-----Original Message-----
From: bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]>


Jangankan anda yg masih balita ketika itu, yg sudah sekolah
dan kuliah pun rasanya sampai sekarang masih bingung.....

bRidWaN
===========================================

Saya rasa, kalau pada saat itu Mas Ridwan sudah di SMA atau Perguruan Tinggi
maka peta persaingan untuk perebutan kekuasaan itu tampaknya cukup terlihat
kok Mas.

Pemilihan ketua Dema adalah contohnya.  Di tingkat pelajar dan mhs,
positioning antara kekuatan Nasionalis-Agama-Komunis  itu memang ada. Bahkan
di Fisipol UGM pada saat itu ada dosen (GMNI) yang dikeluarkan. Kesatuan
Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang pertama kali meneriakkan ganti Orla
denga Orba adalah contoh aliansi antar kekuatan ormas kemahasiswaan yang
berbasis pada agama. Ada HMI, PMII, PMKRI, GMKI. Ada Akbar Tanjung ada pula
Cosmas Batubara. Siswono yang GMNI tidak mungkin muncul ada saat itu.

Yang pasti, di tahun1965 itu. gerakan-gerakan Training Center ala
kemiliteran yang diselenggarakan oleh PKI di berbagai kota memang ada.
Tujuannya apa? Mengapa PKI meminta agar angkatan ke 5 yaitu Buruh, Tani, dan
Nelayan dipersenjatai? Inilah yang membuat Yani berang. Apa TNI dianggap
tidak mampu padahal TNI ada saat itu merupakan angkatan bersenjata yang
terkuat di Asia Tenggara.

Menurut pemahaman saya berdasar literatur dan analisis yang pernah saya
baca, Soekarno melihat bahwa polarisasi  bangsa ini terdiri atas
Nasioalis-Agama-Komunis. Pemilu kali ini juga mencerminkan hal itu (minus
Komunis). Namun, perkembangan kekuatan kelompok Nasionalis dan Agama ada
saat itu,  tampaknya kurang mampu untuk mengimbangi perkembangan kekuatan
PKI.  Oleh karena tu, Soekarno berada diantara diantara kekuatan TNI dan
PKI.

Beberapa fakta telah menunjukkan kemungkinan PKI untuk memaksakan
ideologinya. Suasananya sungguh mencekam pada saat itu, apalagi di
desa-desa. Golongan Agama (Islam) dan Nasionalis (pendukung Soekarno) yang
paling merasakan hal ini. Bagi mas Iwan agar diketahui saja bahwa pada tahun
1965 menjelang bulan Oktober itu, di lapangan yang kini menjadi kompleks Fak
Hukum, Fisipol, Ekonomi terus ke selatan hingga batas jalan dengan kompleks
perumahan dosen UGM adalah markas sementara sebuah kekuatan bersenjata
lengkap dengan menaranya.

Kalau berbicara mengenai anggota PKI maka kita harus berhati-hati didalam
membuat batasannya. Banyak sekali orang di desa yang tidak tahu menahu
mengenai ideologi dan tujuan PKI  "anut grubyug" mengikuti kader-kader dan
pemimpin-pemimpin sel. Dan, seperti struktur piramida mereka itulah yang
banyak dibunuh tanpa proses pengadilan yang memadai.  Saya banyak bergaul
dengan mereka yang pernah di Pulau Buru atau angota keluarganya atau bahkan
mereka yang anggota keluarganya dibunuh. Bagi mereka, itu adalah mimpi yang
sangat menakutkan dan tidak ingin mengulanginya lagi apalagi membicarakan.
Bisa hidup dengan tenteram hinga saat ini sudah merupakan sebuah anugerah.

Bagaimanapun juga, manusia adalah mahluk hidup yang lebih dari yang lain
karena faktor manusiawi yang dimilikinyai. Manusia yang tidak manusiawi juga
ada namun jumlahnya kan tidak banyak.


______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke