Kenapa berita seperti ini tidak ada di koran/media cetak Indonesia? Kenapa
yang dimuat selalu berita-berita, foto-foto yang memancing emosi pihak yang
satu terhadap pihak yang lain?
Wahai saudara2-ku, para wartawan, redaktur, pemilik media cetak, tolonglah
peran kalian sangat besar untuk menyejukkan suasana. Bukan sebaliknya.

At 07:39 15/03/99 +0700, you wrote:
>Benar-benar berita yang menyejukkan...
>Terima kasih, Alhamdulillah ya Allah. Di tengah-tengah situasi panas ini
>Engkau tetap tunjukkan kekuasaan-Mu.
>
>
>
>-----Original Message-----
>From: Miko Johan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Friday, March 12, 1999 7:41 PM
>Subject: [Kuli Tinta] Fw: [ITB] Yang Menyejukkan di Ambon
>
>
>>Bagaimana jika berita seperti ini saja yang di broadcast ?
>>
>>
>>-----Original Message-----
>>From: Jhony Hartanta Sembiring <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>>Date: 12 Maret 1999 10:35
>>Subject: [ITB] Yang Menyejukkan di Ambon
>>
>>
>>arsip -- http://nic.itb.ac.id/~arsip/itb/
>>-----------------------------------------------------------------
>>
>>
>>Ini saya forward email yang isinya mungkin dapat menyejukkan hati kita
>>yang akhir-akhir ini agak panas soal kerusuhan Ambon
>>
>>Jhony Hartanta Sembiring
>>------------------------
>>         ARC ' ers
>>
>>> -----Original Message-----
>>> From: Oeij Livia
>>> Sent: Thursday, March 11, 1999 11:31 AM
>>> To: Daniel Sutedja; Budi Sutjiono; julius; Kantor Ratna; Xytine
>>> Cc: Sugondo; Monalita Ginting; Peter
>>> Subject: FW: FW: Ternyata....
>>> Importance: High
>>>
>>> Berita ini mungkin perlu kita ketahui untuk meningkatkan rasa persatuan
>>> dan kesatuan dan integritas berbangsa dan bernegara.. semoga....
>>> Ternyata .... tidak semua umat Kristen dan Islam yang saling bentrok,
>>> masih banyak diantara dua umat ini yang justru saling melindungi ...
>>> namun sisi-sisi positif dari orang-orang yang baik ini tidak ditunjukkan
>>> di media masa.
>>>
>>> ----------
>>>
>>> From: Nunumete, Ria (Ria)
>>> Sent: Tuesday, March 09, 1999 7:51 PM
>>> Subject: Ternyata....
>>>
>>> Bahu-Membahu Muslim-Kristiani
>>> Suatu sore di sebuah warung kopi di Kota Ambon. Belasan orang terlihat
>>> memenuhi warung kopi-sebutan untuk restoran di sana-yang terbesar di kota
>>> itu. Sejumlah laki-laki berkulit gelap, dengan rambut bergelombang, duduk
>>> melingkari meja. Sedangkan lelaki berkulit agak terang, dengan rambut
>>> lurus, mengikuti berita di pesawat televisi. Di dekat pintu masuk,
>>> terlihat seorang lelaki berkulit kuning, dengan mata sipit, asyik
>>> menikmati makannya. Masing-masing sibuk dengan keperluan mereka.
>>> Mestinya tak ada yang istimewa dari pemandangan itu, sebagaimana
>>> dituturkan seorang periset yang baru saja balik dari sana. Tapi setting
>>> biasa tadi berlangsung di sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan Sultan
>>> Babulah, kurang lebih 300 meter dari Masjid Alfatah, tempat konsentrasi
>>> masyarakat muslim Ambon.
>>> Dan yang menarik, "potret" tersebut berlangsung di awal bulan ini, ketika
>>> kerusuhan atas nama suku yang berlanjut dengan perseteruan atas nama
>agama
>>> masih meminta korban. "Tak ada Islam, tak ada Kristen, tak ada soal suku,
>>> kami makan dengan tenang," kata mereka, seperti direkam sumber TEMPO itu.
>>> Apakah penggalan "adegan" di atas cermin pela gandong yang kabarnya mulai
>>> rontok? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi ada sederet cerita yang
>mengungkap
>>> sisi lain dari peristiwa kekerasan yang sedang mengharubirukan masyarakat
>>> yang menghuni kawasan dengan sebutan seribu kepulauan tersebut. Tak
>banyak
>>> pihak yang memberikan perhatian khusus terhadap sisi plus yang perlu
>>> dijaga. Tak percaya?
>>> Coba simak kejadian di Desa Poka, di Leihitu, di bagian barat Pulau
>Ambon,
>>> yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ada beberapa penduduk Islam
>>> tinggal di sana. Tapi di desa ini tak pernah terjadi bentrokan. Kalaupun
>>> ada orang Kristen dari desa lain yang hendak menyerang warga muslim Desa
>>> Poka, penduduk Kristen di desa itulah yang maju menghadang mereka. Hingga
>>> kini pun beberapa masjid dan gereja di desa ini masih tegak berdiri.
>>> Unik juga yang tercatat di Desa Larike, di ujung barat Pulau Ambon.
>>> Jumlah penduduk Islam dan Kristennya hampir berimbang. Ketika peristiwa
>>> Ambon pecah, penduduk desa itu saling melindungi. Jika ada orang Kristen
>>> yang datang untuk menyerang warga pemeluk Islam, warga desa yang beragama
>>> Kristenlah yang maju menghadang penyerang. Ketika giliran ada orang Islam
>>> yang akan menyerang, warga Islamlah yang menghadangnya.  Alhasil,
>>> bentrokan tak terjadi di desa ini. Masjid dan gereja tak diusik.
>>> Contoh lain terjadi pada 20 Februari lalu di Kampung Air Besar, di Kota
>>> Ambon. Warga Kristen yang ada di kampung tersebut tiba-tiba diserbu oleh
>>> warga Islam yang datang dari kampung tetangga. Tapi rombongan penyerbu
>ini
>>> akhirnya bisa dihalau karena kedatangan mereka sudah ditunggu oleh
>>> sekelompok warga Islam Air Besar di sebuah jembatan yang tak jauh dari
>>> kampung itu. Serangan pun urung dilakukan.
>>> Begitu pula masyarakat di Desa Wakal, yang komposisi penduduk Islam dan
>>> Kristennya hampir sama. Mereka saling melindungi. Kalau ada serbuan yang
>>> dilakukan oleh pihak Kristen, yang menghadang adalah orang Kristen. Dan
>>> kalau ada serbuan yang dilakukan orang Islam, yang menghadang adalah
>orang
>>> Islam. Masjid dan gereja di tempat ini pun tak tersentuh bara kemarahan.
>>> Cerita yang lebih dramatis terjadi di Dusun Wahatu, Desa Wakal, yang
>>> umumnya dihuni masyarakat asal Buton yang beragama Islam. Di dusun ini
>>> bermukim tiga keluarga beragama Kristen. Salah satu di antaranya guru SD
>>> di dusun itu. Sebelum 20 Januari-tanggal penyerbuan balasan oleh warga
>>> Islam-keluarga Kristen tadi diberi tahu bahwa mereka akan diserang.
>>> Karena itu, warga Buton menganjurkan agar mereka mengungsi. Untuk
>>> sementara ketiga keluarga tadi disembunyikan di rumah tiga orang Buton
>>> muslim.
>>> Namun, sikap warga Wahatu asal Buton itu diketahui oleh para penyerang.
>>> Karena itu, pihak penyerang, yang juga beragama Islam, mencaci-maki orang
>>> Buton di Wahatu dan mengancam akan melanjutkan penyerangan.  Khawatir
>>> ancaman itu benar-benar dilakukan, beberapa warga dusun ini lalu
>>> memindahkan keluarga Kristen itu ke rumah-rumah mereka yang ada di
>>> kebun-kebun di perbukitan. Keluarga Kristen tadi akhirnya diselamatkan
>>> oleh petugas keamanan yang datang setelah dipanggil oleh warga Buton itu.
>>> Konflik yang terjadi di Ambon agaknya memang tak bisa dilukiskan secara
>>> hitam-putih. Masih banyak sisi lain yang mungkin tak begitu digubris
>pers:
>>> kerukunan warisan lama tradisi pela gandong yang tersisa di sudut-sudut
>>> desa. Tapi tak ada seorang pun yang bisa meramal, akankah nilai-nilai
>>> luhur tradisi ini bakal berumur panjang, meski cuma di secuil desa.
>>> Apalagi jika sumbu konflik makin kerap dinyalakan dengan api kemarahan
>>> yang kian panas.
>>> Situasi keseharian yang terus mencekam bisa jadi pertanda buruk. Sebut
>>> saja peristiwa "Subuh Berdarah" tempo hari. Jika tak dijelaskan duduk
>>> perkara sesungguhnya, itu niscaya bakal memperburuk keadaan.
>>> Dari gerakan Islam, mereka masih saja ngotot bahwa penembakan terjadi "di
>>> dalam masjid", meski dibantah berdasarkan keterangan resmi pemerintah
>>> setempat. Di sisi lain, kalangan Kristen malah mengungkit betapa pihaknya
>>> tak kalah menderita.
>>> "Tapi jangan sampai kerusuhan di Ahuru-Rinjani itu didramatisasi untuk
>>> kepentingan politik," kata Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM)
>Kota
>>> Ambon, Pdt. A.Z.E. Pattinaya. Ia menegaskan, warga jemaatnya tak pernah
>>> dan tak akan menyerbu sesama bangsanya. "Peristiwa itu musibah yang tak
>>> terpikirkan sebelumnya," kata Pattinaya.
>>> Mungkin Pattinaya benar. Tapi di sejumlah desa yang sentimen suku dan
>>> agamanya menggumpal, maut tetap saja menghadang. Pendatang masih kerap
>>> ditanyai soal identitas agama dalam kartu penduduknya.
>>> "Saya masih takut memasuki kawasan Kristen. Pernah saya masuk ke kantong
>>> penduduk muslim, tapi mereka tak yakin, sampai saya disuruh membaca
>>> syahadat," ujar seorang wartawan senior Antara yang telah bertahun-tahun
>>> bertugas di Ambon.
>>> Dari cerita di atas, tak mengherankan jika salah seorang anggota Kontras,
>>> divisi antikekerasan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang
>dikirim
>>> ke Ambon belum lama ini, berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi
>bukanlah
>>> perang agama, melainkan lebih merupakan frustrasi sosial yang menjadikan
>>> agama sebagai identitas "pihak sana" lawan "pihak sini".
>>> Ria Nunumete
>>> Email : [EMAIL PROTECTED]
>>> DID   : 8999 8769
>>> Fax   : 8999 8766
>>
>>-----------------------------------------------------------------
>>Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>>isi e-mail "unsubscribe itb"
>>atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
>>------------------------------------------------------------------
>>
>>
>>______________________________________________________________________
>>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>>
>>
>>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>


Daniel H.T.

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke