Mengenai prosentasi penduduk China, saya tidak tahu. Kalau menurut buku 
"Sumber-sumber asli sejarah Jakarta Jilid III [Sumber-sumber sejarah pada 
dasawarsa pertama Kota Batavia (1619-1630) dan kutipan dari karya sastra 
Indonesia yang menyangkut awal mula Jakarta]", halaman 28, jumlah orang 
Tionghoa di dalam kota pada tahun 1627 adalah 3000 orang lebih. Cukup banyak.

Pengaruh China di bagian barat pulau Jawa tidak hanya di Jakarta, tapi jauh 
sebelumnya juga sudah masuk ke pedalaman. Dalam naskah kuno Bujangga Manik, 
diceritakan bahwa putri Ajung Larang (bangsawan Kerajaan Sunda) yang tinggal di 
Pakuan Pajajaran, memiliki kotak Cina. Dari temuan sejarah di Sukabumi juga 
ditemukan keramik-keramik yang berasal dari China.

 




________________________________
From: cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, November 27, 2008 3:11:15 AM
Subject: [HISTORIA-INDONESIA] Re: Peperangan Banten vs Mataram


ada yang menjadi pertanyaan saya, Cribb pernah meneliti dan mengatakan 
batavia pada 1600-1700an merupakan sebuah "Chineese city" dimana 
populasi Batavia adalah 50% pedagang atau imigran dari Cina , dengan 
pusat pemerintahan/ perdagangannya di daerah glodok/kota.

Apakah ini benar (populasinya) ? sangat menarik kalau itu 
benar...menandakan batavia sudah kota maju dalam sektor perdagangan 
dari dahulu kala.

salam,

carlos

--- In komunitashistoria@ yahoogroups. com, Aschev Schuraschev 
<aschevetea@ ...> wrote:
>
> Peperangan Banten dan Mataram
> Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 
(http://id.wikipedia .org/wiki/ Permusuhan_ Banten_dan_ Jawa)
> 
> Permusuhan Banten dan Mataram dilatarbelakangi oleh keinginan 
Mataram untuk menguasai seluruh pulau Jawa.
> Sejarah
> Pada tahun 1624, Mataram menaklukkan Madura dan pada tahun 1625 
merebut pelabuhan Surabaya. Parahiyangan dan Cirebon yang merupakan 
hak Banten setelah meruntuhkan Kerajaan Sunda pada 1579, pada masa ini 
juga direbut oleh Jawa.
>  
> Banten dan Batavia melihat kekuasaan Jawa semakin besar dan mereka 
merasa cemas. Waktu raja Madura, yang negerinya dirampas Mataram, 
melarikan diri ke Kesultanan Banten (1624), ia malah diserahkan ke 
Mataram untuk dibunuh, demikian pula seorang adipati Sumenep. Hal ini 
dilakukan Banten karena tidak mau mengambil risiko.

 


      

Kirim email ke