LiQuid Kermit wrote:
Trims om yudh, tapi agak malas menunggu. Karena kebutuhan buku tidak bisa ditunda2 bukan?
Saya kirim ke milis barangkali ada yang masih menyimpan buku, seragam, dll. Seingat saya banyak klubbers yang masih kuliah, dan sekiranya bukunya tidak dipakai.
Sekiranya juga klub mau mengadakan lgts di sekolah yg bersangkutan, akan saya fasilitasi. Karena dari IBU rencanaya akan menyumbangkan komputer bekas, dan akan saya bungkus dengan linux.
aku masih teringat dengan diskusi kita dulu dengan mba dame. apakah benar masyarakat kita sudah memerlukan teknologi komputer? mungkin, karena mereka belum kenal komputer, lebih baik langsung diajari linux aja. alih2 diadain lgts di sana terus keluar2 ruangan seminar mereka pada bengong lantaran ngak ngerti apa yang disampaikan. :D
meskipun begitu, aku lebih setuju kalo bantuan untuk mereka lebih ke buku. nanti aku coba liat lagi apakah ada buku2 yang cocok untuk mereka dan bisa aku kasih.
selamat berjuang om kermit...
Salam,
Yudha P Sunandar
www.yudhaps.co.cc

btw, saat ini juga sedang direncanakan pengumpulan buku ke kampus2.

wass

2008/9/4 Yudha P Sunandar <[EMAIL PROTECTED]>
kiranya om kermit bisa mengelaborasikannya dengan komunitas blogger. informasi bisa dikunjungi di link berikut:
- http://1000buku.dagdigdug.com/faq/
- http://batagor.net/2008/08/07/yukkitadukunggerakanseributigaehseribubukunyabhica/
anw, ceritanya keren juga om. bener2 laskar pelangi versi padalarang. tapi yang mengenaskan, padahal padalarang cukup deket juga dengan bandung. biar pun begitu, salut untuk pengajar2nya. semoga semua siswanya bisa sukses, kalo bisa sesukses andrea hirata deh. hehehe
Yudha P Sunandar
www.yudhaps.co.cc


LiQuid Kermit wrote:
Beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk assessment sebuah sekolah gratis untuk siswa tidak mampu di suatu daerah di Padalarang, Gunung Bentar.

awalnya si pendiri sekolah (yang sejak februari lalu) diterima bekerja di kampus almamater saya, dan kebetulan bulan lalu senior saya tampil dalam acara ospek sebagai dokter dalam bidang kemanusian. Pendiri sekolah ini memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada senior saya, yang kemudian mendelegasikan tugas tersebut kepada saya.

Sekolah merupakan MTs dan MA, saat ini baru hingga kelas 2 MA. Siswa MTs masuk pagi hari, sementara siswa MA masuk siang hari dan pulang sekitar jam 5. Jumlah siswa per kelas sekitar 18-20 orang. Kebanyakan siswa justru bukan dari sekitar sekolah, tapi justru datang dari tempat yang cukup jauh. Salah satu diantaranya bersepeda selama 2 jam untuk sampai ke sekolah. Latarbelakang orangtua siswa sangat beragam, seperti pemulung, penarik sampah, penjahit, penjual koran, dll.

Sementara pengajar berjumlah hampir 40 orang, mayoritas (lebih dari 40 orang) berlatar belakang mahasiswa dan statusnya sebagai sukarelawan, kebanyakan mahasiswa dari perguruan tinggi yang cukup dekat atau tinggal di padalarang, tetapi ada juga yang dari tempat jauh.

Gedung sekolah terdiri dari 5 ruangan; satu ruangan guru, 3 ruangan kelas, dan satu ruang wc. Gedung beserta tanahnya merupakan milik yayasan, tetapi peran yayasan ini hanya sebagai payung hukum dan menyediakan gedung saja. Selebihnya untuk operasional sehari2 tidak ada.

Salah seorang siswa, berkendara dengan sepedda ke sekolah, melewati suangi, sawah, dan jalan setapak setelah membantu orangtuanya mencari nafkah di pagi hari. Tetapi suatu hari sepedanya dicuri. Alhasil, sekarang sang siswa berdagang batagor pada pagi hari, dan pada siang hari, gerobak batagor "diparkir" di halaman sekolah sementara dia mengikuti pelajaran.

Cerita lain ketika naik kelas, buku2 tahun lalu yang dikumpulkan di seorang siswa lenyap karena dijual siswa tersebut untuk tambahan penghasilan. Dan pada waktu pertemuan orangtua-guru, beberapa orangtua menunggu hingga pertemuan tuntas karena hendak memunguti gelas dan botol air mineral.

Kebutuhan utama pada saat ini adalah buku, baik itu buku pelajaran maupun buku tulis. BOSS, dari pemerintah, hanya untuk setingkat SLTP, sementara untuk setingkat SMU tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah. Bahkan untuk MTs yang mendapatkan BOSS pun masih terasa kekurangan. Untuk MA, buku pelajaran paling2 hanya 3 buah, itupun hanya dipegang guru. Ini mengakibatkan beberapa siswa berkunjung ke rumah guru2nya (mahasiswa) untuk belajar tambahan, beberapa bahkan menginap.

Ada juga pelajaran komputer, tapi satu2nya komputer yang dimiliki adalah milik sang guru. Sehingga setiap harinya, siswa silih berganti belajar komputer di rumah pa guru. Satu minggu bergiliran 5 orang merasakan komputer.

Saat ini saya sedang mencoba menggalang pengumpulan buku pelajaran, buku tulis, seragam, komputer bekas, dll. Jika ada rekan2 penguin yang dapat membantu, bisa hubungi saya. Atau bahkan ada yang ingin terlibat secara langsung?

Tidak lama setelah sekolah padalarang ini, saya juga sempat diminta untuk assessment sekolah serupa di gunung halu dan cicalengka, tapi belum sempat karena masih disibukkan dengan rutinitas di IBU.

Buku ataupun bantuan dalam bentuk lain dapat dikirimkan langsung atau ke
IBU Foundation
Jl. Waspada No. 17 Bandung 40161
Telp/Fax 022-20346701

Contact Person:
Endri Budiwan (liquidkermit)
[EMAIL PROTECTED]








--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Klub Linux Bandung" group.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/klub-linux-bandung?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke