Kalau boleh urun rembug, nampaknya memang susah memilih pemimpin di Kendal. 
Mungkin Widya memang paling jelas diantaranya yang lain, dia istri mantan 
bupati yang bermasalah. bahkan sudah terbukti dan ditahan. Namun apakah yang 
lain juga tidak bermasalah atau bersih. Nampaknya tidak ada yang bisa menjamin. 
Incumbent mungkin bisa saja memproklamirkan diri sebagai pemimpin yang bersih. 
Mungkin bener, karena selama dua tahun terakhir kendal tidak ada apa-apanya. 
Proyek-proyek yang dulu juga berhenti semua. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 
Kaliwungu, Pelabuhan Kendal, serta berbagai proyek lain yang diharapkan bisa 
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak jelas jluntrungnya. Apakah harus 
memilih pemimpin yang bersih, kalau dia tidak melakukan apa-apa? Terus meminjam 
bahasanya Armada, "Mau dibawa kemana, kendal kita tercinta....  
Apalagi, konon ceritanya, dia juga terkait dengan kasus pengadaan tanah 
Terminal Kayu Terpadu (TKT) yang sudah membuat mantan Kabag Tapem, Anggit 
ditahan di Mabes Polri.  
Sugiono, konon juga ikut bermaslaah dalam kasus itu, karena ikut dalam tim 9 
yang mengurusi pembebasan lahan TKT. 
Yang lain? belum tahu juga. Toh mereka mengeluarkan dana yang cukup besar untuk 
memuluskan pencalonan mereka. Sebab setahu saya, semua calon membagi duwit saat 
pemilihan kemarin. 
Setahu saya, dari informasi temen-temen (entah bener atau tidak-red), Widya, 
membagi 20 an  di hampr semua daerah. Giad juga mbagi kepyur Rp10 ribu per 
rumah, Markesi Mbagi 10 ribu perorang, Supriyono - Nasikin, juga mbagi 35 ribu 
di lokasi tertentu, seperti tempat asal Nasikin di Gemuh dan khadziq juga mbagi 
20an di beberapa kecamatan, walaupun tidak merata. Lha terus, mana yang harus 
dipilih. Mana yang benar? Kok kayae semuanya sama saja, semuanya ingin membagi 
sebanyak-banyaknya, namun sekali lagi semuanya terkait dengan kemampuan amunisi 
masing-masing.
Terus siapa yang salah? Apa rakyat yang mau disuap? tak kira kok nggak juga. 
Mumpung ada yang mbagi, kapan lagi. 
Atau haruskah mereka tidak nyoblos semuanya? Apa nggak lebih mengenaskan lagi 
nanti. 
Lama-lama kok malah jadi bingung. Ah, emboh lah.......
Kalau saya sih, gak mau repot-repot. Siapapun yang jadi, itulah pilihan rakyat 
yang harus dihormati. Apapun yang mendasari pilihan mereka. Toh rakyat tidak 
sebodoh yang terkadang kita perkirakan?  
  



 


--- On Tue, 8/6/10, samsul ulum <[email protected]> wrote:

From: samsul ulum <[email protected]>
Subject: Bls: [kendal-online] Semoga itu pilihan nurani............
To: [email protected]
Date: Tuesday, 8 June, 2010, 2:24 PM







 



  


    
      
      
      si mone... menang... bendera setengah tiang berkibar..
ya... mudah 2an si mone bukan money eyes.. tapi benar-benar menepati janji 
kampanye nya..amien

mari kita kawal bersama-sama

samsul ulum

The Forest Trust

wildlife&HCVF specialist

kaliwungu city, kendal, central java

www.tft-forests. org

--- Pada Sen, 7/6/10, Dwi Arif Ikhwanto <dwiarif.ikhwanto@ yahoo.com> menulis:

Dari: Dwi Arif Ikhwanto <dwiarif.ikhwanto@ yahoo.com>
Judul: Bls: [kendal-online] Semoga itu pilihan nurani...... ......
Kepada: kendal-online@ yahoogroups. com
Tanggal: Senin, 7 Juni, 2010, 11:46 PM







 



    
      
      
      

Mau dimana Kendal tercinta, apa mereka buta dengan sepak terjang Bupati 
tersahulu (tanpa mengesampingkan praduga tak bersalah Lho), Apa mereka tidak 
bisa melihat darimana dana untuk kampanye itu berasal.....

Semoga apa yang dicurigakan tidak terjadi...Maju Kendalku..

Dari: Achmad Basuki <achmadbasuki@ yahoo.com>
Kepada: kendal-online@ yahoogroups. com
Terkirim: Sel, 8 Juni, 2010 09:02:42
Judul: [kendal-online] Semoga itu pilihan nurani...... ......








        











Alhamdulillah. ......... selamat kepada segenap masyarakat (ber-KTP) Kendal 
yang telah "sukses" melangsungkan pesta demokrasi dengan memilih calon 
pemimpinnya lima tahun ke depan. Saya, yang saat ini bukan ber-KTP Kendal, tapi 
masih merasa sebagai bagian dari masyarakat Kendal - hanya berharap semoga 
pemimpin yang terpilih memang sesuai dengan nurani dan dapat membuat kendal 
semakin ber-IBADAT dan sejahtera masyarakatnya.
Saya masih jelas teringat lima tahun yang lalu, tentang cerita fenomena 
masyarakat yang masih muncul saat itu. Ketika beberapa tokoh masyarakat dan 
tokoh ulama - menganjurkan "pengikutnya" untuk mencoblos/memilih calon bupati 
tertentu - hanya karena telah menyumbang "tempat ibadahnya" dengan nominal 
tertentu. Jadi, kriteria pemilihan hanya
 didasarkan pada - seberapa besar si calon mampu menyumbang.
Saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala dan tak bisa menyalahkan siapa-siapa. 
Bisa jadi memang masyarakat tidak tahu persis, siapa sih sebenarnya calon-calon 
pemimpinnya, walaupun ada proses debat dan penyampaian visi-misi (yang umumnya 
hanya formalitas dan klise - dengan bahasa muluk yang umum didengar). Salah 
satu cara ya dengan mengukur sifat "kedermawanannya" .
Semoga cerita lima tahun yang lalu tersebut tidak terjadi lagi saat ini (hanya 
harapan...?? ??) dan rakyat memang memilih calon pemimpinnya sudah sesuai 
dengan hati nurani, sesuai keinginan agar dapat tercipta kendal yang lebih 
sejahtera.
Kita tunggu dan lihat saja, semoga bupati yang akan datang dapat mewujudkan 
janji-janjinya, sesuai dengan visi-misi nya sebagai pemimpin Kendal. Amiiin.
 Achmad Basuki, ST.,
 MT.  http://achmadbasuki .wordpress. com
+ Civil Engineering Dept., Faculty of Engineering 
   Sebelas Maret University      Jl. Ir. Sutami 36A SOLO - Jawa Tengah - 
Indonesia 57126 
   Telp. +628122636426 - +62-0271-7917565 
   Fax. +62-0271-634524




      








    
    











    
     



 





    
     

    
    


 



  





Kirim email ke