Pertanyaan bahwa apakah etis koran mendukung calon presiden adalah pertanyaan
naif yang amat lugu. Pertanyaan dari seorang yang mungkin menganggap koran atau
tabloid adalah barang suci yang diolah oleh insan-insan ( wartawan) yang suci
murni bak malaikat surgawi.
Koran pada jaman modern ini berkaitan erat dengan dagang. Yang pandai menyiarkan
yang menarik perhatian publik, sehingga dia dibeli, akan bisa bertahan. Semua
koran punya opini, pandangan subyektif. Resminya opini ditaruh pada bagian Tajuk
Rencana. Yang tidak resmi, opini kelihatan dari pemilihan Judul Utama,serta
tata-letak berita. Juga yang lebih tidak resmi, kelihatan siapa2 tokoh yang
didukung, siapa2 yang dikritik dan dihujat. Sebagai kelanjutan dari opini ,
koran juga membentuk opini . Termasuk disini mendukung tidak mendukung calon
presiden , mendukung tidak-mendukung suatu kebijaksaan pemerintahan, dll. Koran
yang sudah punya nama, yang sudah dipercaya pembaca, bisa jadi sasaran kampanye
calon Presiden di Amerika misalnya.
Soal opini dan membentuk opini adalah cuma soal seni. Yang mana boleh mencolok ,
yang mana harus disamarkan bagai kabut tipis dipagi hari. Yang goblok karena
terlalu mencolok berakibat ditinggalkan sebagian langganannya. Itu bagi koran
yang mau pangsa yang luas. Kalau suatu koran atau tabloid yang memang dari
semula memilih pangsa massa PDI misalnya , dia harus terus mendukung Megawati
sebagai calon presiden. Adalah blunder kalau sampai menyoal "Diam-Emas"-nya mbak
Mega yang agak mengganggu orang terpelajar itu misalnya.
Salam.
Anton wrote:
> Etis sekali kalau media tersebut adalah corong partai. Seperti yang telah
> kita ketahui bersama saat ini banyak sekali majalah dan tabloit yang
> merupakan corong partai. Contoh saja Megapos (PDI Perjuangan)dan Nagapos
> (Parti). Yang lain lain tentu lebih populer jadi tidak perlu saya sebutkan
> satu persatu.
>
> At 10:26 PM 2/16/99 +0700, you wrote:
> >Rekan-rekan milis Kuli Tinta,
> >
> >Sebagai orang yang awam ttg etika pers, saya mau tanya ke rekan-rekan semua
> >terutama para insan pers;
> >
> >Etiskah bila suatu tabloid mempromosikan --bukan hanya sekali, tetapi
> >berkali-kali-- seorang tokoh yang masuk ke dalam redaksinya sendiri sebagai
> >"calon presiden"?
> >
> >Terimakasih atas jawabannya..
> >
> >------------------------Martin Manurung----------------------------
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!