Terus terang, aku ndak yakin apakah benar kalau berhadap-hadapan Bung
Prijo Sambodo dengan Bung Komkom Siregar akan benar-benar antem-anteman,
adu fisik, gulat gaya bebas dan bertinju ala Elias Pical ?

Wong kalau ketemu sama Martin atau Gigih juga malah aku suguhin kopi dan
kita makan Indomie ramai-ramai kok. Berbaku email itu boleh, tetapi
sampai diwujudkan benar-benar ya entar dulu deh. Inikan dunia Matrix
bukan realita, lho apa hubungannya ?

S a m 


Sambodo, Prijo (KPC) wrote:
> 
> Kumkum ....kumkum .....!     kamu itu ngomong atau kentut sih .....?
> Kamu di ITB sana itu sekolah atau jadi tukang kebon ......?    kok ndak ada
> ciri intelektualnya  ....?
> 
> Cara ngambil kesimpulan kamu itu nunjukkan isi otakmu .....!      dari mana
> kamu ada bukti bahwa pemimpin PDI-P itu mantan pelacur .....?     bukankah
> ini nunjukkan kalau otakmu itu ndak beres, sampai menyimpulkan sesuatu
> sesukanya sendiri .....?      fitnah itu dosa tau ...!
> 
> Kamu itu cocoknya jadi dukun kumkum ....?    karena dukun itu biasanya
> ngomong ndak pake penalaran, lebih banyak ngaconya/nipunya. Ini mirip kamu,
> yang bicara ndak nunjukkan kelasmu (yang ngaku lebih berpendidikkan).
> 
> Tapi gue setuju, pemimpin "IDEAL" selayaknya masa lalunya, masa sekarangnya
> maupun masa nantinya tiada cacat. Gue setuju, tapi ditambah satu lagi, dia
> diakomodasi sama rakyat. Tapi apakah ada pemimpin itu sekarang ini .....?
> (yang bersih, tidak pernah tersangkut sama rezim korup, tidak pernah
> dibiayai sama rezim korup, dan pilihan rakyat/alias didukung sama rakyat
> ....?, tidak suka nggombal sana-sini bikin bingung rakyat ....?  )
> jawabnya ada, yaitu .....
> 
> Udah ah, mulai saat ini gue nganggap kumkum radja bego, percuma dialog sama
> kumkum, ndak maju-maju (gue lebih seneng baca tulisannya si
> Sam/Iwan/Gludug/etc, walau kadang dia mbeling tapi masih jauh lebih bermutu
> ketimbang dialog sama kumkum). Antara kenyataan sama kesimpulan selalu
> ngawur.
> 
> Untuk itu ini yang terakhir gue baca tulisannya kumkum, selanjutnya gue
> aktifkan program filtering gue, semua tulisannya kumkum akan automatically
> di delete, ciao......!
> 
> Regar's   (niru gobloknya si kumkum, masak nulis regard saja
> dikeluri-keliru'in = kelihatan gobloknya)
> 
> Paijo Bodo
> (Sorry Gih .....!    ini debat kusir yang terakhir kok, no more discussion
> lagi ambek arek iki ....!)
> 
> > ----------
> > From:         Raja Komkom Siregar
> > Subject:      Re: [Kuli Tinta] Megawati Gate?
> >
> > Kalau para pemimpin moralnya seperti yang di gambarkan pak Bodo, maka
> > boleh taruhan deh, negara kita akan menjadi negara AMORAL.
> >
> > Mungkin pak Bodo ini mau kalau pemimpinnya mantan pelacur !
> > Kalau saya sih, amit-amit deh ....
> >
> > Yang namanya pemimpin itu kan haruslah orang yang masa lalu dan masa
> > sekarangnya bersih, Nggak tahu ya untuk masa ke depan.
> >
> > Regar's
> >
> > On Thu, 29 Jul 1999, Sambodo, Prijo (KPC) wrote:
> >
> > > Yah seperti inilah contoh calon-calon pemimpin bangsa Indonesia (atau
> > > bangsat Indonesia...?), sangat kreatif dalam mempengaruhi orang lain
> > (kalau
> > > mempengaruhi secara positip yah bolehlah, tapi ini .....?)
> > > Sebuah contoh dari orang-orang terdidik bangsa ini, yang rela
> > menghabiskan
> > > waktu sekolahnya hanya untuk sekedar menjelek-jelekan orang lain (gue
> > malu
> > > rasanya) , membeberkan masa lalu seseorang ditambah bumbu-bumbu komentar
> > > buah hayalannya sendiri.
> > >
> > > Kumkum kalau boleh nanya, apa relevansi dari masa lalu seseorang dengan
> > yang
> > > dilakukan sekarang atau untuk masa depan ...?
> > >
> > > Misalnya, kumkum ketangkap basah sedang masturbasi waktu SMP di toilet
> > > belakang sekolah. Terus (ceritanya) sekarang kumkum mencalonkan diri
> > sebagai
> > > RI1. Tiba-tiba ada yang protes di MPR tentang pencalonan kumkum, ketika
> > > ditanya, dia bilang kumkum dulu pernah tertangkap sedang masturbasi
> > > disekolahnya. Kira-kira bisa dijalin hubungan masa lalu dengan masa
> > sekarang
> > > (dan dibenarkan)....? dan dewasa-kah alasan tersebut .....?
> > >
> > > Kumkum, jadikanlah masa lalu HANYA sebagai kenangan dan bukannya penjara
> > > atau stempel yang akan melekat terus pada kita sehingga mengganggu gerak
> > > masa kini atau malah masa depan kita. Sedikit yang kita pelajari dari
> > masa
> > > lalu adalah pengalaman yang telah diberikan. Masa kini kita ibaratkan
> > pintu
> > > yang akan kita buka dimana diluar pintu itu akan kita lihat cakrawala
> > > harapan masa depan. Jadi, dengan pengalaman masa lalu kita kuatkan masa
> > kini
> > > untuk menyongsong masa depan.
> > >
> > > Jreeeeeeeng, eng ing eng .........!
> > >
> > > Paijo Bodo (ASu)
> >
> 
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke