Satu lagi yg mungkin perlu di ingat adalah material bangunan yang lebih cocok 
untuk daerah tropis adalah kayu dan saat ini produk kayu jujur saja sangat 
mahal untuk digunakan membangun rumah atau gedung, berbeda dengan produk beton 
yg lebih hemat dalam anggaran.

--- Pada Ming, 4/7/10, ery wijaya <[email protected]> menulis:

Dari: ery wijaya <[email protected]>
Judul: Re: Bls: [kendal-online] Mendinginkan Bangunan Secara Natural
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 4 Juli, 2010, 8:41 PM







 



  


    
      
      
      Yap betul mas Anto, Selain masalah lingkungan, sebenarnya ada masalah 
lain, yakni desain rumah itu sendiri

Orang kota kita sudah salah kaprah dengan yg namanya desain rumah, terutama 
para arsitek kita. Kebanyakan rumah2 di kota itu berdesain ala Eropa, padahal 
kita tinggal di wilayah yg beriklim tropis. Secara estetika seh mungkin 
bangunan2 minimalis ala barat itu lebih indah dipandang. Tapi justru ternyata 
bangunan2 seperti itu hanya cocok untuk iklim dingin yg butuh banyak 
energy/panas masuk ke dalam rumah.

Sebenarnya kalau kita mau lebih menghayati warisan arsitektur asli Indonesia, 
misal rumah Joglo dengan atap yg tinggi dan berbentuk semacam piramid 
diatasnya, itu justru lebih friendly dengan iklim tropis kita yg hangat, 
sehingga di dalam rumah terasa
 sejuk.
 Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/
http://energyplanni ng.wordpress. com 


  

From: moh anto <anto_sarimanan@ yahoo.com>
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Sent: Thu, 1 July, 2010 12:04:18
Subject: Bls: [kendal-online] Mendinginkan Bangunan Secara Natural








 



    
      
      
      ada satu hal yg perlu kita cermati mengenai ulasan mas ery ini, bahwa 
saat ini di perkotaan di seluruh Indonesia ada kecenderungan membangun rumah 
dgn memanfaatkan keseluruhan luas tanah yg ada untuk didirikan bangunan. dengan 
demikian tentu desain dari bangunan lah yg diharapkan mampu dan mungkin bisa 
mereduksi panas yg masuk ke dalam rumah, dan hal ini amat sangat berbeda dengan 
kondisi ideal dalam ulasan panjenengan. sedangkan di kawasan pedesaan memang 
masih memungkinkan untuk pendinginan natural karena masih ada lahan yg belum 
termanfaatkan untuk bangunan. artinya bahwa pendinginan secara natural terlihat 
sulit untuk diterapkan apabila di dalam mendesain dan membangun gedung atau 
perumahan tidak memperhatikan kondisi lingkungan dan sosial dmana berada.

--- Pada Ming, 27/6/10, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co.
 uk>
 menulis:

Dari: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
Judul: [kendal-online] Mendinginkan Bangunan Secara Natural
Kepada: kendal-online@ yahoogroups. com
Tanggal: Minggu, 27 Juni, 2010, 9:43 PM







 



    
      
      
      Mendinginkan Bangunan Secara Natural
        
                        
                                Problematika yang sering dialami 
oleh bangunan di iklim tropis adalah kebutuhan untuk melakukan proses 
pendinginan di dalam area bangunan tersebut. Hampir 40% dari energi yang
 terpakai di bangunan digunakan untuk memproduksi  udara sejuk. 
Mengingat wilayah tropis kaya akan sinar matahari yang tentunya 
menghasilkan panas yang lebih tinggi dari wilayah belahan bumi di utara 
dan selatan. Seiring dengan meningkatnya kepedulian manusia akan 
perlunya penghematan energi, beberapa ilmuwan di wilayah tropis telah 
melakukan riset yang komprehensif terhadap kebutuhan pendinginan 
bangunan secara natural.
Tulisan saya kali ini adalah bagian dari
 oleh-oleh saat mendampingi mahasiswa Energy FoS, AIT mengunjungi  The
 Energy Demonstration Center, Energy Conservation Building
 milik Department of Alternative Energy Development and Efficiency 
(DEDE), Ministry of Energy Thailand, mungkin tulisan ini akan 
terdengar agak ilmiah bagi pembaca yang tidak mempunyai background dalam
 bidang energy building. Namun saya akan mencoba sebisa mungkin
 untuk membahasakannya secara populer, karena saya pikir informasi ini 
akan sangat bermanfaat bagi kita yang tinggal di daerah tropis dalam 
memahami bangunan tempat tinggal kita.
Home sweet home, atau rumahku 
istanaku, seringkali kita dengar. Ya, karena rumah atau bangunan 
merupakan tempat kita berteduh dari panas dan hujan, serta tempat 
menikmati segala aktivitas private kita dengan nyaman. Desain bangunan 
yang salah tidak akan menghasilkan rumah/bangunan tersebut menjadi 
nyaman. Bahkan kalau seperti di Indonesia, desain bangunan yang salah 
bisa-bisa mengakibatkan suhu udara di dalam rumah terasa lebih panas 
dari pada di luar. Solusinya kita terpaksa menyalakan AC (air 
conditioner) untuk merekayasa kondisi udara di dalam ruangan 
menjadi lebih dingin. Padahal, AC adalah salah satu peralatan listrik 
yang mengkonsumsi banyak energi listrik. Akibatnya dengan menyalakan AC 
terus menerus tentu akan membuat tagihan rekening listrik melonjak 
drastis.
DEDE Thailand berusaha membuat sebuah 
project energy conservation building yang bisa dicontoh oleh masyarakat 
umum. Contoh bangunan ini memberikan solusi kepada masyarakat bagaimana 
cara mendinginkan bangunan secara natural, menggunakan pencahayaan 
secara natural (day lighting) tanpa mendatangkan panas
 dan pada akhirnya juga secara overall project tersebut ingin 
memperlihatkan hasil penghematan energi yang digunakan oleh bangunan 
secara signifikan dengan cara memperlihatkan desain bangunan, lingkungan
 sekitarnya dan juga peralatan listrik yang digunakan.
Halaman depan Energy 
Conservation Building (Photo Courtesy of DEDE)


Di artikel awal ini, saya ingin 
menjelaskan tentang pentingnya meningkatkan keadaan sekitar rumah 
sebagai bagian dari upaya untuk mendinginkan bangunan rumah, teknik yang
 lain dalam pendinginan dan juga penghematan energi  dalam bangunan akan
 saya jelaskan di tulisan-tulisan saya selanjutnya. Hal awal yang 
terlihat sepele namun bermanfaat dalam mendinginkan bangunan kita adalah
 dengan cara menanam pepohonan di sekitar bangunan. Berdasarkan hasil 
riset di iklim tropis, dengan temperatur udara  di atmosphere sekitar 35
 Celcius dan kelembaban sekitar 60%, akan dapat direduksi oleh 
pohon-pohon besar yang melingkupi bangunan kita menjadi sekitar 34 
Celcius dan kelembaban 70%. Sedangkan bila kita menanam pohon-pohon 
kecil di sekitar pohon-pohon besar tersebut, akan turut mengurangi suhu 
udara menjadi 32 Celcius dan meningkatkan kelembaban  udara menjadi 80%.
Pengaruh pohon terhadap 
suhu udara di sekitarnya (Photo Courtesy of DEDE)
Selanjutnya yang perlu diperhatikan 
adalah halaman rumah kita, akan lebih baik jika kita menanam rumput 
sebagai halaman dari pada melakukan pavingisasi. Rumput yang ada di 
halaman rumah juga berfungsi untuk mereduksi suhu udara, sedangkan 
paving/beton justru akan meningkatkan suhu udara. Sebagai gambaran, dari
 hasil pereduksian yang dilakukan oleh pohon besar, pohon kecil, dan 
juga rumput, akan mengurangi suhu udara dari 35 Celcius menjadi 29 
Celcius. Nah, jika kita menanam pohon besar dan kecil, namun menggunakan
 lantai halaman dengan paving, suhu udara hanya akan menjadi sekitar 30 
Celcius. Lain halnya jika kita tidak menanam apapun, namun menggunakan 
paving pada halaman rumah, maka suhu udara akan naik menjadi 40 Celcius,
 fenomena ini secara ilmiah disebut Albedo.
Pengaruh jenis lantai 
halaman bangunan terhadap suhu udara di sekitarnya (Photo 
Courtesy of DEDE)
Pondasi rumah juga dapat membantu 
mendinginkan suhu udara, bentuk yang ideal adalah dengan cara membuat 
lantai rumah kita lebih rendah dari pada tinggi tanah disekitarnya. Hal 
ini akan membantu terjadinya transfer suhu dingin dari tanah ke dalam 
bangunan.
Pengaruh letak lantai 
terhadap ketinggian tanah terhadap suhu udara di dalam bangunan (Photo
 Courtesy of DEDE)
Yang terakhir, dan agak sulit di 
terapkan dalam rumah di Indonesia, adalah menggunakan sarana kolam air 
sebagai sarana untuk mendinginkan aliran udara di sekitar. Air yang ada 
di kolam akan menyerap panas dari udara yang mengalir dan secara 
otomatis udara yang mengalir di dalam rumah akan menjadi lebih dingin.
Pengaruh kolam air untuk 
mendinginkan aliran udara yang akan masuk ke dalam bangunan (Photo
 Courtesy of DEDE)
Apabila semua teknik tersebut dipadukan 
secara bersama, maka udara yang akan mengalir ke dalam ruangan berkisar 
25-27 Celcius. Cukup lumayan untuk membuat udara di dalam rumah anda 
menjadi sejuk tanpa perlu menyalakan AC. Best Regards, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/
http://energyplanni ng.wordpress. com 


  






      

    
     



 





    
     










      

    
     

    
    


 



  





Kirim email ke