Spirit Baru Ki Sunda

Oleh Ahmad Zakiyuddin

Pada tanggal 26 Juli s.d 27 Juli 2010 Paguyu- ban Pasundan baru saja
melaksanakan kongresnya yang ke- 41. Kongres tersebut sejatinya memunculkan
harapan dan inovasi baru tidak sebatas rutinitas pergantian kepemimpinan
Paguyuban Pasundan. Kongres seharusnya memunculkan spirit baru bagi
perubahan harkat dan martabat Ki Sunda, yaitu menjadi fasilitator,
dinamisator, dan katalisator perubahan sosial masyarakat Sunda menuju
masyarakat unggul dina sagala widang kahirupan sebagaimana filosofi urang
Sunda anu nyunda, nyantri, nyakola sareung nyantika.

Paguyuban Pasundan semenjak berdiri sesungguhnya telah menorehkan semangat
perubahan bagi Ki Sunda, khususnya terhadap generasi muda Sunda. Hal ini
tercermin dari sosok dan karakter Oto Iskandardinata yang memiliki perhatian
luar biasa terhadap generasi muda Sunda. Oto Iskandardinata menunjukkan jati
diri orang Sunda anu sajati, anu teu unggut kalinduan teu gedag kaanginan
tur leber wawanen.

Oto Iskandardinata menganjurkan, "Pemuda Sunda! Kalau kalian tidak
sungguh-sungguh mengasah diri, bukan mustahil, kalian di tanah air sendiri
tidak akan mendapat bagian, terpaksa terus berkosong tangan, sebab kalah
oleh golongan lain. Oleh sebab itu, para pemuda Sunda, cepat buka mata,
cepat kumpulkan tenaga dan senjata, yang dibangun dengan pengetahuan adat
tabiat yang kokoh, yaitu kesungguhan, kemauan, ketekunan, niat yang kuat,
dan keberanian. Kalau tidak demikian, sia-sialah, pasti pemuda Sunda
terdesak di medan perang dalam mencari penghidupan."

Namun, saat ini, spirit Oto Iskandardinata hanya menjadi kertas sejarah,
bahkan semangat kaderisasi regenerasi di Paguyuban Pasundan kian memudar.
Salah satu indikasinya, Paguyuban Pasundaan belum maksimal melakukan
transformasi regenerasi Ki Sunda.

Moralitas kolektif

Hasil Kongres ke-41 Paguyuban Pasundan harus dijadikan arena pendidikan
politik bagi masyarakat Jawa Barat dengan mewujudkan kepemimpinan Paguyuban
Pasundan ke depan yang berketeladanan dan berkarakter. Kongres semestinya
menunjukkan performa demokrasi sejati yang senantiasa menjunjung tinggi
moralitas kolektif demi kepentingan masyarakat, bukan mempertahankan ambisi
sempit kelompok elite Paguyuban Pasundan.

Proses demokrasi yang menjunjung tinggi moralitas kolektif perlu ditegakkan
dalam memajukan dan dalam pengambilan keputusan organisasi Paguyuban
Pasundan. Alasannya, pertama, Paguyuban Pasundan adalah organisasi tertua
Sunda yang merupakan milik publik. Keterlibatan kolektivitas publik
sesungguhnya modal utama dalam memberikan asupan gizi bagi pertumbuhan
Paguyuban Pasundan. Asupan gizi tersebut diharapkan memberikan spektrum
warna pelangi yang akan berdampak keseimbangan organisasi. Warna pelangi
membuat Paguyuban Pasundan terlihat menawan dan tidak kaku.

Kedua, berdirinya Paguyuban Pasundan sejatinya wujud "ijtihad kolektif"
tokoh-tokoh Sunda masa lalu agar Paguyuban Pasundan menjadi "obor" dalam
mengangkat harkat dan martabat Ki Sunda. Ijtihad kolektif akan lebih
memiliki makna substansial untuk kesejahteraan masyarakat seandainya
Paguyuban Pasundan membuka ruang seluas-luasnya untuk hadirnya dialektika
lintas generasi, termasuk kritik, saran, dan masukan konstruktif sehingga
elemen-elemen Ki Sunda merasa memiliki dalam memajukan Paguyuban Pasundan.

Ketiga, dengan moralitas kolektif, segala tindakan organisasi akan mampu
memberi manfaat yang luas bagi masyarakat. Apa pun konsekuensi logis dari
semua keputusan yang diambil yang melibatkan moralitas kolektif akan
menjadikan nasihat dan pelajaran terbaik bagi kelangsungan kehidupan sosial
berikutnya.

Keteladanan

Terwujudnya kepemimpinan yang berketeladanan merupakan fokus prasyarat utama
dan terpenting bagi pemulihan Ki Sunda dari deraan multikrisis
berkepanjangan. Ketua Umum Paguyuban Pasundan ke depan harus mengembangkan
dan mencontohkan kepemimpinan yang berketeladanan. Pertama, keteladanan
dalam membangun hubungan yang harmonis dan sinergis dengan berbagai pihak.
Kedua, keteladanan dalam menjalankan kebijakan dengan komitmen dan
konsistensi tinggi dalam menjalankan amanah organisasi. Ketiga, keteladanan
dalam mewujudkan keberpihakan nyata kepada masyarakat Sunda. Keempat,
keteladanan untuk menghindarkan dan menjauhkan Paguyuban Pasundan dari sikap
pragmatis dengan hanya menyandarkan roda organisasi pada figur yang memiliki
jabatan untuk diangkat menjadi pengurus Paguyuban Pasundan daripada
menciptakan pengaderan generasi muda Sunda. Pendekatan pragmatisme
memunculkan kesan, Paguyuban Pasundan hanya alat politik pihak-pihak
tertentu untuk menjadi bemper politik dan hukum, padahal secara real tidak
memiliki implikasi manfaat apa pun terhadap proses peningkatan SDM dan
regenerasi Ki Sunda.

Sudah saatnya Paguyuban Pasundan bangun dari tidur panjangnya. Sudah saatnya
Paguyuban Pasundan tidak terjebak pada pragmatisme politik dan menjadikan
lembaga sebagai underbow partai politik dan tokoh tertentu. Paguyuban
Pasundan yang dinantikan adalah Paguyuban Pasundan yang memiliki sense of
crisis terhadap masyarakat dan peduli memperjuangkan kaderisasi dan
regenerasi kepemimpinan dan peduli terhadap pemberdayaan Ki Sunda.***

Penulis, Presidium ICMI Muda Pusat, dan alumnus Universitas Pasundan.

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=150390

Kirim email ke