Hampir tiap hari, selama 2-3 minggu ini, berita infotainment selalu dibombardir dengan kata depan yang selalu sama, yaitu "pelaku mirip". Mirip LunMay, mirip Arl, Mirip CutTar. Asyiknya melihat ini bukan pada mereka, karena sudah ceto welo-welo. Tapi ada beberapa figur baru yang bercuap-cuap bak pahlawan kesiangan. Ada pengacara yang berkesan pejuang kebersihan moral, dengan kesan dia bersih dari trake record sejenis. Ada ahli IT yang sigap cuci tangan, lalu nimbrung main serang, karena waktu di luar negeri blum lihat filmnya. Emange film-e gak online? Ada penegak hukum yang ragu menentukan siapa tersangkanya. Ada Big Boss yang ingin pelakunya dijerat hukum. Aku jadi seyem ingat berita bahwa selama 10 tahun terakhir ada 800an film sejenis yang beredar di dunia maya. Kalo mau adil, ya semuanya diadili. Gitu to? (akunya mikir sebagai orang awam). Belum lagi film-film yang belum diupload. Menurutku, "tig sekawan" itu dibombardir bukan karena perilaku berfilm tanpa editing n sensor. Mereka dibegitukan karena public figur yang benar-benar super terkenal. Ingat gak dulu waktu anggota dewan dengan pemain dangdut, toh gak se-booming sekarang. Dulu malah kalah berita dengan "poligami-nya si AA". Itulah sekian % memang ada mainan media di dalamnya. Mana-mana yang menjual, akan dikupas terus. Benar salah itu mah belakangan....... Silahkan ditanggapi... Ki Asmoro Jiwo

