Yap betul mas Anto, Selain masalah lingkungan, sebenarnya ada masalah lain, yakni desain rumah itu sendiri
Orang kota kita sudah salah kaprah dengan yg namanya desain rumah, terutama para arsitek kita. Kebanyakan rumah2 di kota itu berdesain ala Eropa, padahal kita tinggal di wilayah yg beriklim tropis. Secara estetika seh mungkin bangunan2 minimalis ala barat itu lebih indah dipandang. Tapi justru ternyata bangunan2 seperti itu hanya cocok untuk iklim dingin yg butuh banyak energy/panas masuk ke dalam rumah. Sebenarnya kalau kita mau lebih menghayati warisan arsitektur asli Indonesia, misal rumah Joglo dengan atap yg tinggi dan berbentuk semacam piramid diatasnya, itu justru lebih friendly dengan iklim tropis kita yg hangat, sehingga di dalam rumah terasa sejuk. Salam, Ery Wijaya http://erywijaya.wordpress.com/ http://energyplanning.wordpress.com ________________________________ From: moh anto <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, 1 July, 2010 12:04:18 Subject: Bls: [kendal-online] Mendinginkan Bangunan Secara Natural ada satu hal yg perlu kita cermati mengenai ulasan mas ery ini, bahwa saat ini di perkotaan di seluruh Indonesia ada kecenderungan membangun rumah dgn memanfaatkan keseluruhan luas tanah yg ada untuk didirikan bangunan. dengan demikian tentu desain dari bangunan lah yg diharapkan mampu dan mungkin bisa mereduksi panas yg masuk ke dalam rumah, dan hal ini amat sangat berbeda dengan kondisi ideal dalam ulasan panjenengan. sedangkan di kawasan pedesaan memang masih memungkinkan untuk pendinginan natural karena masih ada lahan yg belum termanfaatkan untuk bangunan. artinya bahwa pendinginan secara natural terlihat sulit untuk diterapkan apabila di dalam mendesain dan membangun gedung atau perumahan tidak memperhatikan kondisi lingkungan dan sosial dmana berada. --- Pada Ming, 27/6/10, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> menulis: >Dari: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> >Judul: [kendal-online] Mendinginkan Bangunan Secara Natural >Kepada: kendal-online@ yahoogroups. com >Tanggal: Minggu, 27 Juni, 2010, 9:43 PM > > >> > > > > > > > >> > >Mendinginkan Bangunan Secara Natural >Problematika yang sering dialami >oleh bangunan di iklim tropis adalah kebutuhan untuk melakukan proses >pendinginan di dalam area bangunan tersebut. Hampir 40% dari energi yang > terpakai di bangunan digunakan untuk memproduksi udara sejuk. >Mengingat wilayah tropis kaya akan sinar matahari yang tentunya >menghasilkan panas yang lebih tinggi dari wilayah belahan bumi di utara >dan selatan. Seiring dengan meningkatnya kepedulian manusia akan >perlunya penghematan energi, beberapa ilmuwan di wilayah tropis telah >melakukan riset yang komprehensif terhadap kebutuhan pendinginan >bangunan secara natural. >Tulisan saya kali ini adalah bagian dari > oleh-oleh saat mendampingi mahasiswa Energy FoS, AIT mengunjungi The > Energy Demonstration Center, Energy Conservation Building > milik Department > of Alternative Energy Development and Efficiency >(DEDE), Ministry of Energy Thailand, mungkin tulisan ini akan >terdengar agak ilmiah bagi pembaca yang tidak mempunyai background dalam > bidang energy building. Namun saya akan mencoba sebisa mungkin > untuk membahasakannya secara populer, karena saya pikir informasi ini >akan sangat bermanfaat bagi kita yang tinggal di daerah tropis dalam >memahami bangunan tempat tinggal kita. >Home sweet home, atau rumahku >istanaku, seringkali kita dengar. Ya, karena rumah atau bangunan >merupakan tempat kita berteduh dari panas dan hujan, serta tempat >menikmati segala aktivitas private kita dengan nyaman. Desain bangunan >yang salah tidak akan menghasilkan rumah/bangunan tersebut menjadi >nyaman. Bahkan kalau seperti di Indonesia, desain bangunan yang salah >bisa-bisa mengakibatkan suhu udara di dalam rumah terasa lebih panas >dari pada di luar. Solusinya kita terpaksa menyalakan AC (air >conditioner) untuk merekayasa kondisi udara di dalam ruangan >menjadi lebih dingin. Padahal, AC adalah salah satu peralatan listrik >yang mengkonsumsi banyak energi listrik. Akibatnya dengan menyalakan AC >terus menerus tentu akan membuat tagihan rekening listrik melonjak >drastis. >DEDE Thailand berusaha membuat sebuah >project energy conservation building yang bisa dicontoh oleh masyarakat >umum. Contoh bangunan ini memberikan solusi kepada masyarakat bagaimana >cara mendinginkan bangunan secara natural, menggunakan pencahayaan >secara natural (day lighting) tanpa mendatangkan panas > dan pada akhirnya juga secara overall project tersebut ingin >memperlihatkan hasil penghematan energi yang digunakan oleh bangunan >secara signifikan dengan cara memperlihatkan desain bangunan, lingkungan > sekitarnya dan juga peralatan listrik yang digunakan. >Halaman depan Energy >Conservation Building (Photo Courtesy of DEDE) > >Di artikel awal ini, saya ingin >menjelaskan tentang pentingnya meningkatkan keadaan sekitar rumah >sebagai bagian dari upaya untuk mendinginkan bangunan rumah, teknik yang > lain dalam pendinginan dan juga penghematan energi dalam bangunan akan > saya jelaskan di tulisan-tulisan saya selanjutnya. Hal awal yang >terlihat sepele namun bermanfaat dalam mendinginkan bangunan kita adalah > dengan cara menanam pepohonan di sekitar bangunan. Berdasarkan hasil >riset di iklim tropis, dengan temperatur udara di atmosphere sekitar 35 > Celcius dan kelembaban sekitar 60%, akan dapat direduksi oleh >pohon-pohon besar yang melingkupi bangunan kita menjadi sekitar 34 >Celcius dan kelembaban 70%. Sedangkan bila kita menanam pohon-pohon >kecil di sekitar pohon-pohon besar tersebut, akan turut mengurangi suhu >udara menjadi 32 Celcius dan meningkatkan kelembaban udara menjadi 80%. >Pengaruh pohon terhadap >suhu udara di sekitarnya (Photo Courtesy of DEDE) >Selanjutnya yang perlu diperhatikan >adalah halaman rumah kita, akan lebih baik jika kita menanam rumput >sebagai halaman dari pada melakukan pavingisasi. Rumput yang ada di >halaman rumah juga berfungsi untuk mereduksi suhu udara, sedangkan >paving/beton justru akan meningkatkan suhu udara. Sebagai gambaran, dari > hasil pereduksian yang dilakukan oleh pohon besar, pohon kecil, dan >juga rumput, akan mengurangi suhu udara dari 35 Celcius menjadi 29 >Celcius. Nah, jika kita menanam pohon besar dan kecil, namun menggunakan > lantai halaman dengan paving, suhu udara hanya akan menjadi sekitar 30 >Celcius. Lain halnya jika kita tidak menanam apapun, namun menggunakan >paving pada halaman rumah, maka suhu udara akan naik menjadi 40 Celcius, > fenomena ini secara ilmiah disebut Albedo. >Pengaruh jenis lantai >halaman bangunan terhadap suhu udara di sekitarnya(Photo >Courtesy of DEDE) >Pondasi rumah juga dapat membantu >mendinginkan suhu udara, bentuk yang ideal adalah dengan cara membuat >lantai rumah kita lebih rendah dari pada tinggi tanah disekitarnya. Hal >ini akan membantu terjadinya transfer suhu dingin dari tanah ke dalam >bangunan. >Pengaruh letak lantai >terhadap ketinggian tanah terhadap suhu udara di dalam bangunan (Photo > Courtesy of DEDE) >Yang terakhir, dan agak sulit di >terapkan dalam rumah di Indonesia, adalah menggunakan sarana kolam air >sebagai sarana untuk mendinginkan aliran udara di sekitar. Air yang ada >di kolam akan menyerap panas dari udara yang mengalir dan secara >otomatis udara yang mengalir di dalam rumah akan menjadi lebih dingin. >Pengaruh kolam air untuk >mendinginkan aliran udara yang akan masuk ke dalam bangunan (Photo > Courtesy of DEDE) >Apabila semua teknik tersebut dipadukan >secara bersama, maka udara yang akan mengalir ke dalam ruangan berkisar >25-27 Celcius. Cukup lumayan untuk membuat udara di dalam rumah anda >menjadi sejuk tanpa perlu menyalakan AC. > Best Regards, > > >Ery Wijaya >http://erywijaya. wordpress. com/ >http://energyplanni ng.wordpress. com > > > > > >

