Wah, apalagi nich... dunia kedokteran berpolitik?? Mereka menentang cara yang 
dilakukan dalam mendukung mega. Para pendukung PDIP di mailing list ini pasti 
berkomentar negatif tentang hal ini. "Wah dokter sekarang nggak reformis, 
masak mendukung dengan caranya sendiri kok nggak boleh". 
Sama persis saat MUI mengeluarkan fatwanya. 

MUI dalam mengeluarkan fatwanya itu hanya ditujukan kepada umat Islam, 
terserah mau diikuti atau tidak, yang penting udah dikasih tahu. Itu emang 
kewajibannya MUI untuk ngasih tau. Kalo tidak ngasih tau, orang-orang MUI itu 
malah berdosa dan mempertanggungjawabkannya kepada Allah swt.
Demikian juga halnya dengan dokter tersebut, bukan berarti si dokter ini anti 
mega, dia kan cuma menjalankan kewajibannya saja.

Buat bung Yap, bung Martin, gigih serta pendukung mega lainnya yang udah 
terlanjur ikutan tusuk jari nyumbang darah, saya sarankan untuk segera 
periksa ke dokter. Siapa tau kena hepatitis atau hiv. Makanya lain kali kalo 
mau kasih dukungan itu ya mbok yang wajar-wajar saja.

Ngomong-ngomong, gimana nich taruhannya, kok posting saya yang terakhir nggak 
nongol di kuli tinta. Disensor kali yaa, ... he...he...

salam,
soniaulia

��Jarum Tak Ganti, Cap Darah Berbahaya��

Prof Eddy: Saya Dokter, Wajib Beri Tahu Masyarakat 

Aksi cap jempol darah yang dimotori sebagian pendukung Megawati kali ini 
mendapat tanggapan dari kalangan medis. Menurut Prof dr Eddy Soewandojo 
Sp.PD, aksi tersebut berisiko tinggi menularkan beberapa penyakit. Di 
antaranya Hepatitis B, C bahkan HIV/AIDS. 

''Saya tidak mempermasalahkan kaitannya dengan politik. Boleh saja aksi itu 
dilakukan, asalkan pelaksanaannya harus bisa dipertanggungjawabkan secara 
medis," papar pakar penyakit tropik dari RSUD dr Soetomo ini. 

Tapi para pendukung Mega kan siap untuk mati? Menanggapi hal ini Eddy hanya 
tersenyum. ''Silakan kalau memang begitu. Tapi karena saya seorang dokter, 
maka saya punya kewajiban untuk menyampaikan yang saya ketahui kepada 
masyarakat," ujarnya.

Dijelaskan oleh Eddy, dari sejumlah kasus penderita Hepatitis B (HB) yang 
dirawat di RSUD dr Soetomo, hampir sebagian besar cara penularannya melalui 
medium darah. Kebanyakan lewat jarum suntik dan transfusi darah. Yang 
membahayakan, kata Eddy, virus HB ini sangat dahsyat penularannya lewat 
darah. ''Kulit Anda lecet sedikit saja karena digaruk, kemudian kecipratan 
darahnya orang yang kena HB sedikit saja, Anda bisa tertular," ujarnya 
serius. 

Ironisnya, kebanyakan para penderita HB tidak menyadari penyakitnya. Mereka 
tidak menganggap serius setiap gejala awal yang muncul. Misalnya mual, badan 
lemas dan perut kembung. Karena itu seringkali ditemui, para pengidap HB 
terlihat segar bugar secara fisik. Namun di dalam darahnya mengandung virus 
HB. 

Baru setelah gejala kronisnya mulai terasa, mereka datang ke dokter. Misalnya 
perut membesar, beberapa bagian tubuhnya bengkak dan muntah darah. ''Kalau 
sudah demikian, biasanya sulit ditangani. Kebanyakan pasien meninggal," 
katanya. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut Eddy bila aksi itu memang 
dirasa perlu untuk dilakukan. Di antaranya yang paling penting adalah 
sterilisasi jarum yang dibuat melukai jempol. ''Dicelup di alkohol saja, 
masih belum cukup untuk aman dari virus HB," tandasnya. 

Apalagi jika satu jarum digunakan untuk lebih dari satu orang. Sungguh ini 
menurut Eddy sangat berbahaya. Karena virus HB dan HIV/AIDS ini punya 
ketahanan yang cukup tinggi. Mereka mampu hidup di luar tubuh dalam waktu 
yang relatif lama. 

Berdasarkan pengamatan, ada dua jenis jarum yang digunakan untuk menusuk 
jempol agar darahnya keluar. Masing-masing jarum bundel dan jarum tensi 
(sesuai pengakuan panitia). Jarum-jarum itu setelah dipakai dicelupkan ke 
alkohol. Baru kalau ada ''pasien'' yang datang dipakai lagi.

''Yang jarum bundel hanya untuk sekali pakai. Sedang yang jarum tensi 
digunakan untuk menusuk jempol sekitar 100 jempol. Soalnya, jarum tensi ini 
harganya sangat mahal Mas,'' ujar panitia.

Cara sterilisasi yang aman, menurut Eddy setidaknya dilakukan penguapan dan 
pemanasan dengan suhu tertentu. ''Makanya kalau di rumah sakit besar, 
sterilisasi menjadi unit tersendiri. Karena memang rumit dan perlu penanganan 
khusus," ujar bapak empat anak ini.

Sementara itu, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Ryamizard Ryacudu menilai, cap 
jempol darah ini sebagai rasa kesetiaan dan loyalitas anggotanya terhadap 
Megawati.

Meski demikian, ia menyayangkan dengan peristiwa tersebut yang seharusnya 
tidak perlu terjadi. ��Kalau apa yang dilakukan simpatisan PDI Perjuangan itu 
sebagai wujud kesetiaan kepada pimpinan, itu bagus,�� ungkapnya.

Sebagai pribadi, Ryamizard Ryacudu, tidak membenarkan dan juga tidak 
menyalahkan sikap pendukung Megawati tersebut. ��Kalau saya ditanya pendapat 
sebagai pribadi, sebaiknya tidak usahlah seperti itu. Namun, semuanya itu hak 
mereka,�� jelasnya kepada wartawan.

Ia mengharapkan, agar cap jempol berdarah itu, tidak disalahgunakan untuk 
berlebihan. Apalagi sampai menimbulkan keresahan dan mengancam pihak lain. 
��Saya minta, agar sikap warga PDI perjuangan itu, hanya untuk kesetiaan 
kepada Megawati, bukan untuk yang lainnya, apalagi untuk mengancam,�� tutur 
Pangdam yang ditemui wartawan, seusai salat Jumat di masjid Denpomdam V, 
kemarin.

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke