Benar pak, dgn dedicated tsb, penyumbang lagu yg blm prof pasti sdh tahu kapan hrs mulai bernyanyinya. Jg sesudah interlude / bridge, karena style tsb sdh di aransemen persis lagu aslinya maka si penyanyi pasti sdh tahu kapan hrs mulai lagi. Kalau mau pakai style standart atau mirip2 memang bisa tapi perlu latihan dulu sama penyanyinya biar tdk salah masuk.
Utk lagu2 jadul, sebagian besar saat intro / interlude rada2 simple, nah kalau lagu baru2, intro dan interlude nya bs ngejelimet tuh, kalau dimainkan live sangat tdk mungkin deh, belum saat interlude ada lead dgn alat musik yg berbeda beda dan saling nyambung menyambung, kalau sdh begini, dijamin, main live tdk akan bisa. Utk lagu jadul, coba saja simak intro lagu 'Only You' The Platters, dimainkan live dgn style standart, tdk akan ada yg cocok. Poin ke 3 benar jg tuh pak, saya jg kadang saat demo disuruh memainkan lagu tertentu, kadang bingung, kalau ada intro style dedicated, langsung ingat. Memang tdk salah menggunakan style standart atau yg mirip2 tapi memang lbh banyak nilai plus nya dibanding nilai minus nya kalau pakai style dedicated. TIA, P. Tjandra. Jkt. --- In [email protected], Sudibyanto Yanto <yanto_sudibya...@...> wrote: > > Style mirip lagu aslinya (dedicated) menurut saya banyak keuntungannya: > > Pertama, hampir ada jaminan bahwa musik yang disajikan akan bisa diterima oleh pendengar, apalagi oleh si penyanyi penyumbang apalagi, karena memang mereka biasanya sudah pernah mendengarnya, paling tidak pasti terdengar tidak aneh. Yang kurang menerima, prosentasinya pasti tidak banyak. > Kedua, ada kesan bahwa si pemain telah siap dengan sebaik baiknya, paling tidak membuat style, merangkai, atau memadukan style dari berbagai style (ini sangat mungkin), dan pasti sudah akrab dengan style tsb > Ketiga, membantu kita untuk mengingat, khususnya bagian intro, karena maklum, kita manusia, ada sifat lupa, apalagi kalau sudah di atas panggung, yang hadir orang orang terpandang dst. Intro ini akan sangat membantu penyanyi penyumbang untuk mengetahui kapan harus mulai. > > Soal lagu pop di koplokan, atau di congdutkan, bisa bisa saja. Ya kita siapkan lagu pop yang di koplokan dengan intro dan kalau bisa intersectionnya mirip juga. > > Disini peran perakit style menjadi sangat penting, puentingggg !!!!! sekali, dan banyak pakar disini (mudah mudahan merelakan untuk di sharing ho ho ho......... gak enak buntutnya maaf) > > Kekurangannya ? ada ! > Antara lain diperlukan koleksi style yang banyak dengan konsekuensi perlu manajemen file yang baik > Namun demikian, untuk KB tertentu, (E50, 60, 80 misalnya ) hal tersebut sama sekali tidak masalah, berapun jumlah stylenya, asal kita konsisten dan terstruktur dalam menamai judul lagu. dan itu bisa disiapkan di rumah. >
