Tulisan ini (dan sumbernya juga) sangat menarik. Harus di-akui bahwa di-luar
etnis Jawa (dan Sunda juga) ada keresahan yang dirasakan oleh Sindhunata
bahwa Indonesia ini sepertinya terlalu Jawa dan seolah-olah etnis lain harus
mengikuti tata-cara dan budaya Jawa, padahal mereka punya kehormatan sendiri
yang berbeda dengan pandangan Jawa.
Tidak usah terlalu jauh ke zaman Majapahit, lihatlah rezim orde baru yang
sangat  membanggakan sejarah peperangan Diponegoro yang hanya terjadi selama
5 tahun. Seakan-akan kisah itu lebih heroik dari perang aceh,
sisingamangaraja, tuanku imam bonjol, laksamana raja ali, pattimura,
hassanudin dsb.
Lihat pula pemberian bintang dan gelar kepahlawanan: sampai saat ini aku tak
pernah mendengar kalau sultan Syarif Qasim (siak sri inderapura) mendapat
gelar pahlawan, padahal dalam tempo 4 jam setelah proklamasi(jam 14.00)
beliau membuat pengumuman bahwa seluruh kekayaan Siak diserahkan kepada
republik termasuk juga tambang minyak yang sekarang dikelola oleh CPI. Lalu
dengan tulus hati beliau kembali ke aceh (tempat dimana dia berperang
melawan belanda) untuk meneruskan perjuangannya.
Dilain pihak Ny.Tien Soeharto mendapat gelar pahlawan dengan alasan beliau
sdh menunjukan dedikasinya terhadap pembangunan Indonesia (pada suatu
kesempatan moerdijono pernah menjelaskan bahwa kriteria pemberian gelar
pahlawan adalah apabila orang tersebut telah memberikan
pengabdiannya/pengorbanannya secara luar biasa terhadap negara).
Pesan ku untuk penguasa Indonesia mendatang, kalau anda tidak mendengar
keresahan ini dan anda tidak menghargai kehormatan etnis non-jawa dan anda
mengabaikan isu desentralisasi (federalisasi), anda akan mengantarkan
perpecahan Indonesia seperti yang telah dialami oleh Sovyet.

Salam dari kaki gunung Burangrang.


Tengku Chandra Hassan Adenan al Dabo.

----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Milis Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>; Millis Kuli-Tinta
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, July 24, 1999 4:01 AM
Subject: [Kuli Tinta] JAWA


> Kongres "Indonesia Moeda" tgal 28 Desember 1928. Terjadi perdebatan:
Apakah
> peradaban Indonesia sebagai kesatuan kultural itu ada ? . Mr.RT
Wongsonagoro
> membantah kalau kalau tidak ada. Menurutnya, Indonesia dapat membentuk
> kesatuan kebudayaan betapapun ada perbedaan2 didalamnya. Ia juga
> mengemukakan bahwa Nasionalisme bukanlah tujuan akhir. Nasionalisme cuma
> sarana untuk tujuan akhir sejati : kemanusiaan.
>
> Sayang cita-cita diatas belum pernah terjadi dalam sejarah Nasional
> Indonesia. Bung Karno memelesetkan nasionalisme menjadi tujuan pada
dirinya
> sendiri. Ketika harus memeras Pancasila , bukan kemanusiaan yang
> disarikannya , tapi gotong Royong. Kemanusiaan itu universal. Gotong
Royong
> itu Jawa.  Bung Karno sangatlah Jawa, dan tak kalah Jawanya adalah
> penerusnya Suharto. Kejawaan memang telah mendominasi politik Indonesia
> lebih dari limapuluh tahun. Sekarang dominasi ini mulai digugat.......
>
> Penulisan sejarah Jawa tidak didasarkan pada sejarah itu sendiri,
melainkan
> pada pola-pola mitos. Akibatnya faktisitas sejarah sulit di cek
> kebenarannya. ... Misalnya penulisan tentang Ken Angrok dan anaknya
> Anusapati yang dijumpai dalam buku Negara Kertagama.  .... Aneh sekali
> keduanya tidak pernah dijumpai dalam prasasti-prasasti..... Demikian pula
> tentang pembesaran mistis tentang geografi Majapahit. Secara aktual
> Majapahit itu cuma , Jawa, Bali dan Madura.  Disamping itu barulah ada
"the
> mempire of myth of Great Majapahit". ....
> .....Sukarno sangat obsessiv pada kebesaran Majapahit. Suharto pada
> Mataram.......
>
> Erat dengan konsep nasionalisme yang mistis itu adalah konsep negara dalam
> paham Jawa. Dalam paham Jawa, Negara tidak ditentukan oleh perimeter, tapi
> oleh pusatnya. Wilayah dikontrol oleh pusat. Makin kekuasaan pusat itu
sakti
> dan berkarisma, makin ia bisa menguasai wilayahnya...
>
> Paham kekuasaan Jawa itu sangat gandrung pada kesatuan. .. Kesatuan yang
> mistis dan sakti itupun dimasukkan oleh Sukarno kedalam demokrasi sebagai
> Demokrasi Terpimpin. Rezim Suhartopun sama saja.....
>
> UUD 45 adalah sangat nJawani.....
>
> ( Tulisan diatas saya petik dari tulisan menarik oleh Sindhunata ,
budayawan
> pemimpin redaksi Majalah Basis : " De Jawanisasi " politik Indonesia,
Kompas
> 22 Juli dan 23 Juli.  Saya petik secara provokatif dengan harapan agar
anda
> bisa membaca tulisan lengkapnya.  Dengan harapan semoga negeri ini bisa
> segera mentas dari kebudayaan mitos beringin dan keris menuju pencerahan
> yang modern. )
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>



______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke