Salam KOSTER
Bro Baskoro . . . tampaknya dlm kupasan ttg kata "aneh", kita terbentur
dgn keterbatasan bhs Indonesia. Utk menjelaskan lbh
jauh arti kata "aneh":, kita terpaksa hrs meminjam kata dari bhs Inggris.
Dlm bhs Inggris ada kata: "strange", "queer", dan "peculiar"
Jika "strange", maka berarti aneh dlm konteks tak jelas atau tak dikenal,
"unfamiliar". Misal, "stranger" berarti org tak
dikenal atau org asing. Sedangkan jika "peculiar", maka berarti "aneh" dlm
konteks lain drpd yg lain, berbeda, tdk biasa, atau tdk
umum, dgn sinonom: "different", "inordinary", atau "uncommon". Dlm konteks
kedua ini, artinya dekat dgn kata ganjil atau "odd',
tunggal atau "single", dan unik atau "unique". Sementara itu, "queer", ini
mungkin lbh cocok dgn "aneh" dlm konteks dgn tandaseru,
"being out of usual course event in minor respect".
Dgn demikian, Alláh bukanlah suatu keberadaan aneh bila dlm konteks
"strange" atau "queer". Tp Alláh adalah suatu keberadaan
aneh bila dlm konteks "peculiar", dan keanehan ini tak mengurangi sedikit pun
kesempurnaan-Nya, tp justeru lbh menyatakan bahwa Dia
Maha Sempurna.
. . .
Secara logika, jika manusia aneh, maka Alláh hrs aneh. Sebab jika Alláh
tdk aneh, maka mustahil manusia aneh, krn mustahil
Alláh memberikan keanehan kpd manusia sementara Dia tak memilikinya.
. . .
Sifat Alláh tak terbatas dan tak terhingga, krn jika tidak, maka Dia
bukan Maha Tuhan, dan gugurlah pernyataan-Nya bahwa Dia
melingkupi segalanya. Jadi Dia pun mencakup pula segala yg aneh dan segala
keanehan, atau apa pun namanya. Segala peristiwa dan
fenomena berasal dari-Nya. Maka Dia juga Maha Aneh. Aneh dlm konteksi ganjil,
lain drpd yg lain, tak biasa, atau tak umum,
"peculiar" atau "extra-ordinary" [ bukan dlm konteks "strange" yg mengadung
arti tak dikenal atau tak jelas,dan bukan pula dlm
konteks "queer" yang mengandung arti melenceng ]. Dgn demikian, jika kita
menolak keanehan Dia, sbg sesuatu yg biasa atau "common'',
maka berarti secara tak langsung kita mengadakan tuhan lain sbg pembanding atau
kompetitor bagi-Nya, krn ada sesuatu yg lain yg bisa
dibandingkan secara ajektiv komparativ dgn keberadaan-Nya.
Jika Alláh Maha Aneh, dan ini tak dinyatakan secara tersurat atau
eksplisit sbg sebutan pengganti atau nama lain Alláh, maka
"`asmaa`u `al husnaa" yg 99 hanyalah sebagian dari nama-nama baik yg
mencerminkan sebagian sifat-Nya. Namun sifat Alláh adalah
lengkap dan tiada terhitung banyaknya, dan yg Maha Aneh ini terkandung secara
tersirat atau implisit, dlm sifat utama Alláh, yg
disebut sifat "mumkin" atau "jaa`iz", "probable", "possible", mungkin, atau
bisa-jadi, krn Alláh berlaku sekehendak-Nya. Sifat ini
merupakan sifat "real fuzzy logics" antara sifat "mustahil" [ digital 0 ] dan
"muwjab" [ digital 1 ], misal, antara: 0,000.000.001
s/d 0,999.999.999.
. . .
3M, 3 IN 1, TRINITAS KETUHANAN ALLÁH
Ada 3 dalam 1 (three in one) atau tritinas ketuhanan (divine trinity),
yakni 3 sifat utama Alláh, yang bisa dinyatakan dengan
singkatan 3M atau M3.
a.. mustahil (impossible, tak-mungkin) [ digital 0 ].
b.. muwjab (waajib, must, mesti, pasti) [ digital 1 ].
c.. mumkin atau jaa`iz (possible, probable, mungkin, bisa-jadi)
[ real fuzzy logics antara 0 dan 1, misal: 0,000.000.001 s/d
0,999.999.999 ].
Tuhan Yang Maha-Esa, Tersanjunglah-Dia dan Maha Tinggi, Perkasa dan
Digjaya, memiliki 3 sifat utama:
1.. mustahil (tak-mungkin, impossible); misal, mustahil Alláh tak ada,
mustahil Alláh tak menciptakan, mustahil Alláh tak
dapat mengendalikan ciptaan dan mahluk.
2.. muwjab (waajib, musti, pasti, must, should be able); misal, musti
Alláh ada, musti Alláh menciptakan, musti Alláh dapat
mengendalikan ciptaan dan makhluq.
3.. mumkin dan jaa`iz (mungkin dan tak-musti; bisa-jadi, boleh-jadi,
possible, probable); misal, Alláh bisa berada dimana
saja dan kapan saja dan berbuat sekehendaknya, sehingga Alláh mungkin berbuat
tapi tak musti berbuat atas sesuatu.
Alláh mungkin menciptakan suatu mahluk dan mungkin juga tak menciptakan
mahluk tersebut, karena Alláh menciptakan
sekehendak-Nya. Alláh mungkin berkehendak mengangkat suatu mahluk dan mungkin
juga tak berkehendak mengangkat mahluk tersebut,
karena Alláh berlaku sekehendak-Nya. Org belajar bisa jadi pandai tapi bisa
saja tetap bodoh, atau org berdagang bisa untung bisa
rugi; manusia wajib berusaha, tapi tak pasti berhasil. Ini melandasi konsep
probabilitas statistika, dimana hukum eksak dan logika
sebab-akibat matematika dan fisika tak berdaya.
ALLÁH BERLAKU SEKEHENDAKNYA
Sifat ketiga atau sifat mumkin dan jaa`iz Alláh ini sekaligus melupakan
komplementer dari sifat dasar pertama dan kedua.
Dari sifat mumkin dan jaa`iz Alláh, secara 'ilmiýah dapat diturunkan
kebolehjadian atau probalitas statistik, yang bisa
dibedakan atas dua, yakni:
1.. tertentu, berdasarkan pada hukum sebab dan akibat (cause and
effect): jika . . . maka . . . (if . . . then . . ., `in .
. . fa . . .); bisa diprakirakan (predictable), dan
2.. tak-tentu, berdasarkan pada azas ketektentuan (uncertainity
principles); tak bisa diprakirakan (unpredictable).
Di bidang sains, para ahli matematika, fisika, kimia, biologi, geologi,
kosmologi. dan lainnya, saat ini telah sampai pada
kesimpulan, bahwa sifat mumkin dan jaa`iz Alláh dimanifestasikan didalam
semesta alam melalui tiap ciptaan-Nya, dimana ada dua
probalitas, yakni:
1.. probabilitas kosmik (cosmic probability), tampak beraturan, dan
2.. probabilitas khaotik (chaotic probability), tampak tak-beraturan
atau kacau [sebenarnya beraturan juga, tapi sangat
pelik, sehingga manusia sangat sulit memahami aturannya; sungguh Alláh adalah
keberadaan SupraCerdas, Super Intelligent Being, Maha
Supraba, All Superb]..
Keberadaan Alláh dengan sifat mumkin dan jaa`iz, menjadi faktor penentu
final apakah seseorang akan sukses atau tidak; seperti
orang belajar bisa jadi pandai tapi bisa saja tetap bodoh, atau orang sakit
berobat bisa sembuh tapi bisa juga tidak, atau orang
berdagang bisa untung bisa rugi; manusia wajib berusaha, tapi tak pasti
berhasil.
Ini melandasi konsep probabilitas statistika, dimana hukum eksak dan
logika sebab-akibat matematika dan fisika tak berdaya;
dan ini menjelaskan mengapa upaya fisik atau material saja tidak cukup, tapi
harus juga dengan upaya psikis atau spiritual, dimana
tiap usaha senantiasa diawali dan diakhiri dengan do'a.
Tidakkah kita menyadari bahwa do'a bergantung pada sifat mumkin dan
jaa`iz Alláh? Bisa dikabulkan dan bisa juga tidak! Lalu,
bila dikabulkan, bisa semua bisa juga sebagian, dan bisa kini dan bisa juga
nanti!
Semoga bisa dicerna dan berguna . . .
--------------------------------------------------------------------------
----- Original Message -----
From: Purwaning Baskoro
To: [email protected]
Sent: Friday, May 08, 2009 5:20 PM
Subject: Re: [www.suzuki-thunder.net] Mohon diklarifikasi | Tidak ada
keanehan satupun pada Allah, sebab dia Maha Sempurna
. . .
Namun secara pribadi, aneh dengan unik tidak lah sama. Alláh memang unik,
sangat unik dan maha unik, namun jika Alláh itu
aneh, bagi saya tidak sependapat
(maaf bukan menyudutkan saudara Kaspar, Bro Kaspar secara pribadi pun
saya mohon maaf kalau ada kesalahan).
Sebab kata Aneh bagi saya selalu identik dengan ketidak jelasan, namun
bagi saya Allah itu jelas, kalaupun Alláh itu maha
pengasih lagi maha penyayang dan Alláh itu maha kejam, dan maha murka, bagi
saya tidak aneh, sebab semuanya itu jelas. Kemurkaan
Alláh sangat jelas maksud dan tujuaannya, dan Alláh tidak akan murka tanpa ada
sebab dan akibat.
Ada surga dan Neraka, itu jelas. Kalau Alláh hanya menciptakan Surga saja
atau neraka saja itu baru aneh.
Jadi sekali lagi menurut saya tidak ada keanehan secuilpun pada Allah,
sebab Allah Maha Sempurna.
. . .
--------------------------------------------------------------------------