Saya juga turut berbela-sungkawa, semoga mereka yang menderita atau bahkan kehilangan nyawa diberikan pahala dari-NYA sesuai amal perbuatannya dan semoga penderitaan mereka bukan untuk kesia-siaan belaka. . Hanya saja saya punya ganjelan (saat ditanya anak tetangga yang masih SMP) sebenarnya yang didemo siapa ...? pihak militer atau para wakil rakyat/pemerintah kita yang telah mengesahkan RUU itu ....? Saya tahu bahwa pihak militer sedang memaksakan suatu sistem yang membuat kekuasaan mereka dalam mengontrol massa makin besar, tapi hal ini sebenarnya bisa dicegah/ditangkal kalau wakil-wakil rakyat dan/atau pemerintah berpihak kepada rakyat. Seharusnya sih para wakil rakyat ini yang jadi sasaran demo, tapi kok mentahnya demo ke militer...? bukankah kalau nentang militer bakal konyol ....? terbukti khan di Semanggi beberapa bulan lalu, kok diulangi lagi ...? Logikanya gini, semua penjahat pasti punya pikiran untuk selalu berbuat jahat, nah yang dilawan jangan langsung penjahat itu, mestinya yang bikin penjahat-penjahat bebas berkeliaran itulah yang harus ditekan/diminta pertanggung-jawabannya (dalam hal ini para anggota DPR/Pemerintah). Kalau kita langsung melawan penjahat itu kita malah akan ikut-ikutan jadi penjahat, sama-sama berbuat kekerasan dan sama-sama merusak. Yang saya lihat sekarang malah, kebencian masyarakat terhadap militer yang dibesar-besarkan, sedangkan penyebab kebencian/pembuat ulah (dalam hal ini para anggota DPR dan Pemerintah) malah cuci tangan, mereka ini malah berbondong-bondong mendaftar dan dipilih lagi sebagai penyambung lidah para korban yang habis digebuki tadi. Melihat ini kok para mahasiswa/rakyat justru diam.......? militer bukanlah pengacau sebenarnya, tapi yang melihara kambing-kambing inilah the real enemy, seenaknya melepas kambing hingga makanin orang. Terlepas dari baik tidaknya UU yang disyahkan itu dan dari keputusan-keputusan lainnya, terlihat bahwa para komodo yang menduduki kursi wakil rakyat itu sudah tidak ada lagi yang benar-benar berpihak pada rakyat, mereka justru lebih berpihak kepada penguasa, militer dan uang/nama/kepentingan pribadi. Karena itu sudah saatnya mengganti nama DPR/MPR menjadi DPPM/MPPM alias Dewan Perwakilan Penguasa/Militer dan Majelis Permusyawaratan Penguasa/Militer, dan rakyat/mahasiswa cukup membentuk Dewan Dagelan Bangsa. Hentikan kebodohan-kebodohan ini, junjung tinggi kemanusiaan dan persaudaraan.....! Paijo anak serdadu soro (Ebes dulunye PAMEN, but ... thanks God he has retired jadi gue nggak sungkan ngeritiknya, jadi guru die now) > -----Original Message----- > From: M. ZEN Muttaqien [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Subject: TURUT BERDUKA CITA DAN BELASUNGKAWA > > Saya juga mengucapkan hal serupa... > Kemudian saya juga berpikir, mengingat adanya korban jiwa dari kalangan > masyarakat, jika pada saat itu saya sedang berada di sekitar lokasi, saya > mungkin juga menjadi korban. Saya berpendapat sangat tidak bijaksana jika > pihak keamanan (TNI dan POLRI) menembakkan peluru kearah kerumunan orang, > terlebih peluru tajam. Saya sependapat dengan ibu Yurni, kenapa di Korea > kok > bisa keamanan bersikap tenang. > > Saya berpendapat demo mahasiswa sekarang jadi seperti ini justru karena > reaksi pihak keamanan yang terlalu berlebihan dalam demo-demo sebelumnya. > Jika sikap pihak keamanan tidak berlebihan dalam menghadapi demo-demo > sebelumnya, tidak mungkin demo mahasiswa jadi sedemikian radikal... > >
______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
