Bung Yap, Rachmad, Aswat,
Para Netters,
Ikutan nimbrung ya ?
Yang anda diskusikan umumnya masih berkisar pada politik dan politisi sipil.
Pikiran-pikiran anda saya kira bisa merefleksikan kecenderungan masyarakat
sipil yang mulai kenyang dengan pengalaman masa transisi ini. Makin bisa
berpikir bagus dan membuat keputusan dengan jernih. Mudah2an.
Tapi terus terang konsentrasi saya sering terganggu oleh keadaan riil yang
masih tertutup mendung misteri. Misalnya, lihat keadaan Aceh saat ini.
Kelihatannya orang sipil macam Habibie & Muladi sama sekali tidak bisa
berbuat apa-apa terhadap kelakuan tentara ( atau siapa "setan"nya). Tiap
hari rakyat masih saja dibunuhi dan dibuat menangis ( so deeply ). Lihat
Andi Galib ! Lihat Timor Timur yang masih saja terus di-obok2. Belum lagi
kasus2 Banyuwangi, Ambon,dsb. yang sudah masuk dalam Cold Storage. Kok
sepertinya mereka2 itu The Untouchables.
Saya sudah tidak mencemaskan siapa diantara para sipil yang bisa naik.
Kecuali mungkin Habibie , yang sudah terbukti tidak bisa berbuat banyak
terhadap setan2 ). Apakah Mega, atau Amin ,dll. bisa berbuat sesuatu ? Wong
The Untouchables itu sudah kadung keenakan merasa negeri ini kepunyaan
mereka ! Saya kok masih serem ! Harapan Bung Yap : " Nampaknya kita pada
posisi yang sama, tidak mau ada korban jiwa berikutnya, apalagi korban yang
sia sia. Cukuplah kebaikan dihadirkan tanpa pertumpahan darah, yang
merupakan ciri masyarakat beradab." adalah khas harapan dan nurani
masyarakat sipil. Yang lain bagaimana ?
Wassalam.
Abdullah Hasan.
----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
Bung Rachmad,
Terima kasih atas koreksinya. Saya juga menangkap kesan yang sama bukan
hanya dari pendukung PDIP, tetapi bahkan dari jajaran Ketuanya, terutama
Aberson dan Sabam Sirait, yang tentunya dapat menimbulkan dampak negatip
dimasyarakat.
Padahal assesment saya terhadap opini publik pendukung PDIP, yang mereka
dukung itu Mega, bukan Aberson atau Sabam Sirait dan sebagainya. Sayang
sekali kalau mereka tidak bisa tampil lebih arif.
Rakyat ternyata lebih punya visi dan nurani daripada para elit politik.
Desakan masyarakat untuk kembali ke Paso/Ciganjur saya lihat lebih didasari
untuk memberi kesempatan lebih besar bagi Mega untuk merekrut elemen mozaik
yang lebih indah yang ada diluar PDIP. Tetapi tentu saja ketika interest
pribadi bicara, aliansi semacam ini tentu mengurangi kesempatan individu
elite PDIP terpilih dalam skuad Pemerintahan, yang masih dikonotasikan
dengan kenikmatan dan status.
Sayang sekali kalau kita tidak mendapatkan Faisal Basri, Sri Mulyani, Yunus
Yosfiah dsb dalam skuad Pemerintahan mendatang hanya karena pertarungan
ambisi pribadi yang sempit. Bahkan saya juga melihat kehadiran Wimar
Witoelar, Bintang Pamungkas, Andi Mallarangeng, Prajoko dan Budiman
Sujatmiko sebagai figur yang dapat memberi nilai plus pada skuad
Pemerintahan mendatang. Kenapa tidak?
Saya melihat AR belakangan ini lebih arif, sehingga kualitas intelektual dan
kenegarawanannya lebih menonjol daripada ambisi pribadinya, walaupun sebagai
manusia tentulah mempunyai kekurangan, dan itu sangat manusiawi. Bersama
Wiranto, dia merupakan tokoh yang diperebutkan, karena itu juga masih
manusiawi kalau dia menunggu penawaran terbaik.
Problem yang dimiliki Mega dan AR kurang lebih sama : there's good and bad
guys around her/him.
Pada sisi AR : he has more excellent guys, yang sayang sekali kalau tidak
termanfaatkan optimal hanya karena berada dikapal yang berbeda.
Nampaknya kita pada posisi yang sama, tidak mau ada korban jiwa berikutnya,
apalagi korban yang sia sia. Cukuplah kebaikan dihadirkan tanpa pertumpahan
darah, yang merupakan ciri masyarakat beradab.
Yap.
>
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!