Mendinginkan Bangunan Secara Natural
Problematika yang sering dialami 
oleh bangunan di iklim tropis adalah kebutuhan untuk melakukan proses 
pendinginan di dalam area bangunan tersebut. Hampir 40% dari energi yang 
terpakai di bangunan digunakan untuk memproduksi  udara sejuk. 
Mengingat wilayah tropis kaya akan sinar matahari yang tentunya 
menghasilkan panas yang lebih tinggi dari wilayah belahan bumi di utara 
dan selatan. Seiring dengan meningkatnya kepedulian manusia akan 
perlunya penghematan energi, beberapa ilmuwan di wilayah tropis telah 
melakukan riset yang komprehensif terhadap kebutuhan pendinginan 
bangunan secara natural.
Tulisan saya kali ini adalah bagian dari oleh-oleh saat mendampingi mahasiswa 
Energy FoS, AIT mengunjungi  The Energy Demonstration Center, Energy 
Conservation Building milik Department of Alternative Energy Development and 
Efficiency 
(DEDE), Ministry of Energy Thailand, mungkin tulisan ini akan 
terdengar agak ilmiah bagi pembaca yang tidak mempunyai background dalam bidang 
energy building. Namun saya akan mencoba sebisa mungkin untuk membahasakannya 
secara populer, karena saya pikir informasi ini 
akan sangat bermanfaat bagi kita yang tinggal di daerah tropis dalam 
memahami bangunan tempat tinggal kita.
Home sweet home, atau rumahku 
istanaku, seringkali kita dengar. Ya, karena rumah atau bangunan 
merupakan tempat kita berteduh dari panas dan hujan, serta tempat 
menikmati segala aktivitas private kita dengan nyaman. Desain bangunan 
yang salah tidak akan menghasilkan rumah/bangunan tersebut menjadi 
nyaman. Bahkan kalau seperti di Indonesia, desain bangunan yang salah 
bisa-bisa mengakibatkan suhu udara di dalam rumah terasa lebih panas 
dari pada di luar. Solusinya kita terpaksa menyalakan AC (air 
conditioner) untuk merekayasa kondisi udara di dalam ruangan 
menjadi lebih dingin. Padahal, AC adalah salah satu peralatan listrik 
yang mengkonsumsi banyak energi listrik. Akibatnya dengan menyalakan AC 
terus menerus tentu akan membuat tagihan rekening listrik melonjak 
drastis.
DEDE Thailand berusaha membuat sebuah 
project energy conservation building yang bisa dicontoh oleh masyarakat 
umum. Contoh bangunan ini memberikan solusi kepada masyarakat bagaimana 
cara mendinginkan bangunan secara natural, menggunakan pencahayaan 
secara natural (day lighting) tanpa mendatangkan panas dan pada akhirnya juga 
secara overall project tersebut ingin 
memperlihatkan hasil penghematan energi yang digunakan oleh bangunan 
secara signifikan dengan cara memperlihatkan desain bangunan, lingkungan 
sekitarnya dan juga peralatan listrik yang digunakan.
Halaman depan Energy 
Conservation Building (Photo Courtesy of DEDE)

Di artikel awal ini, saya ingin 
menjelaskan tentang pentingnya meningkatkan keadaan sekitar rumah 
sebagai bagian dari upaya untuk mendinginkan bangunan rumah, teknik yang lain 
dalam pendinginan dan juga penghematan energi  dalam bangunan akan saya 
jelaskan di tulisan-tulisan saya selanjutnya. Hal awal yang 
terlihat sepele namun bermanfaat dalam mendinginkan bangunan kita adalah dengan 
cara menanam pepohonan di sekitar bangunan. Berdasarkan hasil 
riset di iklim tropis, dengan temperatur udara  di atmosphere sekitar 35 
Celcius dan kelembaban sekitar 60%, akan dapat direduksi oleh 
pohon-pohon besar yang melingkupi bangunan kita menjadi sekitar 34 
Celcius dan kelembaban 70%. Sedangkan bila kita menanam pohon-pohon 
kecil di sekitar pohon-pohon besar tersebut, akan turut mengurangi suhu 
udara menjadi 32 Celcius dan meningkatkan kelembaban  udara menjadi 80%.
Pengaruh pohon terhadap 
suhu udara di sekitarnya (Photo Courtesy of DEDE)
Selanjutnya yang perlu diperhatikan 
adalah halaman rumah kita, akan lebih baik jika kita menanam rumput 
sebagai halaman dari pada melakukan pavingisasi. Rumput yang ada di 
halaman rumah juga berfungsi untuk mereduksi suhu udara, sedangkan 
paving/beton justru akan meningkatkan suhu udara. Sebagai gambaran, dari hasil 
pereduksian yang dilakukan oleh pohon besar, pohon kecil, dan 
juga rumput, akan mengurangi suhu udara dari 35 Celcius menjadi 29 
Celcius. Nah, jika kita menanam pohon besar dan kecil, namun menggunakan lantai 
halaman dengan paving, suhu udara hanya akan menjadi sekitar 30 
Celcius. Lain halnya jika kita tidak menanam apapun, namun menggunakan 
paving pada halaman rumah, maka suhu udara akan naik menjadi 40 Celcius, 
fenomena ini secara ilmiah disebut Albedo.
Pengaruh jenis lantai 
halaman bangunan terhadap suhu udara di sekitarnya(Photo 
Courtesy of DEDE)
Pondasi rumah juga dapat membantu 
mendinginkan suhu udara, bentuk yang ideal adalah dengan cara membuat 
lantai rumah kita lebih rendah dari pada tinggi tanah disekitarnya. Hal 
ini akan membantu terjadinya transfer suhu dingin dari tanah ke dalam 
bangunan.
Pengaruh letak lantai 
terhadap ketinggian tanah terhadap suhu udara di dalam bangunan (Photo Courtesy 
of DEDE)
Yang terakhir, dan agak sulit di 
terapkan dalam rumah di Indonesia, adalah menggunakan sarana kolam air 
sebagai sarana untuk mendinginkan aliran udara di sekitar. Air yang ada 
di kolam akan menyerap panas dari udara yang mengalir dan secara 
otomatis udara yang mengalir di dalam rumah akan menjadi lebih dingin.
Pengaruh kolam air untuk 
mendinginkan aliran udara yang akan masuk ke dalam bangunan (Photo Courtesy of 
DEDE)
Apabila semua teknik tersebut dipadukan 
secara bersama, maka udara yang akan mengalir ke dalam ruangan berkisar 
25-27 Celcius. Cukup lumayan untuk membuat udara di dalam rumah anda 
menjadi sejuk tanpa perlu menyalakan AC.
 Best Regards, 


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/
http://energyplanning.wordpress.com 


      

Kirim email ke