Iya ya ... saya koq juga heran ?.
Kenapa berita2 seperti ini tidak pernah ada di media cetak bahkan media TV
?. Pertimbangan komersial mungkin ?. Atau kepentingan golongan ?. Atau
memang budaya bangsa kita yg suka "kekerasan" ?. Mohon maap bila salah ....
Toto
"ANYONE IS AN ENEMY FOR A PRICE"
www.dlanet.com/to2, [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, March 16, 1999 12:49 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [ITB] Yang Menyejukkan di Ambon
>Kenapa berita seperti ini tidak ada di koran/media cetak Indonesia? Kenapa
>yang dimuat selalu berita-berita, foto-foto yang memancing emosi pihak yang
>satu terhadap pihak yang lain?
>Wahai saudara2-ku, para wartawan, redaktur, pemilik media cetak, tolonglah
>peran kalian sangat besar untuk menyejukkan suasana. Bukan sebaliknya.
>
>At 07:39 15/03/99 +0700, you wrote:
>>Benar-benar berita yang menyejukkan...
>>Terima kasih, Alhamdulillah ya Allah. Di tengah-tengah situasi panas ini
>>Engkau tetap tunjukkan kekuasaan-Mu.
>>
>>
>>
>>-----Original Message-----
>>From: Miko Johan <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>>Date: Friday, March 12, 1999 7:41 PM
>>Subject: [Kuli Tinta] Fw: [ITB] Yang Menyejukkan di Ambon
>>
>>
>>>Bagaimana jika berita seperti ini saja yang di broadcast ?
>>>
>>>
>>>-----Original Message-----
>>>From: Jhony Hartanta Sembiring <[EMAIL PROTECTED]>
>>>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>>>Date: 12 Maret 1999 10:35
>>>Subject: [ITB] Yang Menyejukkan di Ambon
>>>
>>>
>>>arsip -- http://nic.itb.ac.id/~arsip/itb/
>>>-----------------------------------------------------------------
>>>
>>>
>>>Ini saya forward email yang isinya mungkin dapat menyejukkan hati kita
>>>yang akhir-akhir ini agak panas soal kerusuhan Ambon
>>>
>>>Jhony Hartanta Sembiring
>>>------------------------
>>> ARC ' ers
>>>
>>>> -----Original Message-----
>>>> From: Oeij Livia
>>>> Sent: Thursday, March 11, 1999 11:31 AM
>>>> To: Daniel Sutedja; Budi Sutjiono; julius; Kantor Ratna; Xytine
>>>> Cc: Sugondo; Monalita Ginting; Peter
>>>> Subject: FW: FW: Ternyata....
>>>> Importance: High
>>>>
>>>> Berita ini mungkin perlu kita ketahui untuk meningkatkan rasa persatuan
>>>> dan kesatuan dan integritas berbangsa dan bernegara.. semoga....
>>>> Ternyata .... tidak semua umat Kristen dan Islam yang saling bentrok,
>>>> masih banyak diantara dua umat ini yang justru saling melindungi ...
>>>> namun sisi-sisi positif dari orang-orang yang baik ini tidak
ditunjukkan
>>>> di media masa.
>>>>
>>>> ----------
>>>>
>>>> From: Nunumete, Ria (Ria)
>>>> Sent: Tuesday, March 09, 1999 7:51 PM
>>>> Subject: Ternyata....
>>>>
>>>> Bahu-Membahu Muslim-Kristiani
>>>> Suatu sore di sebuah warung kopi di Kota Ambon. Belasan orang terlihat
>>>> memenuhi warung kopi-sebutan untuk restoran di sana-yang terbesar di
kota
>>>> itu. Sejumlah laki-laki berkulit gelap, dengan rambut bergelombang,
duduk
>>>> melingkari meja. Sedangkan lelaki berkulit agak terang, dengan rambut
>>>> lurus, mengikuti berita di pesawat televisi. Di dekat pintu masuk,
>>>> terlihat seorang lelaki berkulit kuning, dengan mata sipit, asyik
>>>> menikmati makannya. Masing-masing sibuk dengan keperluan mereka.
>>>> Mestinya tak ada yang istimewa dari pemandangan itu, sebagaimana
>>>> dituturkan seorang periset yang baru saja balik dari sana. Tapi setting
>>>> biasa tadi berlangsung di sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan
Sultan
>>>> Babulah, kurang lebih 300 meter dari Masjid Alfatah, tempat konsentrasi
>>>> masyarakat muslim Ambon.
>>>> Dan yang menarik, "potret" tersebut berlangsung di awal bulan ini,
ketika
>>>> kerusuhan atas nama suku yang berlanjut dengan perseteruan atas nama
>>agama
>>>> masih meminta korban. "Tak ada Islam, tak ada Kristen, tak ada soal
suku,
>>>> kami makan dengan tenang," kata mereka, seperti direkam sumber TEMPO
itu.
>>>> Apakah penggalan "adegan" di atas cermin pela gandong yang kabarnya
mulai
>>>> rontok? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi ada sederet cerita yang
>>mengungkap
>>>> sisi lain dari peristiwa kekerasan yang sedang mengharubirukan
masyarakat
>>>> yang menghuni kawasan dengan sebutan seribu kepulauan tersebut. Tak
>>banyak
>>>> pihak yang memberikan perhatian khusus terhadap sisi plus yang perlu
>>>> dijaga. Tak percaya?
>>>> Coba simak kejadian di Desa Poka, di Leihitu, di bagian barat Pulau
>>Ambon,
>>>> yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ada beberapa penduduk
Islam
>>>> tinggal di sana. Tapi di desa ini tak pernah terjadi bentrokan.
Kalaupun
>>>> ada orang Kristen dari desa lain yang hendak menyerang warga muslim
Desa
>>>> Poka, penduduk Kristen di desa itulah yang maju menghadang mereka.
Hingga
>>>> kini pun beberapa masjid dan gereja di desa ini masih tegak berdiri.
>>>> Unik juga yang tercatat di Desa Larike, di ujung barat Pulau Ambon.
>>>> Jumlah penduduk Islam dan Kristennya hampir berimbang. Ketika peristiwa
>>>> Ambon pecah, penduduk desa itu saling melindungi. Jika ada orang
Kristen
>>>> yang datang untuk menyerang warga pemeluk Islam, warga desa yang
beragama
>>>> Kristenlah yang maju menghadang penyerang. Ketika giliran ada orang
Islam
>>>> yang akan menyerang, warga Islamlah yang menghadangnya. Alhasil,
>>>> bentrokan tak terjadi di desa ini. Masjid dan gereja tak diusik.
>>>> Contoh lain terjadi pada 20 Februari lalu di Kampung Air Besar, di Kota
>>>> Ambon. Warga Kristen yang ada di kampung tersebut tiba-tiba diserbu
oleh
>>>> warga Islam yang datang dari kampung tetangga. Tapi rombongan penyerbu
>>ini
>>>> akhirnya bisa dihalau karena kedatangan mereka sudah ditunggu oleh
>>>> sekelompok warga Islam Air Besar di sebuah jembatan yang tak jauh dari
>>>> kampung itu. Serangan pun urung dilakukan.
>>>> Begitu pula masyarakat di Desa Wakal, yang komposisi penduduk Islam dan
>>>> Kristennya hampir sama. Mereka saling melindungi. Kalau ada serbuan
yang
>>>> dilakukan oleh pihak Kristen, yang menghadang adalah orang Kristen. Dan
>>>> kalau ada serbuan yang dilakukan orang Islam, yang menghadang adalah
>>orang
>>>> Islam. Masjid dan gereja di tempat ini pun tak tersentuh bara
kemarahan.
>>>> Cerita yang lebih dramatis terjadi di Dusun Wahatu, Desa Wakal, yang
>>>> umumnya dihuni masyarakat asal Buton yang beragama Islam. Di dusun ini
>>>> bermukim tiga keluarga beragama Kristen. Salah satu di antaranya guru
SD
>>>> di dusun itu. Sebelum 20 Januari-tanggal penyerbuan balasan oleh warga
>>>> Islam-keluarga Kristen tadi diberi tahu bahwa mereka akan diserang.
>>>> Karena itu, warga Buton menganjurkan agar mereka mengungsi. Untuk
>>>> sementara ketiga keluarga tadi disembunyikan di rumah tiga orang Buton
>>>> muslim.
>>>> Namun, sikap warga Wahatu asal Buton itu diketahui oleh para penyerang.
>>>> Karena itu, pihak penyerang, yang juga beragama Islam, mencaci-maki
orang
>>>> Buton di Wahatu dan mengancam akan melanjutkan penyerangan. Khawatir
>>>> ancaman itu benar-benar dilakukan, beberapa warga dusun ini lalu
>>>> memindahkan keluarga Kristen itu ke rumah-rumah mereka yang ada di
>>>> kebun-kebun di perbukitan. Keluarga Kristen tadi akhirnya diselamatkan
>>>> oleh petugas keamanan yang datang setelah dipanggil oleh warga Buton
itu.
>>>> Konflik yang terjadi di Ambon agaknya memang tak bisa dilukiskan secara
>>>> hitam-putih. Masih banyak sisi lain yang mungkin tak begitu digubris
>>pers:
>>>> kerukunan warisan lama tradisi pela gandong yang tersisa di sudut-sudut
>>>> desa. Tapi tak ada seorang pun yang bisa meramal, akankah nilai-nilai
>>>> luhur tradisi ini bakal berumur panjang, meski cuma di secuil desa.
>>>> Apalagi jika sumbu konflik makin kerap dinyalakan dengan api kemarahan
>>>> yang kian panas.
>>>> Situasi keseharian yang terus mencekam bisa jadi pertanda buruk. Sebut
>>>> saja peristiwa "Subuh Berdarah" tempo hari. Jika tak dijelaskan duduk
>>>> perkara sesungguhnya, itu niscaya bakal memperburuk keadaan.
>>>> Dari gerakan Islam, mereka masih saja ngotot bahwa penembakan terjadi
"di
>>>> dalam masjid", meski dibantah berdasarkan keterangan resmi pemerintah
>>>> setempat. Di sisi lain, kalangan Kristen malah mengungkit betapa
pihaknya
>>>> tak kalah menderita.
>>>> "Tapi jangan sampai kerusuhan di Ahuru-Rinjani itu didramatisasi untuk
>>>> kepentingan politik," kata Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM)
>>Kota
>>>> Ambon, Pdt. A.Z.E. Pattinaya. Ia menegaskan, warga jemaatnya tak pernah
>>>> dan tak akan menyerbu sesama bangsanya. "Peristiwa itu musibah yang tak
>>>> terpikirkan sebelumnya," kata Pattinaya.
>>>> Mungkin Pattinaya benar. Tapi di sejumlah desa yang sentimen suku dan
>>>> agamanya menggumpal, maut tetap saja menghadang. Pendatang masih kerap
>>>> ditanyai soal identitas agama dalam kartu penduduknya.
>>>> "Saya masih takut memasuki kawasan Kristen. Pernah saya masuk ke
kantong
>>>> penduduk muslim, tapi mereka tak yakin, sampai saya disuruh membaca
>>>> syahadat," ujar seorang wartawan senior Antara yang telah
bertahun-tahun
>>>> bertugas di Ambon.
>>>> Dari cerita di atas, tak mengherankan jika salah seorang anggota
Kontras,
>>>> divisi antikekerasan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang
>>dikirim
>>>> ke Ambon belum lama ini, berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi
>>bukanlah
>>>> perang agama, melainkan lebih merupakan frustrasi sosial yang
menjadikan
>>>> agama sebagai identitas "pihak sana" lawan "pihak sini".
>>>> Ria Nunumete
>>>> Email : [EMAIL PROTECTED]
>>>> DID : 8999 8769
>>>> Fax : 8999 8766
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!