> Pemilihan ketua Dema adalah contohnya. Di tingkat pelajar dan mhs,
> positioning antara kekuatan Nasionalis-Agama-Komunis itu memang ada. > Bahkan di
>Fisipol UGM pada saat itu ada dosen (GMNI) yang dikeluarkan.
Bahkan sisa-sisanya sempat pula saya rasakan sendiri ketika masih aktif
di Senat Mahasiswa dulu pada 1989 di UGM. Waktu itu, persaingan merebut
kursi Senat berlangsung antara HMI (kelompok Islam) dengan kalangan
Nasionalis. Wah, seru juga rasanya.
> Menurut pemahaman saya berdasar literatur dan analisis yang pernah > saya baca,
>Soekarno melihat bahwa polarisasi bangsa ini terdiri atas
> Nasionalis-Agama-Komunis. Pemilu kali ini juga mencerminkan hal itu > (minus
>Komunis).
Anda benar ! Dan secara antropologis, Clifford Gertz juga pernah
menyinggung soal itu dalam beberapa bukunya, hanya saja dalam bentuk
lain. Yaitu Priyayi, Santri dan Abangan. Kalangan priyayi yakni kaum
bangsawan dan pegawai pemerintah biasanya menjadi pemilih partai-partai
nasionalis tradisional, kaum santri jelas ke Islam dan abangan ke
komunis/sosialis.
> Bagi mas Iwan agar diketahui saja bahwa pada tahun
> 1965 menjelang bulan Oktober itu, di lapangan yang kini menjadi > kompleks Fak
> Hukum, Fisipol, Ekonomi terus ke selatan hingga batas jalan dengan > kompleks
> perumahan dosen UGM adalah markas sementara sebuah kekuatan bersenjata
> lengkap dengan menaranya.
Ya, saya juga dapat cerita yang sama dari Dosen Wali saya dulu yaitu
Prof Bintarto. Ceritanya memang mengerikan. Bahkan Rektor UGM-pun mesti
digantikan oleh yuniornya karena tidak dianggap terlibat dalam gerakan
politik (entah yang mana).
Saya sepakat bahwa tidak semestinya kita mengadili orang-orang PKI. Sama
halnya kita ndak usah gerah kala membaca analisis di berbagai media
massa bahwa orang-orang PKI (dalam arti ideologis bukan organisasi),
ternyata lebih banyak menyalurkan aspirasinya ke PDI Perjuangan.
Bagaimanapun mereka lebih bisa menerima orang-orang Soekarnois di PDI
Perjuangan daripada mereka yang ada di Golkar, apalagi Partai Islam. Itu
fakta, dan harus diterima tanpa kecurigaan yang keterlaluan !
Makasih,
Sams alias Iwans alias Admiral alias Proletar
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!