----------
From:   Asep Mulyana[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Reply To:       [EMAIL PROTECTED]
Sent:   05 April 1999 17:25
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        [is-lam] Re: [Kuli Tinta] Pengakuan Wanita Banteng


No Comment.........;-(
----------
> From: Dadang Darmawan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: stttelkom <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [stttelkom] Re: [Kuli Tinta] Pengakuan Wanita Banteng
> Date: 05 April 1999 11:20
> 
> Ini salah satu diskusi dari milist kuli tinta
> Any comment ?
> 
> Sian Djie Wong wrote:
> 
> > Ini lah pengakuan salah satu pelaku yang terlibat dalam acara di
> > Jateng itu. Ybs marah krn kalimat Amien Rais. AR mengatakan yang
> > ribut itu paling kriminal yang pakai atribut pdip.
> > Tentu saja maksudnya AR tak berani nuduh langsung kalau yang bikin
> > onar itu adalah anggota PDIP. Tapi salah satu wanita banteng ini
> > marah-marah pada AR, yang menunjukkan bahwa sebenarnya anggota
> > PDIP memang terlibat.
> >
> > Meski Ketua-ketua yang di Jakarta tak memerintahkan mengganggu,
> > toh pelaku itu anggota PDIP. Ach, jadi mikir lagi nih mau pilih
> > PDIP. Kayaknya enggak jadi deh.
> >
> > _Wong.
> >
> > -----fwd---------------------------
> >
> > Re: Re; Masa PDI Perjuangan mengamuk.
> > From: Ayu Setiarini
> > Date: 04 Apr 1999
> > Time: 11:40:21
> > Remote Name: 195.96.98.222
> >
> > Comments
> >
> > Mas Prayitno hendaknya tidak serta merta mempercayai tudingan Pak Amien
> > bahwa kami ini kriminal. Kami sakit hati dituding begitu.
> > Tidak rela...!!! Enak saja menuding orang kriminal.
> > Saya ada di tengah massa, ikut memperingatkan wanita Golkar supaya
> > kembali dan tidak meneruskan perjalanannya. Kok semena-mena menuding
> > orang sebagai kriminal. Tahu apa Amien Rais di kejauhan sana daripada
> > kami? Kalau berani silakan Amien Rais datang ke Banjarnegara untuk
> > klarifikasi.
> >
> > Peristiwa bentrok itu sudah risiko perjuangan. Kalau tidak bisa
> > menghayati apa makna perjuangan beserta segala risikonya ya maaf
> > saja kalau anda semua salah persepsi terhadap kami.
> >
> > Setiap perjuangan mengandung risiko. Petani mengayunkan sabit dan
> > cangkul berisiko terluka kena sabit atau keterjang cangkul.
> > Para buruh memakai palu juga berisiko terluka kena hantam palu.
> > Tetapi setelah itu kan mereka memetik hasilnya, berupa panen yang
> > menggembirakan hati atau upah yang diterima. Tetapi untuk mencapai
hasil
> > panen atau upah itu seseorang harus berjuang dulu. Harus siap terluka,
> > sakit, bahkan mati. Mana ada hasil turun begitu saja dari
> > langit kalau tidak diperjuangkan terlebih dahulu?
> >
> > Bentrok dengan massa Golkar itu sudah risiko politik, sebagaimana
petani
> > atau buruh menanggung risiko masing-masing. Kami sudah
> > bertekad bulat untuk memenangkan PDIP di Banjarnegara. Karena itu
Golkar
> > yang kami pandang sebagai salah satu hambatan, ya harus
> > disingkirkan.
> >
> > Soal wanita Golkar yang dilepas kaosnya hingga tinggal BH, saya harap
> > tidak usah dibesar-besarkan. Gitu aja kok dibesar- besarkan. Di desa
> > kami ibu-ibu juga terbiasa hanya berkain dan berBH saja ramai-ramai
> > mencuci pakaian di sungai. Lagipula saya ulangi sekali lagi: kalau
sudah
> > niat terjun ke politik, ya jangan cengeng. Perjuangan itu keras.
> > Makanya kami bangga dengan ketegaran Mbak Mega. Beliau betul-betul
> > typikal wanita idaman: tidak cengeng, menyadari apa risiko perjuangan,
> > tabah menghadapi segala rintangan.
> >
> > Ini baru dilepas kaosnya saja sudah menangis...Memang dasar wanita
> > Golkar itu manja. Bukti bahwa mereka tidak ditempa oleh perjuangan.
> > Selama ini mereka enak-enak saja menikmati fasilitas tanpa harus
> > berjuang. Makanya baru digituin saja sudah menangis. Sebagai wanita
SAYA
> > JUSTRU MALU dengan kualitas wanita yang lembek begini. Karena itu saya
> > katakan, lebih baik di rumah saja, menyusui anak. Bukan bermaksud
> > negatif, tetapi kalau memang tidak siap menghadapi risiko perjuangan ya
> > lebih baik di rumah saja toch?
> >
> > Itulah bedanya kami dengan wanita Golkar. Ini sekaligus sebagai
> > tanggapan untuk posting Mbak Diah. Perjuangan itu keras, Mbak... Sadari
> > itu.
> > Terimakasih,
> > Salam,
> > Ayu Setiarini,
> >
> > Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> >
> > ______________________________________________________________________
> > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!

Saya sih, hanya menanggapi tulisan ayu, bukan berarti aku mendukung kedua partai atau 
pun memusuhi.Benar memang setiap perjuangan ada resikonya...juga dengan para 
petani.Tapi mereka juga diajarkan bagaimana menggunakan cangkul dan sabit dengan benar 
hingga tidak melukai dirinya sendiri, begitu juga dengan para buruh diajarkan 
menggunaka palu dengan baik.Dan juga para petani diajarkan bagaimana menanam bibit 
padi dan pupuknya sehingga didapat hasil panen yang sangat memuaskan.
Begitu juga dengan perjuangan politik, memang ada resiko yang sangat besar tapi itu 
semua dapat diusahakan sekecil mungkin resikonya dengan menahan emosi kita masing2 dan 
jangan egois, karena perjuangan politik harus bertujuan untuk kesejahtraan masyarakat, 
bukan yang lain.
Mengenai anda dan ibu2 beramai-ramai hanya menggunakan BH sambil mencuci pakaian di 
sungai, jangan dibandingkan dengan ibu2 yang dilepas bajunya di depan orang 
banyak.Saya juga yakin anda akan nangis jika anda dipaksa orang banyak untuk melepas 
baju anda hingga anda hanya menggunakan bh didepan orang banyak, di mall atau di jalan 
atau di pasar....walaupun anda sudah terbiasa melakukannya di sungai.
Di kolam renang saya sering lihat para gadis menggunakan bikini, tapi saya yakin kalau 
mereka tidak akan pernah mau menggunakan bikini bukan pada tempatnya, misalnya lagi 
pawai atau kampanye.
Saya maklum kalau seorang ibu nangis ketika dipaksa buka baju, itu karena malu 
sebagian auratnya makin terlihat, karena dalam agama saya, malu itu sebagian dari iman.
Memang Politik itu kejam dan keras, tapi sekali lagi saya menghimbau, hidup ini 
sebentar, mari sama2 kita tingkatkan ibadah kita. Mari kita berfikir untuk kepentingan 
rakyat banyak bukan untuk kepentingan partai tertentu.Karena kita adalah saudara, dan 
hentikanlah permusuhan di antara kita. Dan hentikanlah saling tuding menuding dan 
fitnah memfitnah, karena itu akan membuat kerugian, terutama kerugian di akherat 
kelak.....

Wassalam .



Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://personal.lycos.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke