Mamang acungkan jempols kepada Mang Ihin a.k.a Solihin GP, seorang Jendral dan 
mantan Gubernur Jawa Barat yang benar-2 peduli terhadap rakyatnya. Masih adakah 
Jendral yang seperti itu saat ini? Jendral yang begitu dekat dan melekat di 
hati rakyat. Ingat, tidak lah terlalu lama bagaimana Mang Ihin juga ikut turut 
serta menyelamatkan Babakan Siliwangi? Kalau tidak salah Mang Emil pun hadir 
sebelum terpilih menjadi Walikota. Mang Ihin juga cukup marah dengan Dada 
Rosada dan menyepetnya secara tajam. 
http://savebabakansiliwangi.wordpress.com/2013/05/20/ribuan-orang-ikuti-arak-arakan-siliwangi/

Subhanalloh Mamang terharu ketika baca surat di bawah ini ternyata tahun 2004, 
Mang Ihin dan DPKLTS pernah menyuarakan tentang Usulan Pembatalan Waduk 
Jatigede dan Memberi Solusi Alternatif yg lauh lebih murah dan efektif untuk 
penanganan masalah pengairan di Indramayu Cirebon Majalengka langsung kepada 
Presiden SBY. Namun ternyata kenyataannya tidak digubris :(, SBY tidak 
mendengarkan saran dan masukan dari Mang Ihin. 

Sangat jauh berbeda ternyata kualitas SBY dengan Mang Ihin, SBY justru sangat 
jauh dengan rakyat dan justru bukan dicintai rakyat melainkan dibenci rakyat 
karena sudah memberikan penderitaan kepada rakyat dgn menenggelamkan rumah-2 
dan kabuyutan mereka padahal Mang Ihin sudah memberikan saran secara resmi dan 
alternatif solusinya yg efektif efisien. Ternyata yg dipilih malah solusi yang 
mahal walaupun memiliki resiko yg berbahaya dan tidak efektif. 

When common sense doesn't work there must be some things hidden! 

Surat DPKLTS permohonan segera sesudah SBY jadi presiden, untuk stop jatigede, 
sebagai berikut :

Bandung, 26 Oktober 2004

Nomor:  30/DPKLTS/Ext/X/04
Perihal:   Permohonan pembatalan Rencana Waduk jatigede
Sifat:      AMAT SEGERA

Kepada:
Yth. Presiden Republik Indonesi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

Mula pertama perkenankan kami, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar 
Sunda (DPKLTS) mengucapkan selamat atas kepercayaan rakyat Indonesia yang telah 
menunjuk Bapak selaku Presiden Republik Indonesia masa bakti 2004 – 2009. Kami 
selaku anggota masyarakat akan selalu mendukung kepemimpinan Bapak secara kritis
korektif sehingga tercapai cita-cita Indonesia yang aman, adil dan sejahtera.
Berkaitan dengan masalah lingkungan dan kebutuhan air di Jawa Barat, khususnya 
yang berkaitan dengan pembangunan Rencana Waduk Jatigede, bersama ini dengan 
hormat kami perlu menyampaikan hal-hal sebagai berikut kepada Bapak:
1. Rencana Waduk Jatigede terletak di daerah aliran sungai Cimanuk, Kabupaten 
Sumedang, akan menenggelamkan wilayah seluas 4.143 hektar yang terdiri dari 29 
desa dalam 6 kecamatan yang makmur, berpenduduk 38.000 jiwa, memiliki 
infrastruktur berupa jalan, irigasi, sekolah, puskesmas, dan lain-lain yang 
lengkap.
Tercakup pula di dalamnya kawasan hutan seluas 1.200 hektar, persawahan subur 
seluas 1.900 hektar, dan kebun campuran seluas 430 hektar.

2. Upaya membangun rencana Waduk Jatigede ini telah digulirkan sejak tahun 1963 
yang lalu, yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi persawahan di 
wilayah pantai utara Jawa Barat seluas kurang lebih 130.000 hektar dan juga 
untuk keperluan tenaga listrik dengan rencana kapasitas terpasang 200 megawatt.

3. Sejak awal rencana Waduk Jatigede ini telah menjadi sumber konflik pro dan
kontra yang semakin lama semakin menajam dan meluas melibatkan berbagai 
kalangan termasuk pemerhati lingkungan. Masalah sosial yang timbul terutama 
bagi masyarakat yang lahan dan permukimannya akan tergenang. Sebagian telah 
menerima ganti rugi dan sebagian lagi belum menerima ganti. Sebagian dari yang 
telah menerima ganti rugi telah dimukimkan ke wilayah lain di luar rencana 
genangan. Namun karena tidak ada kepastian realisasi pembangunan rencana Waduk 
Jatigede ini, dan dengan alasan permukiman yang baru tidak dapat menunjang 
kehidupannya, maka masyarakat yang telah dimukimkan di wilayah
lain tersebut kembali lagi ke tempat tinggalnya yang lama di wilayah rencana
genangan. Besar uang ganti rugi juga menimbulkan permasalahan tersendiri antara 
penduduk dengan aparat pelaksana di lapangan, sehingga sebagian masyarakat ada
yang setuju dan sebagian lagi menolak pembangunan rencana Waduk Jatigede.

4. Kami Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS)
termasuk yang mengusulkan agar pembangunan rencana Waduk Jatigede ini 
dibatalkan saja. Adapun alasannya, di luar permasalahan sosial yang kami
sebutkan di atas, antara lain:

a. Pada saat rencana Waduk Jatigede ini digulirkan 40 tahun yang lalu,
kondisi sungai Cimanuk masih sehat, namun saat ini tengah sakit parah.
Tahun 1958 – 1969 koefisien run-off-nya 0,50 sedangkan tahun 1997 –
2002 koefisien run-off-nya telah mencapai 0,75. Koefisien rejim sungai
(KRS) telah berada pada angka 250, padahal untuk sungai yang sehat KRS
< 50.

b. Citra satelit menunjukan bahwa seluruh daerah tangkapan air hujan di hulu 
daerah aliran sungai Cimanuk seluas 170.000 hektar berada pada keadaan kritis 
dan dikhawatirkan dapat membawa material tanah yang tererosi
mencapai 8,5 juta ton/ tahun yang pada gilirannya akan memenuhi waduk.

c. Lokasi rencana bendungan terletak pada wilayah yang memiliki sifat
geologi yang lemah dan mudah longsor. Disamping itu bila rencana tinggi
bendungan mencapai 100 m dan volume genangan air waduk 1 milyar m3,
sangat dikhawatirkan dengan kondisi geologi yang lemah tersebut akan
menimbulkan kejadian gempa imbas yang dapat menimbulkan bencana
yang tak terduga.

d. Dari segi total biaya, pembangunan rencana waduk Jatigede berikut
infrastruktur pendukungnya sangat mahal, yaitu bisa mencapai Rp 7
trilyun termasuk bunga pinjamannya Rp 1 trilyun lebih.

5. Untuk mengatasi kebutuhan air terutama di wilayah pantai utara Jawa Barat, 
kami mengusulkan alternatif sebagai berikut:
    a. Memulihkan kondisi hutan di hulu sungai Cimanuk yang saat ini berada 
dalam keadaan sangat kritis. Membangun waduk di sungai yang sakit akan sia-sia, 
pengorbanan rakyat dan investasi yang besar menjadi tidak berarti. Waduk tidak 
akan berfungsi karena sedimentasi yang berlebihan dan pasokan air yang tidak 
memadai terutama di musim kemarau, seperti yang terlihat pada waduk-waduk 
Saguling, Gajahmungkur, Kedungombo, dan lain-lain.
    b. Biaya pemulihan hutan dan kawasan lindung yang kritis jauh lebih murah 
dari pada membangun waduk. Dengan perkiraan biaya per hektar sekitar
Rp. 4 juta, maka untuk total 170.000 hektar lahan kritis diperlukan tidak
akan lebih dari Rp. 1 trilyun berikut biaya pemeliharaannya. Bahkan masyarakat 
setempat akan memperoleh peningkatan kesejahteraan bila diberikan peran utama 
sebagai tenaga pelaksana dan pengawasnya. Dalam waktu setahun dipastikan 
kondisi hidro-orologis wilayah ini mulai pulih.

6. Perlu dikembangkan konsep lumbung air di setiap kabupaten yang sering
mengalami kekeringan. Dalam UU No. 41/ tahun 1999 tentang kehutanan
disebutkan bahwa setiap daerah aliran sungai (DAS) paling tidak 30% dari
luasannya harus berupa hutan. Bila hal ini diterapkan pada DAS-DAS yang
mengalir di wilayah pantai utara Jawa Barat, yaitu: DAS Kali Bekasi – Cikarang,
DAS Citarum, DAS Pagadungan, DAS Ciherang, DAS Cilamaya, DAS Ciasem,
DAS Cipunagara, DAS Kedungwungu, DAS Cilalanang, DAS Cipanas, DAS
Pangkalan, DAS Cimanuk, DAS Ciwaringin, DAS Cibagor, DAS Cisanggarung, maka 
sangat diharapkan bahwa wilayah pantai utara Jawa Barat akan terbebas dari 
bencana kekeringan di musim kemarau.

7. Dari keseluruhan DAS yang mengalir ke utara tersebut DAS Citarum dan DAS
Cimanuk merupakan dua DAS terbesar, yang lain boleh dikatakan berukuran lebih 
kecil. Lima puluh tahun lebih negara kita melupakan pemeliharaan sungai-sungai 
kecil. Padahal sungai-sungai kecil ini merupakan penyumbang kebutuhan air di 
wilayahnya. Oleh sebab itu seyogyanya segera perlu ada gerakan revitalisasi 
sungai-sungai kecil berbasis perbaikan DAS dan kawasan lindung.

8. Telah saatnya dijalin sinergi antara sektor pengairan di Departemen 
Pekerjaan Umum dengan sektor kehutanan di Departemen Kehutanan untuk membangun 
infrastruktur alam hutan dan kawasan lindung yang pada gilirannya akan memenuhi 
kebutuhan sumber daya air secara berkelimpahan dan terkendali.

Demikian kiranya masukan kami atas pembangunan rencana Waduk Jatigede, yang 
menurut kami sebaiknya dibatalkan, dan mengambil alternatif lain yang jauh 
lebih murah, mudah, dan dapat diandalkan seperti dijelaskan di atas. Atas 
perhatian Bapak,
kami mengucapkan terimakasih.

Ketua Dewan Penasihat,
SOLIHIN GP

Tembusan kepada Yth:
1. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS
2. Menteri Pekerjaan Umum
3. Menteri Kehutanan
4. Menteri Negara Lingkungan Hidup
5. Gubernur Propinsi Jawa Barat
6. Arsip

Sumber: http://jatigede-watch.blogspot.com/p/surat-menyurat.html?m=1 

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke