Peperangan Banten dan Mataram
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(http://id.wikipedia.org/wiki/Permusuhan_Banten_dan_Jawa)
Permusuhan Banten dan Mataram dilatarbelakangi oleh keinginan Mataram untuk
menguasai seluruh pulau Jawa.
Sejarah
Pada tahun 1624, Mataram menaklukkan Madura dan pada tahun 1625 merebut
pelabuhan Surabaya. Parahiyangan dan Cirebon yang merupakan hak Banten setelah
meruntuhkan Kerajaan Sunda pada 1579, pada masa ini juga direbut oleh Jawa.
Banten dan Batavia melihat kekuasaan Jawa semakin besar dan mereka merasa
cemas. Waktu raja Madura, yang negerinya dirampas Mataram, melarikan diri ke
Kesultanan Banten (1624), ia malah diserahkan ke Mataram untuk dibunuh,
demikian pula seorang adipati Sumenep. Hal ini dilakukan Banten karena tidak
mau mengambil risiko.
Pada tahun 1628, Mataram meminta Banten supaya menyerahkan diri kepada Mataram
namun Banten menolak. Pada tahun 1628 dan 1629, Mataram menyerang Batavia namun
gagal. Pada masa ini Banten mengerahkan tentaranya ke perbatasan dengan Batavia
di sisi sungai Cisadane untuk siap-siap menjaga kemungkinan serangan kepada
Banten.
Dalam tahun 1644, utusan Mataram tiba di Banten. Beda dengan maksud sebelumnya
yang meminta Banten agar takluk kepada Mataram, saat ini Mataram memintanya
menjadi sekutu. Hanya saja Kesultanan Banten yang saat ini merasa lebih kuat
menolak permintaan tersebut bahkan siap-siap untuk merebut kembali Cirebon dari
Mataram.
Pada saat Banten diperintah oleh Sultan Abulmafakhir, pada tahun 1646, saat
Amangkurat menggantikan Sultan Agung, Mataram masih ingin manaklukan Banten.
Awal tahun 1648 Banten mengambil langkah besar untuk menangkal kemungkinan
serangan: kapal-kapal perang besar dibangun dan para penduduk di sekitar kota
diperintahkan untuk masuk kedalam perlindungan benteng kota. Usaha tersebut
dirasakan manfaatnya beberapa tahun kemudian. Dua tahun kemudian, dua misi
diplomatik tiba di Banten; mereka meminta agar Banten menyerahkan diri kepada
Mataram. Banten menjawab bahwa Banten hanya tunduk kepada pimpinan besar di
Mekah. Mataram segera memberikan reaksi dengan mengirim armada angkatan laut
dari Cirebon, jajahan Mataram, untuk menyerang Banten. Terjadilah pertempuran
sengit di lautan sekitar Tangerang. Banten memenangkan pertempuran ini serta
membunuh lima ratus tentara Cirebon. Dengan demikian Mataram dapat dikalahkan
oleh Banten.
Saat Sultan Ageng Tirtayasa menjadi sultan Banten, Mataram masih juga tidak
menghentikan niatnya untuk menguasai Banten. Tapi karena trauma dengan
kekalahan angkatan perangnya, saat ini strategi penguasaan dilakukan dengan
upaya mengawinkan anak perempuan Sultan Ageng Tirtayasa dengan anak laki-laki
sultan Mataram. Usaha tersebut gagal akibat meletusnya perang Inggris – Belanda
dimana Banten turut dalam perang ini serta memihak Inggris.
Lihat pula
1. Kesultanan Banten
2. Batavia
3. Mataram
Rujukan
1. Claude Guillot, The Sultanate of Banten, Gramedia Book Publishing
Division, Jakarta, 1990
2. Adolf Heuken SJ, Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid II, Cipta
Loka Caraka, Jakarta,2000
3. Adolf Heuken SJ, Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid III,
Cipta Loka Caraka, Jakarta,2000