Salah satu pendorong kuat untuk menyingkirkan Golkar memperpanjang 
kekuasaannya (walaupun ini bisa disebut nggak demokratis) justru kemuakan 
saya dengan segala pura pura ketidak mampuan itu.

Seperti juga debat guyon kucing dalam karung, saya masih berpihak mending 
kucing yang didalam karung, siapa tahu lebih bagus. Kalau sama atau lebih 
jelek, paling-paling hasilnya ya seperti sekarang ini ketika kita dipimpin 
segerombolan kucing kurap. Kalau bagus ya itulah yang diharapkan.

Aceh, Timor plus segudang kasus cold storage sudah lebih dari cukup, dan 
merupakan harga yang terpaksa kita bayar karena turunnya raja kucing dulu 
tidak diikuti perombakan total komposisi senayan dan pemerintah transisi 
yang bukan dipilih senayan baru. Kita kecolongan, tapi mau bilang apa. 
Sekarang bukan cuma menurunkannya yang susah, bahkan ketambahan hutang yang 
dipesta porakan termasuk sejumlah bom waktu dari Aceh sampai Papua Barat.

Mega, AR dll masih belum jaminan meredam the untouchables, tetapi kalau 
bersama-sama harapannya masih ada. Negara ini perlu tim manajemen yang kuat 
dan solid yang mampu membuktikan bahwa pemerintahan sipil bukan hanya 
keharusan, melainkan memang lebih baik. Karena itu faktor pembedanya bukan 
lagi kotak kotak parpol.

Yap
optimis tapi realistis

>From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] : Kesempatan AR kecil : The Untouchable  !
>Date: Sun, 18 Jul 1999 10:11:33 +0700
>
>Bung Yap, Rachmad, Aswat,
>Para Netters,
>Ikutan nimbrung ya ?
>Yang anda diskusikan umumnya masih berkisar pada politik dan politisi 
>sipil.
>Pikiran-pikiran anda saya kira bisa merefleksikan kecenderungan masyarakat
>sipil yang mulai kenyang dengan pengalaman masa transisi ini. Makin bisa
>berpikir bagus dan membuat keputusan dengan jernih. Mudah2an.
>
>Tapi terus terang konsentrasi saya sering terganggu oleh keadaan riil yang
>masih tertutup mendung misteri. Misalnya, lihat keadaan Aceh saat ini.
>Kelihatannya orang sipil macam Habibie & Muladi sama sekali tidak bisa
>berbuat apa-apa terhadap kelakuan tentara ( atau siapa "setan"nya). Tiap
>hari rakyat masih saja dibunuhi dan dibuat menangis ( so deeply ). Lihat
>Andi Galib ! Lihat Timor Timur yang masih saja terus di-obok2. Belum lagi
>kasus2 Banyuwangi, Ambon,dsb. yang sudah masuk dalam Cold Storage. Kok
>sepertinya mereka2 itu The Untouchables.
>
>Saya sudah tidak mencemaskan siapa diantara para sipil yang bisa naik.
>  Kecuali mungkin Habibie , yang sudah terbukti tidak bisa berbuat banyak
>terhadap setan2 ). Apakah Mega, atau Amin ,dll. bisa berbuat sesuatu ? Wong
>The Untouchables itu sudah kadung keenakan merasa negeri ini kepunyaan
>mereka !  Saya kok masih serem !  Harapan Bung Yap : " Nampaknya kita pada
>posisi yang sama, tidak mau ada korban jiwa berikutnya, apalagi korban yang
>sia sia. Cukuplah kebaikan dihadirkan tanpa pertumpahan darah, yang
>merupakan ciri masyarakat beradab." adalah khas harapan dan nurani
>masyarakat sipil. Yang lain bagaimana ?
>
>Wassalam.
>Abdullah Hasan.
>
>----- Original Message -----
>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Bung Rachmad,
>Terima kasih atas koreksinya. Saya juga menangkap kesan yang sama bukan
>hanya dari pendukung PDIP, tetapi bahkan dari jajaran Ketuanya,  terutama
>Aberson dan Sabam Sirait, yang tentunya dapat menimbulkan dampak negatip
>dimasyarakat.
>Padahal assesment saya terhadap opini publik pendukung PDIP, yang mereka
>dukung itu Mega, bukan Aberson atau Sabam Sirait dan sebagainya. Sayang
>sekali kalau mereka tidak bisa tampil lebih arif.
>Rakyat ternyata lebih punya visi dan nurani daripada para elit politik.
>Desakan masyarakat untuk kembali ke Paso/Ciganjur saya lihat lebih didasari
>untuk memberi kesempatan lebih besar bagi Mega untuk merekrut elemen mozaik
>yang lebih indah yang ada diluar PDIP. Tetapi tentu saja ketika interest
>pribadi bicara, aliansi semacam ini tentu mengurangi kesempatan individu
>elite PDIP terpilih dalam skuad Pemerintahan, yang masih dikonotasikan
>dengan kenikmatan dan status.
>Sayang sekali kalau kita tidak mendapatkan Faisal Basri, Sri Mulyani, Yunus
>Yosfiah dsb dalam skuad Pemerintahan mendatang hanya karena pertarungan
>ambisi pribadi yang sempit. Bahkan saya juga melihat kehadiran Wimar
>Witoelar, Bintang Pamungkas, Andi Mallarangeng, Prajoko dan Budiman
>Sujatmiko sebagai figur yang dapat memberi nilai plus pada skuad
>Pemerintahan mendatang. Kenapa tidak?
>Saya melihat AR belakangan ini lebih arif, sehingga kualitas intelektual 
>dan
>kenegarawanannya lebih menonjol daripada ambisi pribadinya, walaupun 
>sebagai
>manusia tentulah mempunyai kekurangan, dan itu sangat manusiawi. Bersama
>Wiranto, dia merupakan tokoh yang diperebutkan, karena itu juga masih
>manusiawi kalau dia menunggu penawaran terbaik.
>Problem yang dimiliki Mega dan AR kurang lebih sama : there's good and bad
>guys around her/him.
>Pada sisi AR : he has more excellent guys, yang sayang sekali kalau tidak
>termanfaatkan optimal hanya karena berada dikapal yang berbeda.
>
>Nampaknya kita pada posisi yang sama, tidak mau ada korban jiwa berikutnya,
>apalagi korban yang sia sia. Cukuplah kebaikan dihadirkan tanpa pertumpahan
>darah, yang merupakan ciri masyarakat beradab.
>
>Yap.
>
> >
>
>
>______________________________________________________________________
>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke