja. Wajar saja, jamaah yg lebih besar, pertimbangannya mungkin lebih banyak. Bukan tidak mungkin lho, kelak NU juga akan mengikuti.

 

Wass,

Bw

Mantan perokok, bisa berhenti karena setuju: rokok adalah haram.

 

From: kendal-online@ yahoogroups. com [mailto:kendal- onl...@yahoogrou ps.com] On Behalf Of muhamad kundarto
Sent: Monday, March 15, 2010 1:04 PM
To: milist alumni; kendal online; milist dosen UPN; alumni faperta
Subject: [kendal-online] Fw: Re: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU

 

 

Fyi

pendapat 2 orang peneliti, buat menambah diskusi

nuwun 



--- On Mon, 3/15/10, Subowo Gitosuwondo <sub_g...@yahoo. com> wrote:


From: Subowo Gitosuwondo <sub_g...@yahoo. com>
Subject: Re: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU
To: ilmuta...@yahoogrou ps.com, ilmuta...@yahoogrou ps.com
Cc: mask...@yahoo. com
Date: Monday, March 15, 2010, 10:23 AM

Mengenai tembakau ini memang agak perlu penanganan yang hati-hati. Bagi kita sebenarnya tembakau ini merupakan salah satu komoditi yang memiliki daya saing spasial relatif tinggi bagi kawasan vulkanik tropika basah seperti halnya negara kita. Kalau ini sampai hilang dari Indonesia sementara masyarakat yang sudah memiliki habit dengan additive dari bahan aktif tembakau ini sangat sulit disembuhkan, produk tembakau wilayah lain masuk secara illegal yang sangat mudah ke Indonesia. Upaya kita sebaiknya cukup preventive bagi yang belum kecanduan dan tembakau kita eksport sebesar-besarnya agar petani kita dapat mendapatkan manfaat dari daya saing spasial kita ini.

 

Mengenai kentang di dataran tinggi yang mudah terdegradasi, sebenarnya teknologi budidaya dengan jaminan konservasi kita sudah ada, namun sulit diimplementasikan di dataran tinggi yang dominan berlereng. Sebenarnya potensi produksi kentang tinggi 40 ton/ha/musim/ 3-4 bulan dibanding padi 6 ton gabah/ha/musim/ 3-4 bulan. Untuk itu perlu diselesaikan skenario agar implementasi teknologi tsb berjalan. Hasil penelitian kentang di dataran medium 400 - 500 m dpl  dapat memberikan hasil 20 ton/ha/musim. Ini sebenarnya potensial, selain lahan tersedia cukup luas juga implementasi teknologi konservasi mudah dilaksanakan. Rendahnya produksi ini nampaknya akibat tingginya laju fotorespirasi, upaya menurunkan laju fotorespirasi ini nampaknya akan mampu meningkatkan produksi. Penekanan fotorespirasi ini mungkin dapat dilakukan dengan penggunaan naungan, mulsa ataupun penyediaan air genangan disekitar tanaman, penempatan pada lereng yang berada pada wilayah bayang2 matahari. Misal pada bulan April - September tanam di wilayah Lintang selatan dengan posisi lereng yang mengarah ke selatan, demikian sebaliknya.

 

Maaf ini sekedar sumbang pemikiran, trims.

 

Subowo, G.

Balai Penelitian Tanah.   

 


From: Suwardi suwardi <suwardi_bogor@ yahoo.com>
To: ilmuta...@yahoogrou ps.com
Sent: Sun, March 14, 2010 10:01:19 PM
Subject: Re: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU

 

Mas Kun, jaman sekarang segala hal bisa dipolitisir dan dikomersialkan. Rokok hukumnya sudah cukup jelas makruh. Kemudian ada pihak yang mengharamkan dan ternyata pihak tersebut memperoleh uang dari lembaga tertentu dari Amerika. Mungkin nanti kalau pernyataan haram tidak laku, akan kembali lagi dinyatakan makruh, toh uang sudah diterima. Di sinilah terjadi komersialisasi hukum.     

Bicara mengenai tanah rusak nampaknya tanah yang ditanami kentang lebih cepat rusak dibandingkan tembakau. Hal ini disebabkan 2 hal, pertama tanaman kentang umumnya ditanam di tempat yang lerengnya lebih terjal di gunung-gunung karena kentang memerlukan suhu yang dingin. Sementara itu tembakau dapat ditanam di suhu yang lebih panas sehingga lahan umumnya lebih datar. Kedua, produksi kentang bisa mencapai 40 ton/ha dan tembakau kurang dari itu sehingga unsur hara yang terangkut panen kentang lebih banyak dibandingkan tembakau.

 

Untuk mengurangi kerusakan tanah pada lahan yang ditanami kentang dan tembakau dapat dilakukan dengan pemupukan organik dan rotasi tanman.

 
Suwardi
--- On Sat, 3/13/10, muhamad kundarto <mask...@yahoo. com> wrote:


From: muhamad kundarto <mask...@yahoo. com>
Subject: [ilmutanah] GERAKAN ANTI MEROKOK menjadi ANTI TEMBAKAU
To: "kendal online" <kendal-online@ yahoogroups. com>, "milist alumni" <up...@yahoogroups. com>, "milist dosen UPN" <dosen_upnjogja@ yahoogroups. com>, "alumni faperta" <lintas_alumni_ fape...@yahoogro ups.com>, "ilmu tanah" <ilmuta...@yahoogrou ps.com>
Cc: "Eko Murdiyanto" <ekomur_upnyk@ yahoo.com>, "Didin Sastrapradja" <dinko...@indo. net.id>, "sri hudyastuti" <[email protected]. id>, "cnhm sc" <cnhm...@yahoogroups .com>, "avie kusnadi" <aviekusnadi@ yahoo.com>, "sari bahagiarti" <sar...@plasa. com>
Date: Saturday, March 13, 2010, 8:29 PM

 

Gerakan Anti Merokok sudah merambah ke gerakan Anti Tembakau. Artinya para petani tembakau didorong untuk tidak menanam tembakau lagi pada lahan pertaniannya. Bahkan sudah muncul fatwa haram.

 

Ternyata KAMPANYE ANTI TEMBAKAU itu didanai dari sebuah lembaga dari USA. Jadi prihatin melihat organisasi agama, perguruan tinggi, dan LSM terlihat bersemangat melakukan kampanye. Target serangan para petani yang puluhan tahun yakin dan terbukti bahwa "panen tembakau paling bisa memberi kekayaan dibanding panen komoditas pertanian yang lain".

 

Di lihat dari sudut kerusakan lahannya, komoditas kentang terbukti nyata sangat merusak lahan di pegunungan, khususnya dapat diamati di sekitar dataran tinggi Dieng - Wonosobo. Upaya mendorong petani setempat menanam komoditas lain juga sangat sulit mengingat Kentang menjadi primadoda perekonomian pertanian di sana.

 

Lha sekarang ini tentang tembakau. Bukan lahannya yang rusak, tetapi hasil produk olahannya (baca: rokok) yang dianggap banyak menimbulkan kemudharatan (dampak buruk) dibandingkan dengan manfaatnya.

 

Membicarakan dan memecahkan masalah sosial tidak bisa dilakukan dengan kejar tayang seperti LPJ proyek. Banyak hal yang mempengaruhi. Mengubah pola masyarakat butuh waktu sangat lama, kecuali dilakukan dengan cara kekerasan.

 

Kembali ke masyarakat tembakau.

Di Kendal, ada slogan, bahwa mereka akan menjadi kaya pada saat masa panen tembakau. Minimal, petani bisa membeli sepeda motor baru. Bahkan banyak hajatan pernikahan dilakukan pasca petani panen tembakau.

Di Temanggung, slogannya lebih ciamik lagi. Konon, ketika panen tembakau, mereka bisa membeli mobil baru. Apalagi yang ketiban rizki nomplok, yaitu tembakau di lahannya berubah menjadi tembakau srintil, yang harganya bisa beberapa kali lipat harga biasa. 

 

Hari ini saya sudah mulai melihat munculnya berita, tepatnya pernyataan, di media koran maupun elektronik/internet dari mereka-mereka yang terdanai untuk kampanye anti tembakau. Mungkin sengaja untuk memancing bagaimana pendapat umum, sekaligus mendorong para petani merubah paradigma.

Kasihan para petani tembakau yang tidak pernah membuka internet atau membaca koran. Padahal nasib mereka sedang 'dihakimi'.

 

Mohon pendapat dan masukan dari Bpk/Ibu/Sdr/ i. Nuwun

Image removed by sender.

Muhamad Kundarto

Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta

HP: 08180 272 6112

 

 

 

 


Kirim email ke