Dulurs, Mindeng pisan 'semah' teh parasea di buruan urang, padahal mah teu perelu kitu atuh sabab ngerakeun sorangan jeung ajaranana. Pulisi oge saolah-olah ngabenerkeun kalakuan sarupaning kitu teh sabab sigana embung urusan jeung massa radikal, tapi mun diantepkeun wae bakal leuwih loba deui kajadian anu sarupa isuk jaganing geto. Jadi ceuk kuring, wayahna ajaran Shiah, Ahmadiyah, Jamaah Tableg, KW-9, tarekat, jrrd.........'ADALAH BEBAS SELAMA TIDAK MELANGGAR NORMA HUKUM', halingkeun heula norma agama mah sabab masing-masing agama ngabenerkeun naon-naon anu dipilampah ku umatna salila make pedoman Kitab Suci.
________________________________ From: Gunawan Yusuf <[email protected]> To: kisunda <[email protected]>; WongBanten <[email protected]> Sent: Friday, December 30, 2011 10:01 AM Subject: [kisunda] Pesantren Warga Syiah di Madura Dibakar Massa Pesantren Warga Syiah di Madura Dibakar Massa VIVAnews - Sejumlah warga membakar pesantren Misbahul Huda milik warga Syiah di dusun Nangkernang, Sampang, Madura sekitar pukul 09.15 WIB pagi tadi. Tidak hanya pesantren, tiga rumah milik warga Syiah juga dibakar. Iklil Al Milal, warga Syiah di Nangkernang menyayangkan sikap aparat keamanan yang tidak bisa mengantisipasi aksi brutal massa. "Kami sudah memberitahukan bahwa ada rencana pembakaran. Tapi setelah rata dengan tanah, petugas baru datang. Polisi sudah tahu akan ada pembakaran, karena saya sudah lapor," tuturnya kepada VIVAnews.com, Kamis 29 Desember 2011. Bahkan saat ini, sekelompok warga yang mengatasnamakan kelompok Sunni itu masih beringas untuk membakar rumah warga Syiah di dusun itu. Termasuk rumah milik Milal. Untuk menghindari amuk massa, beberapa warga Syiah, kata Milal sudah mengungsi ke tempat lain. "Saya dan keluarga sudah tidak di rumah," katanya. Milal menuturkan, keberadaan warga Syiah di dusun Nangkernang sudah sejak tahun 1980-an. Namun, beribadah secara terang-terangan baru berlangsung pada 2004 lalu. "Sejak saat itu tidak ada masalah dengan warga. Tapi sejak banyak tokoh-tokoh agama muncul dan memprovokasi, tahun 2006 mulai ada penyerangan terhadap kami," ungkapnya. Kemudian, pada 2009, Syiah di dusun itu bukan aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang. "Karena 2009 sudah ada pertemuan di Sampang. Hadir MUI Sampang, Kapolsek dan Danramil juga ada. Dan waktu itu Syiah dinyatakan memang bukan aliran sesat, karena tidak ada penyimpangan," tuturnya. Perlindungan terhadap warga Syiah pun sudah dijamin oleh MUI dan pihak keamanan. Namun, warga setempat justru semakin keras menentang keberadaan Syiah di dusunnya. Bahkan, kata Milal, aksi mereka semakin brutal. Walau begitu, Milal menekankan kepada ratusan warga Syiah di dusun Nangkernang, Sampang tidak membalas aksi brutal mereka. "Kita hidup di negara ini harus patuh terhadap hukum negara ini," katanya. (umi) • VIVAnews ------------------------------------ Yahoo! Groups Links http://docs.yahoo.com/info/terms/
