Harita pami teu lepat anu janten menteri kehutanan teh MS Kaban, anu ngaburak-barik Kabuyutan Tangkuban Parahu :( nya moal digubris atuh... Btw, sanaos telat, seja nyuhunkeun pangapunten tina samudaya kalepatan sareng kaluluputan abdi sakulawargi. wilujeng nyawalan ka sadayana... Nuhun,
>________________________________ > From: mang kaby <[email protected]> >To: Senyum-ITB <[email protected]>; Alumni IPB ><[email protected]>; Baraya_Sunda <[email protected]>; >UrangSunda <[email protected]>; Kisunda <[email protected]> >Sent: Thursday, 15 August 2013 10:20 PM >Subject: [kisunda] Surat Solihin GP kepada SBY tidak digubris > > >Mamang acungkan jempols kepada Mang Ihin a.k.a Solihin GP, seorang Jendral dan >mantan Gubernur Jawa Barat yang benar-2 peduli terhadap rakyatnya. Masih >adakah Jendral yang seperti itu saat ini? Jendral yang begitu dekat dan >melekat di hati rakyat. Ingat, tidak lah terlalu lama bagaimana Mang Ihin juga >ikut turut serta menyelamatkan Babakan Siliwangi? Kalau tidak salah Mang Emil >pun hadir sebelum terpilih menjadi Walikota. Mang Ihin juga cukup marah dengan >Dada Rosada dan menyepetnya secara tajam. >http://savebabakansiliwangi.wordpress.com/2013/05/20/ribuan-orang-ikuti-arak-arakan-siliwangi/ > >Subhanalloh Mamang terharu ketika baca surat di bawah ini ternyata tahun 2004, >Mang Ihin dan DPKLTS pernah menyuarakan tentang Usulan Pembatalan Waduk >Jatigede dan Memberi Solusi Alternatif yg lauh lebih murah dan efektif untuk >penanganan masalah pengairan di Indramayu Cirebon Majalengka langsung kepada >Presiden SBY. Namun ternyata kenyataannya tidak digubris :(, SBY tidak >mendengarkan saran dan masukan dari Mang Ihin. > >Sangat jauh berbeda ternyata kualitas SBY dengan Mang Ihin, SBY justru sangat >jauh dengan rakyat dan justru bukan dicintai rakyat melainkan dibenci rakyat >karena sudah memberikan penderitaan kepada rakyat dgn menenggelamkan rumah-2 >dan kabuyutan mereka padahal Mang Ihin sudah memberikan saran secara resmi dan >alternatif solusinya yg efektif efisien. Ternyata yg dipilih malah solusi yang >mahal walaupun memiliki resiko yg berbahaya dan tidak efektif. > >When common sense doesn't work there must be some things hidden! > >Surat DPKLTS permohonan segera sesudah SBY jadi presiden, untuk stop jatigede, >sebagai berikut : > >Bandung, 26 Oktober 2004 > >Nomor: 30/DPKLTS/Ext/X/04 >Perihal: Permohonan pembatalan Rencana Waduk jatigede >Sifat: AMAT SEGERA > >Kepada: >Yth. Presiden Republik Indonesi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono > >Mula pertama perkenankan kami, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar >Sunda (DPKLTS) mengucapkan selamat atas kepercayaan rakyat Indonesia yang >telah menunjuk Bapak selaku Presiden Republik Indonesia masa bakti 2004 – >2009. Kami selaku anggota masyarakat akan selalu mendukung kepemimpinan Bapak >secara kritis >korektif sehingga tercapai cita-cita Indonesia yang aman, adil dan sejahtera. >Berkaitan dengan masalah lingkungan dan kebutuhan air di Jawa Barat, khususnya >yang berkaitan dengan pembangunan Rencana Waduk Jatigede, bersama ini dengan >hormat kami perlu menyampaikan hal-hal sebagai berikut kepada Bapak: >1. Rencana Waduk Jatigede terletak di daerah aliran sungai Cimanuk, Kabupaten >Sumedang, akan menenggelamkan wilayah seluas 4.143 hektar yang terdiri dari 29 >desa dalam 6 kecamatan yang makmur, berpenduduk 38.000 jiwa, memiliki >infrastruktur berupa jalan, irigasi, sekolah, puskesmas, dan lain-lain yang >lengkap. >Tercakup pula di dalamnya kawasan hutan seluas 1.200 hektar, persawahan subur >seluas 1.900 hektar, dan kebun campuran seluas 430 hektar. > >2. Upaya membangun rencana Waduk Jatigede ini telah digulirkan sejak tahun >1963 yang lalu, yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi >persawahan di wilayah pantai utara Jawa Barat seluas kurang lebih 130.000 >hektar dan juga untuk keperluan tenaga listrik dengan rencana kapasitas >terpasang 200 megawatt. > >3. Sejak awal rencana Waduk Jatigede ini telah menjadi sumber konflik pro dan >kontra yang semakin lama semakin menajam dan meluas melibatkan berbagai >kalangan termasuk pemerhati lingkungan. Masalah sosial yang timbul terutama >bagi masyarakat yang lahan dan permukimannya akan tergenang. Sebagian telah >menerima ganti rugi dan sebagian lagi belum menerima ganti. Sebagian dari yang >telah menerima ganti rugi telah dimukimkan ke wilayah lain di luar rencana >genangan. Namun karena tidak ada kepastian realisasi pembangunan rencana Waduk >Jatigede ini, dan dengan alasan permukiman yang baru tidak dapat menunjang >kehidupannya, maka masyarakat yang telah dimukimkan di wilayah >lain tersebut kembali lagi ke tempat tinggalnya yang lama di wilayah rencana >genangan. Besar uang ganti rugi juga menimbulkan permasalahan tersendiri >antara penduduk dengan aparat pelaksana di lapangan, sehingga sebagian >masyarakat ada >yang setuju dan sebagian lagi menolak pembangunan rencana Waduk Jatigede. > >4. Kami Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) >termasuk yang mengusulkan agar pembangunan rencana Waduk Jatigede ini >dibatalkan saja. Adapun alasannya, di luar permasalahan sosial yang kami >sebutkan di atas, antara lain: > >a. Pada saat rencana Waduk Jatigede ini digulirkan 40 tahun yang lalu, >kondisi sungai Cimanuk masih sehat, namun saat ini tengah sakit parah. >Tahun 1958 – 1969 koefisien run-off-nya 0,50 sedangkan tahun 1997 – >2002 koefisien run-off-nya telah mencapai 0,75. Koefisien rejim sungai >(KRS) telah berada pada angka 250, padahal untuk sungai yang sehat KRS >< 50. > >b. Citra satelit menunjukan bahwa seluruh daerah tangkapan air hujan di hulu >daerah aliran sungai Cimanuk seluas 170.000 hektar berada pada keadaan kritis >dan dikhawatirkan dapat membawa material tanah yang tererosi >mencapai 8,5 juta ton/ tahun yang pada gilirannya akan memenuhi waduk. > >c. Lokasi rencana bendungan terletak pada wilayah yang memiliki sifat >geologi yang lemah dan mudah longsor. Disamping itu bila rencana tinggi >bendungan mencapai 100 m dan volume genangan air waduk 1 milyar m3, >sangat dikhawatirkan dengan kondisi geologi yang lemah tersebut akan >menimbulkan kejadian gempa imbas yang dapat menimbulkan bencana >yang tak terduga. > >d. Dari segi total biaya, pembangunan rencana waduk Jatigede berikut >infrastruktur pendukungnya sangat mahal, yaitu bisa mencapai Rp 7 >trilyun termasuk bunga pinjamannya Rp 1 trilyun lebih. > >5. Untuk mengatasi kebutuhan air terutama di wilayah pantai utara Jawa Barat, >kami mengusulkan alternatif sebagai berikut: > a. Memulihkan kondisi hutan di hulu sungai Cimanuk yang saat ini berada >dalam keadaan sangat kritis. Membangun waduk di sungai yang sakit akan >sia-sia, pengorbanan rakyat dan investasi yang besar menjadi tidak berarti. >Waduk tidak akan berfungsi karena sedimentasi yang berlebihan dan pasokan air >yang tidak memadai terutama di musim kemarau, seperti yang terlihat pada >waduk-waduk Saguling, Gajahmungkur, Kedungombo, dan lain-lain. > b. Biaya pemulihan hutan dan kawasan lindung yang kritis jauh lebih murah >dari pada membangun waduk. Dengan perkiraan biaya per hektar sekitar >Rp. 4 juta, maka untuk total 170.000 hektar lahan kritis diperlukan tidak >akan lebih dari Rp. 1 trilyun berikut biaya pemeliharaannya. Bahkan masyarakat >setempat akan memperoleh peningkatan kesejahteraan bila diberikan peran utama >sebagai tenaga pelaksana dan pengawasnya. Dalam waktu setahun dipastikan >kondisi hidro-orologis wilayah ini mulai pulih. > >6. Perlu dikembangkan konsep lumbung air di setiap kabupaten yang sering >mengalami kekeringan. Dalam UU No. 41/ tahun 1999 tentang kehutanan >disebutkan bahwa setiap daerah aliran sungai (DAS) paling tidak 30% dari >luasannya harus berupa hutan. Bila hal ini diterapkan pada DAS-DAS yang >mengalir di wilayah pantai utara Jawa Barat, yaitu: DAS Kali Bekasi – Cikarang, >DAS Citarum, DAS Pagadungan, DAS Ciherang, DAS Cilamaya, DAS Ciasem, >DAS Cipunagara, DAS Kedungwungu, DAS Cilalanang, DAS Cipanas, DAS >Pangkalan, DAS Cimanuk, DAS Ciwaringin, DAS Cibagor, DAS Cisanggarung, maka >sangat diharapkan bahwa wilayah pantai utara Jawa Barat akan terbebas dari >bencana kekeringan di musim kemarau. > >7. Dari keseluruhan DAS yang mengalir ke utara tersebut DAS Citarum dan DAS >Cimanuk merupakan dua DAS terbesar, yang lain boleh dikatakan berukuran lebih >kecil. Lima puluh tahun lebih negara kita melupakan pemeliharaan sungai-sungai >kecil. Padahal sungai-sungai kecil ini merupakan penyumbang kebutuhan air di >wilayahnya. Oleh sebab itu seyogyanya segera perlu ada gerakan revitalisasi >sungai-sungai kecil berbasis perbaikan DAS dan kawasan lindung. > >8. Telah saatnya dijalin sinergi antara sektor pengairan di Departemen >Pekerjaan Umum dengan sektor kehutanan di Departemen Kehutanan untuk membangun >infrastruktur alam hutan dan kawasan lindung yang pada gilirannya akan >memenuhi kebutuhan sumber daya air secara berkelimpahan dan terkendali. > >Demikian kiranya masukan kami atas pembangunan rencana Waduk Jatigede, yang >menurut kami sebaiknya dibatalkan, dan mengambil alternatif lain yang jauh >lebih murah, mudah, dan dapat diandalkan seperti dijelaskan di atas. Atas >perhatian Bapak, >kami mengucapkan terimakasih. > >Ketua Dewan Penasihat, >SOLIHIN GP > >Tembusan kepada Yth: >1. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS >2. Menteri Pekerjaan Umum >3. Menteri Kehutanan >4. Menteri Negara Lingkungan Hidup >5. Gubernur Propinsi Jawa Barat >6. Arsip > >Sumber: http://jatigede-watch.blogspot.com/p/surat-menyurat.html?m=1 > >nuhuuuuns, >mang kabayan >www.udarider.com > >------------------------------------ > >Yahoo! Groups Links > > > > > >
