Bagaimana jika berita seperti ini saja yang di broadcast ?


-----Original Message-----
From: Jhony Hartanta Sembiring <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 12 Maret 1999 10:35
Subject: [ITB] Yang Menyejukkan di Ambon


arsip -- http://nic.itb.ac.id/~arsip/itb/
-----------------------------------------------------------------


Ini saya forward email yang isinya mungkin dapat menyejukkan hati kita
yang akhir-akhir ini agak panas soal kerusuhan Ambon

Jhony Hartanta Sembiring
------------------------
         ARC ' ers

> -----Original Message-----
> From: Oeij Livia
> Sent: Thursday, March 11, 1999 11:31 AM
> To: Daniel Sutedja; Budi Sutjiono; julius; Kantor Ratna; Xytine
> Cc: Sugondo; Monalita Ginting; Peter
> Subject: FW: FW: Ternyata....
> Importance: High
>
> Berita ini mungkin perlu kita ketahui untuk meningkatkan rasa persatuan
> dan kesatuan dan integritas berbangsa dan bernegara.. semoga....
> Ternyata .... tidak semua umat Kristen dan Islam yang saling bentrok,
> masih banyak diantara dua umat ini yang justru saling melindungi ...
> namun sisi-sisi positif dari orang-orang yang baik ini tidak ditunjukkan
> di media masa.
>
> ----------
>
> From: Nunumete, Ria (Ria)
> Sent: Tuesday, March 09, 1999 7:51 PM
> Subject: Ternyata....
>
> Bahu-Membahu Muslim-Kristiani
> Suatu sore di sebuah warung kopi di Kota Ambon. Belasan orang terlihat
> memenuhi warung kopi-sebutan untuk restoran di sana-yang terbesar di kota
> itu. Sejumlah laki-laki berkulit gelap, dengan rambut bergelombang, duduk
> melingkari meja. Sedangkan lelaki berkulit agak terang, dengan rambut
> lurus, mengikuti berita di pesawat televisi. Di dekat pintu masuk,
> terlihat seorang lelaki berkulit kuning, dengan mata sipit, asyik
> menikmati makannya. Masing-masing sibuk dengan keperluan mereka.
> Mestinya tak ada yang istimewa dari pemandangan itu, sebagaimana
> dituturkan seorang periset yang baru saja balik dari sana. Tapi setting
> biasa tadi berlangsung di sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan Sultan
> Babulah, kurang lebih 300 meter dari Masjid Alfatah, tempat konsentrasi
> masyarakat muslim Ambon.
> Dan yang menarik, "potret" tersebut berlangsung di awal bulan ini, ketika
> kerusuhan atas nama suku yang berlanjut dengan perseteruan atas nama agama
> masih meminta korban. "Tak ada Islam, tak ada Kristen, tak ada soal suku,
> kami makan dengan tenang," kata mereka, seperti direkam sumber TEMPO itu.
> Apakah penggalan "adegan" di atas cermin pela gandong yang kabarnya mulai
> rontok? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi ada sederet cerita yang mengungkap
> sisi lain dari peristiwa kekerasan yang sedang mengharubirukan masyarakat
> yang menghuni kawasan dengan sebutan seribu kepulauan tersebut. Tak banyak
> pihak yang memberikan perhatian khusus terhadap sisi plus yang perlu
> dijaga. Tak percaya?
> Coba simak kejadian di Desa Poka, di Leihitu, di bagian barat Pulau Ambon,
> yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ada beberapa penduduk Islam
> tinggal di sana. Tapi di desa ini tak pernah terjadi bentrokan. Kalaupun
> ada orang Kristen dari desa lain yang hendak menyerang warga muslim Desa
> Poka, penduduk Kristen di desa itulah yang maju menghadang mereka. Hingga
> kini pun beberapa masjid dan gereja di desa ini masih tegak berdiri.
> Unik juga yang tercatat di Desa Larike, di ujung barat Pulau Ambon.
> Jumlah penduduk Islam dan Kristennya hampir berimbang. Ketika peristiwa
> Ambon pecah, penduduk desa itu saling melindungi. Jika ada orang Kristen
> yang datang untuk menyerang warga pemeluk Islam, warga desa yang beragama
> Kristenlah yang maju menghadang penyerang. Ketika giliran ada orang Islam
> yang akan menyerang, warga Islamlah yang menghadangnya.  Alhasil,
> bentrokan tak terjadi di desa ini. Masjid dan gereja tak diusik.
> Contoh lain terjadi pada 20 Februari lalu di Kampung Air Besar, di Kota
> Ambon. Warga Kristen yang ada di kampung tersebut tiba-tiba diserbu oleh
> warga Islam yang datang dari kampung tetangga. Tapi rombongan penyerbu ini
> akhirnya bisa dihalau karena kedatangan mereka sudah ditunggu oleh
> sekelompok warga Islam Air Besar di sebuah jembatan yang tak jauh dari
> kampung itu. Serangan pun urung dilakukan.
> Begitu pula masyarakat di Desa Wakal, yang komposisi penduduk Islam dan
> Kristennya hampir sama. Mereka saling melindungi. Kalau ada serbuan yang
> dilakukan oleh pihak Kristen, yang menghadang adalah orang Kristen. Dan
> kalau ada serbuan yang dilakukan orang Islam, yang menghadang adalah orang
> Islam. Masjid dan gereja di tempat ini pun tak tersentuh bara kemarahan.
> Cerita yang lebih dramatis terjadi di Dusun Wahatu, Desa Wakal, yang
> umumnya dihuni masyarakat asal Buton yang beragama Islam. Di dusun ini
> bermukim tiga keluarga beragama Kristen. Salah satu di antaranya guru SD
> di dusun itu. Sebelum 20 Januari-tanggal penyerbuan balasan oleh warga
> Islam-keluarga Kristen tadi diberi tahu bahwa mereka akan diserang.
> Karena itu, warga Buton menganjurkan agar mereka mengungsi. Untuk
> sementara ketiga keluarga tadi disembunyikan di rumah tiga orang Buton
> muslim.
> Namun, sikap warga Wahatu asal Buton itu diketahui oleh para penyerang.
> Karena itu, pihak penyerang, yang juga beragama Islam, mencaci-maki orang
> Buton di Wahatu dan mengancam akan melanjutkan penyerangan.  Khawatir
> ancaman itu benar-benar dilakukan, beberapa warga dusun ini lalu
> memindahkan keluarga Kristen itu ke rumah-rumah mereka yang ada di
> kebun-kebun di perbukitan. Keluarga Kristen tadi akhirnya diselamatkan
> oleh petugas keamanan yang datang setelah dipanggil oleh warga Buton itu.
> Konflik yang terjadi di Ambon agaknya memang tak bisa dilukiskan secara
> hitam-putih. Masih banyak sisi lain yang mungkin tak begitu digubris pers:
> kerukunan warisan lama tradisi pela gandong yang tersisa di sudut-sudut
> desa. Tapi tak ada seorang pun yang bisa meramal, akankah nilai-nilai
> luhur tradisi ini bakal berumur panjang, meski cuma di secuil desa.
> Apalagi jika sumbu konflik makin kerap dinyalakan dengan api kemarahan
> yang kian panas.
> Situasi keseharian yang terus mencekam bisa jadi pertanda buruk. Sebut
> saja peristiwa "Subuh Berdarah" tempo hari. Jika tak dijelaskan duduk
> perkara sesungguhnya, itu niscaya bakal memperburuk keadaan.
> Dari gerakan Islam, mereka masih saja ngotot bahwa penembakan terjadi "di
> dalam masjid", meski dibantah berdasarkan keterangan resmi pemerintah
> setempat. Di sisi lain, kalangan Kristen malah mengungkit betapa pihaknya
> tak kalah menderita.
> "Tapi jangan sampai kerusuhan di Ahuru-Rinjani itu didramatisasi untuk
> kepentingan politik," kata Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Kota
> Ambon, Pdt. A.Z.E. Pattinaya. Ia menegaskan, warga jemaatnya tak pernah
> dan tak akan menyerbu sesama bangsanya. "Peristiwa itu musibah yang tak
> terpikirkan sebelumnya," kata Pattinaya.
> Mungkin Pattinaya benar. Tapi di sejumlah desa yang sentimen suku dan
> agamanya menggumpal, maut tetap saja menghadang. Pendatang masih kerap
> ditanyai soal identitas agama dalam kartu penduduknya.
> "Saya masih takut memasuki kawasan Kristen. Pernah saya masuk ke kantong
> penduduk muslim, tapi mereka tak yakin, sampai saya disuruh membaca
> syahadat," ujar seorang wartawan senior Antara yang telah bertahun-tahun
> bertugas di Ambon.
> Dari cerita di atas, tak mengherankan jika salah seorang anggota Kontras,
> divisi antikekerasan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang dikirim
> ke Ambon belum lama ini, berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi bukanlah
> perang agama, melainkan lebih merupakan frustrasi sosial yang menjadikan
> agama sebagai identitas "pihak sana" lawan "pihak sini".
> Ria Nunumete
> Email : [EMAIL PROTECTED]
> DID   : 8999 8769
> Fax   : 8999 8766

-----------------------------------------------------------------
Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
isi e-mail "unsubscribe itb"
atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
------------------------------------------------------------------


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke