Pak Hasan,

Agar tdak terprovokasi oleh tulisan pak Hasan, saya akan berusaha untuk
menemui Rm. Sindhu di Kanisius.

Namun, mengenai Mojopahit di Trowulan itu, kalau menurut sejarah kan
kapal-kapal bisa berlabuh hingga di depan istana bukan? Bahkan Majapahit
dikenal sebagai memiliki kekuatan yang hebat di bahari. Kalau sekarang kita
melhat lokasi Trowulan, apakah hal itu asuk akal?

Disamping itu, bangsa ini baru saja memasuki budaya aksara. Banyak artifak
budaya tanpa penjelasan ataupun sebaliknya banyak fakta sejarah bahkan tanpa
artifak. Pak Hasan dari Solo bukan? Nah, apakah Pak Hasan bisa menemukan
bekas kebesaran Pajang? Bagaimana pula dengan kebesaran Sriwijaya? Bagaimana
pula ilmu pengetahuan saat ini bisa menjelaskan kerumitan pembangunan Candi
Borobudur tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan masa lalu? Kalau Soeharto
terobsesi pada Mataram mengapa ia menamakan satelit Palapa? Bukankah
Soeharto juga terobsesi untuk menyatukan Nusantara secara virtual?

Apakah bisa memberi penjelasan?

Mengenai provokasi Soekarno yang memeras Pancasila menjadi Gotong Royong,
saya pernah ikut dalam perusahaan yang membuat slide untuk memenuhi pesanan
Kowilhan II. Slide itu megenai kesalahan Soekarno dengan Pancasila, termasuk
pemerasan Pancasila menjadi ide gotong royong. Akhirnya saya mengetahui
bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh slide itu adalah bagian dari upaya
untuk mengeliminasi pengaruh Soekarno yang pada saat itu masih cukup besar
dan untuk membenarkan P4 masuk ke TAP MPR. Agar diketahui saja bahwa
disertasi Dr. Noegroho Notosoesanto (jendral AD) adalah mengenai hal itu.
Bahkan buku sejarah di pendidikan juga sudah memasukkan ide itu. A.W
Pranarko tertunda disertasinya mengenai Pancasila karena bertentangan dengan
disertasi Noegroho. Yang lucu, setelah Mendikbud itu meninggal, Pranarko
lolos dengan disertasinya. Akhirnya, kini juga mengetahui semua perihal itu
bukan? Apa hasil P4 dan BP7 nya? Berapa banyak biaya telah dikeluarkan?
Mengapa sekarang P4 ditiadakan? Apakah mungkin hetergonitas bangsa ini
terselesaikan dengan semangat utama bukan gotong royong? Dalam situasi
bangsa saat ini apakah semangat itu masih ada?  Sak Iyeg Sak Eko Kapti.
Menurut Mulder budaya Jawa adalah budaya terbuka yang menyerap budaya lain
untuk memperkuatnya tanpa kehilangan identitasnya. Siapapun yang berakal
budi pasti setuju dengan budaya Unggah-Ungguh bukan?   Come on....

Pak Hasan, orang ekonomi seperti Bung Martin mengenal apa yang dimasud
dengan Imperfect Information dan Moral Hazard.  Menurut pendapat saya,
persoalan yang sering muncul di tengah masayarakat adalah Moral Hazard yang
menggunakan Imperfect Information untuk kepentingan dirinya atau
golongannya. Jadi, sumbernya memang Moral Hazard itu. Dan, bukankah agama
adalah pedomannya agar manusia lebih manusiawi?


----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Milis Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>; Millis Kuli-Tinta
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 24 July 1999 04:01
Subject: [Kuli Tinta] JAWA


Kongres "Indonesia Moeda" tgal 28 Desember 1928. Terjadi perdebatan: Apakah
peradaban Indonesia sebagai kesatuan kultural itu ada ? . Mr.RT Wongsonagoro
membantah kalau kalau tidak ada. Menurutnya, Indonesia dapat membentuk
kesatuan kebudayaan betapapun ada perbedaan2 didalamnya. Ia juga
mengemukakan bahwa Nasionalisme bukanlah tujuan akhir. Nasionalisme cuma
sarana untuk tujuan akhir sejati : kemanusiaan.

Sayang cita-cita diatas belum pernah terjadi dalam sejarah Nasional
Indonesia. Bung Karno memelesetkan nasionalisme menjadi tujuan pada dirinya
sendiri. Ketika harus memeras Pancasila , bukan kemanusiaan yang
disarikannya , tapi gotong Royong. Kemanusiaan itu universal. Gotong Royong
itu Jawa.  Bung Karno sangatlah Jawa, dan tak kalah Jawanya adalah
penerusnya Suharto. Kejawaan memang telah mendominasi politik Indonesia
lebih dari limapuluh tahun. Sekarang dominasi ini mulai digugat.......

Penulisan sejarah Jawa tidak didasarkan pada sejarah itu sendiri, melainkan
pada pola-pola mitos. Akibatnya faktisitas sejarah sulit di cek
kebenarannya. ... Misalnya penulisan tentang Ken Angrok dan anaknya
Anusapati yang dijumpai dalam buku Negara Kertagama.  .... Aneh sekali
keduanya tidak pernah dijumpai dalam prasasti-prasasti..... Demikian pula
tentang pembesaran mistis tentang geografi Majapahit. Secara aktual
Majapahit itu cuma , Jawa, Bali dan Madura.  Disamping itu barulah ada "the
mempire of myth of Great Majapahit". ....
.....Sukarno sangat obsessiv pada kebesaran Majapahit. Suharto pada
Mataram.......

Erat dengan konsep nasionalisme yang mistis itu adalah konsep negara dalam
paham Jawa. Dalam paham Jawa, Negara tidak ditentukan oleh perimeter, tapi
oleh pusatnya. Wilayah dikontrol oleh pusat. Makin kekuasaan pusat itu sakti
dan berkarisma, makin ia bisa menguasai wilayahnya...

Paham kekuasaan Jawa itu sangat gandrung pada kesatuan. .. Kesatuan yang
mistis dan sakti itupun dimasukkan oleh Sukarno kedalam demokrasi sebagai
Demokrasi Terpimpin. Rezim Suhartopun sama saja.....

UUD 45 adalah sangat nJawani.....

( Tulisan diatas saya petik dari tulisan menarik oleh Sindhunata , budayawan
pemimpin redaksi Majalah Basis : " De Jawanisasi " politik Indonesia, Kompas
22 Juli dan 23 Juli.  Saya petik secara provokatif dengan harapan agar anda
bisa membaca tulisan lengkapnya.  Dengan harapan semoga negeri ini bisa
segera mentas dari kebudayaan mitos beringin dan keris menuju pencerahan
yang modern. )

Wassalam.
Abdullah Hasan.













______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke