Kongres "Indonesia Moeda" tgal 28 Desember 1928. Terjadi perdebatan: Apakah
peradaban Indonesia sebagai kesatuan kultural itu ada ? . Mr.RT Wongsonagoro
membantah kalau kalau tidak ada. Menurutnya, Indonesia dapat membentuk
kesatuan kebudayaan betapapun ada perbedaan2 didalamnya. Ia juga
mengemukakan bahwa Nasionalisme bukanlah tujuan akhir. Nasionalisme cuma
sarana untuk tujuan akhir sejati : kemanusiaan.
Sayang cita-cita diatas belum pernah terjadi dalam sejarah Nasional
Indonesia. Bung Karno memelesetkan nasionalisme menjadi tujuan pada dirinya
sendiri. Ketika harus memeras Pancasila , bukan kemanusiaan yang
disarikannya , tapi gotong Royong. Kemanusiaan itu universal. Gotong Royong
itu Jawa. Bung Karno sangatlah Jawa, dan tak kalah Jawanya adalah
penerusnya Suharto. Kejawaan memang telah mendominasi politik Indonesia
lebih dari limapuluh tahun. Sekarang dominasi ini mulai digugat.......
Penulisan sejarah Jawa tidak didasarkan pada sejarah itu sendiri, melainkan
pada pola-pola mitos. Akibatnya faktisitas sejarah sulit di cek
kebenarannya. ... Misalnya penulisan tentang Ken Angrok dan anaknya
Anusapati yang dijumpai dalam buku Negara Kertagama. .... Aneh sekali
keduanya tidak pernah dijumpai dalam prasasti-prasasti..... Demikian pula
tentang pembesaran mistis tentang geografi Majapahit. Secara aktual
Majapahit itu cuma , Jawa, Bali dan Madura. Disamping itu barulah ada "the
mempire of myth of Great Majapahit". ....
.....Sukarno sangat obsessiv pada kebesaran Majapahit. Suharto pada
Mataram.......
Erat dengan konsep nasionalisme yang mistis itu adalah konsep negara dalam
paham Jawa. Dalam paham Jawa, Negara tidak ditentukan oleh perimeter, tapi
oleh pusatnya. Wilayah dikontrol oleh pusat. Makin kekuasaan pusat itu sakti
dan berkarisma, makin ia bisa menguasai wilayahnya...
Paham kekuasaan Jawa itu sangat gandrung pada kesatuan. .. Kesatuan yang
mistis dan sakti itupun dimasukkan oleh Sukarno kedalam demokrasi sebagai
Demokrasi Terpimpin. Rezim Suhartopun sama saja.....
UUD 45 adalah sangat nJawani.....
( Tulisan diatas saya petik dari tulisan menarik oleh Sindhunata , budayawan
pemimpin redaksi Majalah Basis : " De Jawanisasi " politik Indonesia, Kompas
22 Juli dan 23 Juli. Saya petik secara provokatif dengan harapan agar anda
bisa membaca tulisan lengkapnya. Dengan harapan semoga negeri ini bisa
segera mentas dari kebudayaan mitos beringin dan keris menuju pencerahan
yang modern. )
Wassalam.
Abdullah Hasan.
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!