Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

 

Auzubillahiminasy syaithonirrojiim

 

Berkenaan dengan pertanyaan mimpi salib yang ber
ulang ulang, itu tidak lain hanyalah permainan Iblis yang telah dilaknat oleh
Alloh SWT, sedikit gambaran mari kita kaji Al-Qur’an Surat Al-Hijr (15) : 28 s/d
41. yang artinya 

 

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan
telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya
dengan bersujud.

Maka bersujudlah para malaikat itu
semuanya bersama-sama,

kecuali iblis. Ia enggan ikut
bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.

Allah berfirman: "Hai iblis, apa
sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?"

Berkata Iblis: "Aku sekali-kali
tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk".

Allah berfirman: "Keluarlah dari
surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,

dan sesungguhnya kutukan itu tetap
menimpamu sampai hari kiamat".

Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau
begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan".

Allah berfirman: "(Kalau begitu)
maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,

sampai hari (suatu) waktu yang telah
ditentukan"

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh
sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya,

kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis
di antara mereka".

Allah berfirman: "Ini adalah jalan
yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).”

 

Sebagai bahan renungan :

 

Masih ingat dengan seorang sahabat Nabi yang tak
dapat melihat? 

Yang karenanya Allah lalu menegur Nabi dan menurunkan surat "A'basa"?


 

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan
berpaling,

karena telah datang seorang buta kepadanya.

Tahukah kamu barangkali ia ingin
membersihkan dirinya (dari dosa).

atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran,
lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

Adapun orang yang merasa dirinya serba
cukup,

maka kamu melayaninya.

Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau
dia tidak membersihkan diri (beriman).

Dan adapun orang yang datang kepadamu
dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

sedang ia takut kepada (Allah),

maka kamu mengabaikannya.

Sekali-kali jangan (demikian)!
Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan”, QS. Abasa (80)
ayat 1 s/d 11…..dst

 

Ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum Radiallahuanhu.
Seorang sosok sahabat yang senantiasa tawadlhu dalam menunaikan kewajibannya
sebagai hamba Allah.  Suatu ketika sahabat Nabi ini menghampiri baginda 
Rasulullah Saw. 


Ia hendak meminta izin, untuk tidak mengikuti jama'ah shubuh, karena tak ada
yang menuntunnya menuju masjid. Setelah mendengar alasannya, baginda Rasulpun
bertanya: "Apakah engkau mendengar adzan?", Abdullah lantas menjawab:
"Tentu baginda", "Kalau begitu tidak ada keringanan
untukmu", tandas Rasul. 

 

Layaknya hamba Allah yang senantiasa istiqomah
dalam menjalankan perintahNya. Abdullahpun sam'an wa tho'atan atas apa yang
diperintahkan Rasulullah Saw. Dengan mantap ia berazam untuk mendirikan jama'ah
shubuh di masjid,sekalipun dirinya harus meraba-raba dengan tongkat untuk
menuju sumber azan. 

 

Keesokan harinya, tatkala fajar menjelang dan azan
mulai berkumandang, Abdullah bin Ummi Maktumpun bergegas memenuhi panggilan
Ilahi. Tak lama ketika ia mengayunkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba ia
tersandung sebuah batu, badannya lalu tersungkur jatuh, dan sebagian ongkahan
batu itu tepat mengenai wajahnya, dengan seketika darahpun mengalir dari
mukanya yang mulia. 

 

Dengan cepat Abdullah kembali bangkit, sembari
mengusap darah yang membasahi wajahnya, iapun dengan mantap akan kembali
melanjutkan perjalanan menuju masjid. Selang beberapa saat, datang seorang
sosok lelaki tak dikenal menghampirinya, kemudian lelaki itu bertanya: "A'mmu
(paman) hendak pergi kemana?". "Saya ingin memenuhi panggilan
Ilahi" jawab Abdullah tenang. Lalu laki-laki asing itu menawarkan jasanya,
"Saya akan antarkan a'mmu ke masjid, lalu nanti kembali pulang ke
rumah". Lelaki itupun segera menuntun Abdullah menuju rumah Allah, dan
kemudian mengantarkannya kembali pulang. 

 

Hal ini ternyata tidak hanya sekali dilakukan
lelaki asing itu, tiap hari ia selalu menuntun Abdullah ke masjid dan kemudian
mengantarkannya kembali ke rumah. Tentu saja Abdullah bin Ummi Maktum sangat
gembira, karena ada orang yang dengan baik hati mengantarnya salat berjama'ah,
bahkan tanpa mengharapkan imbalan apapun. 

 

Hingga tibalah suatu saat, ia ingin tahu siapa nama
lelaki yang selalu mengantarnya. Ia lalu menanyakan nama lelaki budiman 
itu. Namun
spontan lelaki asing itu menjawab: "Apa yang paman inginkan dari
namaku?", "Saya ingin berdo'a kepada Allah, atas kebajikan yang
selama ini engkau lakukan", jawab Abdullah. "Tidak usah" tegas
lelaki itu. "Paman tidak perlu berdoa untuk meringankan penderitaanku, dan
jangan sekali-kali paman menanyai namaku" tegasnya. Abdullah terhentak dan
terkejut atas jawaban lelaki itu, Iapun kemudian bersumpah atas nama Allah,
meminta lelaki itu untuk tidak menemuinya lagi, sampai ia tahu betul siapa dan
mengapa ia terus memandunya menuju masjid dan tidak mengharapkan balasan
apapun. 

 

Mendengar sumpah Abdullah, laki-laki itu kemudian
berpikir panjang, ia kemudian berkata: "Baiklah akan aku katakan siapa
diriku sebenarnya. "Aku adalah Iblis" jawabnya. Abdullah tersentak
tak percaya, "Bagaimana mungkin engkau menuntunku ke masjid, sedangkan
dirimu menghalangi manusia untuk mengerjakan salat?" Iblis itu kemudian
menjawab: "Engkau masih ingat ketika dulu hendak melaksanak salat shubuh
berjama'ah, dirimu tersandung batu, lalu bongkahannya melukai wajahmu?".
"Iya, aku ingat" jawab Abdullah. "Pada saat itu aku mendengar
ucapan Malaikat, bahwasannya Allah telah mengampuni setengah dari dosamu, aku
takut kalau engkau tersandung untuk kedua kali, lalu Allah menghapuskan 
setengah dosamu yang lain" jelas Iblis.
"Oleh karena itu aku selalu menuntunmu ke Masjid dan mengantarkanmu
pulang, khawatir jika engkau kembali ceroboh lagi ketika berangkat ke
Masjid" 

 

Astaghfirullah, ternyata Iblis tak pernah rela
sedikitpun melihat hamba Allah menjadi ahli ibadah. Terbukti semua cara ia
tempuh, hingga ia tak segan untuk menggunakan topeng kebaikan, khawatir kalau
mangsanya akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. 

 

Dari sepenggal kisah sahabat diatas, tentu kita
dapat mengambil pelajaran dan memahami satu dari karakter Iblis, lalu bagaimana
dengan kita? masihkah berdiam diri, menunggu menjadi korban makhluk laknat itu,
atau kita mencoba melawan dengan memperbaiki diri dan terus mendekatkan diri
pada Ilahi? 

 

Mulai saat ini marilah kita bersama-sama istiqomah
dalam melakukan amal kebaikan, agar kita terhindar dari tipu daya iblis
laknatullahalaih, Dengan cara banyak mengkaji isi kandungan Al-Qur'an, yakinkan 
bahwa Al-Qur'an sebagai Petunjuk, sebagai bacaan yang paling mulia, dan sebagai 
wahyu  yang tidak pernah satupun makhluk ciptaan Alloh mempu merusak isi 
kandungan Al-Qur'an, tingkatkan shalat berjamaah, tingkat kan shalat malam atau 
shalat tahajjud, agar dapat shalat tahajjud dengan rutin kami menghimbau 
bergabunglah dan ajaklah agar bergabung dengan komunitas gerakan membudayakan 
shalat tahajjud. dapat dilihat dan klik pada alamat http://www.tahajjudcall.org 
dan http://groups.yahoo.com/group/tahajjud_call/  




Semoga bermanfaat dan terimakasih serta mohon maaf bagi yang tidak berkenan

Wassalamualaikum
Wr Wb

 



 

Mujiarto
Karuk




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke