Berita dari Republika,
Ayo pendukung PDI-P bina caleg-calegnya, aku masih
lebih percaya kepada lulusan SD tapi jujur, daripada
gelar Prof. Dr. tapi plin-plan enggak ketulungan,
serta pinter membodohi dan pinter korupsi.

che

Beginilah Wajah Wakil-wakil Rakyat Kita (1)
                        Dari Mantan Preman sampai
Berijazah Palsu

                        Apa boleh buat. Meski hanya
berijazah SD, Sukatni dari
                        PDI-Perjuangan (PDI-P) tetap
mendapat dukungan untuk
                        menempati posisi sebagai ketua
DPRD II Malang. ''Bagi PKB
                        itu tidak masalah. Siapa pun
orangnya, yang penting itu resmi
                        dari partai,'' kata Bibit
Soeprapto dari PKB.

                        Kasus Sukatni di atas hanya
satu contoh betapa pemilu yang
                        jurdil, dan kemenangan PDI-P,
telah membuka peluang bagi
                        siapa pun untuk menjadi wakil
rakyat. Tak peduli, apakah ia
                        hanya lulusan SD, mantan
preman, atau berijazah palsu.

                        Sesuatu yang tidak pernah
terbayangkan sebelumnya memang
                        telah benar-benar terjadi pada
era reformasi sekarang ini.
                        Banyak anggota DPR, terutama
di tingkat Dati II, yang
                        benar-benar dari kalangan
bawah (grass root), sejak mantan
                        penjual bakso, sopir, sampai
'preman'. Bukan saja pendidikan
                        mereka sangat rendah, tapi
wawasan mereka juga pas-pasan.

                        Komite Pemilihan Umum (KPU)
kali ini memang memberikan
                        persyaratan administratif yang
sangat longgar. Untuk pendidikan,
                        misalnya, dapat meloloskan
lulusan sekolah dasar (SD). PDI-P,
                        yang mayoritas massanya memang
dari kalangan grass root, tak
                        pelak banyak meloloskan
anggota dewan yang hanya berijazah
                        SD.

                        ''Pendidikan saya memang
rendah. Saya hanya tamat sekolah
                        dasar. Tapi, kan saya bisa
belajar pada anak saya yang
                        sekarang sudah sarjana,'' kata
Ato Karmo, anggota DPRD
                        Karawang (Jabar) dari PDI-P,
di ruang kerjanya, Senin (21/9)
                        lalu. Nada suara Ato merendah,
namun dari raut wajahnya
                        tertangkap perasaan bangga
ketika mengatakan 'belajar dari
                        anak saya yang sarjana'.

                        Selain Ato Karmo, masih ada
sejumlah nama anggota FPDI-P
                        DPRD II Karawang yang hanya
lulusan SD. Tentu, mereka
                        sempat menjadi buah bibir.
Banyak kalangan mempertanyakan
                        kemampuan mereka sebagai
anggota dewan, yang harus cerdas,
                        penuh inisiatif, dan
berwawasan luas.

                        Sukatni dan Ato Karno mungkin
belum apa-apa. Meski hanya
                        lulusan SD, mereka masih
aman-aman saja. Setidaknya, mereka
                        tidak memanfaatkan ijazah
palsu untuk mendongkrak
                        persyaratan administratifnya.
Soalnya, demi persyaratan itu, tak
                        kurang yang tega menyerahkan
ijazah aspal. Ini, misalnya, terjadi
                        di Solo. Delapan anggota DPRD
II Solo (termasuk ketuanya) --
                        semuanya dari PDI-P --
dicurigai berijazah palsu.

                        Kedelapan anggota dewan itu
bahkan dicurigai 'berbohong' soal
                        pendidikan terakhirnya.
Pasalnya, sampai sekarang mereka
                        belum melengkapi syarat
administratif -- alias belum
                        menyerahkan ijazah
masing-masing. Tak pelak, mereka menjadi
                        sasaran rumor. ''Sudah
dilantik, sudah menerima gaji, kok belum
                        juga memberesi syarat
administratif. Jangan-jangan mereka tak
                        punya ijazah,'' kata seorang
anggota Dewan.

                        Ketua Tim Klarifikasi Caleg
setempat sebenarnya sudah dua kali
                        memanggil kedelapan anggota
dewan yang bermasalah itu.
                        Namun, mereka -- Bambang
Murdianto, Farid Barabas,
                        Antonius Sugiyanto, Drs Rie
Suseno, James Agus Pattiwel, Budi
                        Prayitno, dan Farkhan Maryadi
-- tidak memenuhi undangan.
                        Berbagai spekulasi pun muncul.
Sejumlah kalangan menduga
                        mereka memanipulasi biodata
saat mengisi formulir caleg.
                        Sehinggga, ketika dituntut
untuk menunjukkan bukti
                        administratif, mereka
kebingungan.

                        Sekretaris PPD II, Usman
Aminuddin, juga meragukan biodata
                        Ketua DPRD II Kodya Solo,
Bambang Murdianto. Pada
                        formulir caleg dia menulis
jenjang pendidikannya STM Terutama
                        Semarang. Tapi, yang
bersangkutan tidak melampirkan fotokopi
                        ijazah yang dilegalisir.
''Yang disertakan hanya fotokopi surat
                        keterangan yang menyebutkan
pernah sekolah di situ tahun
                        1966-1969,'' kata Usman.

                        Anehnya, lanjut Usman, pas
foto yang bersangkutan terkelupas.
                        ''Surat keterangan semacam ini
susah dipertanggungjawabkan.
                        Apalagi, yang bersangkutan
belum bisa menunjukkan bukti
                        autentik yang sah hingga
sekarang,'' ujarnya.

                        Isu ijazah palsu, yang juga
menyangkut kredibilitas ketua dewan
                        itu, malah sempat menyulut
aksi unjuk rasa. Namun, berhubung
                        PPD II sudah dibubarkan,
persoalan itu kini diserahkan kepada
                        Kepala Sekretariat PPD II yang
juga Kakansospol, Soejono
                        Rofi'i.

                        Selain tingkat pendidikannya
yang 'parah', banyak pula anggota
                        dewan sekarang yang kabarnya
mantan preman. Dan, tentu,
                        selain kapasitas
intelektualnya sangat terbatas, mereka sering
                        menunjukkan 'karakter preman'
di lingkungan DPRD. Misalnya,
                        dikawal para Satgas yang
semuanya juga mantan preman, dan
                        hanya dapat ngotot saat
mengikuti rapat Dewan.

                        Wawasan dan kapasitas
intelektual yang rendah itu jelas
                        mempengaruhi kemampuan mereka
dalam berdiskusi untuk
                        memutuskan suatu masalah.
Karena itu, mereka cenderung
                        hanya mengandalkan kekuatan
bargaining berdasarkan jumlah
                        suara alias voting. Ini,
misalnya, terjadi di DPRD II Kodya
                        Surabaya.

                        Menurut laporan, usulan ''kita
voting saja!'' sangat sering
                        terdengar di ruang rapat DPRD
II Kodya Surabaya, dan
                        umumnya dari anggota FPDI-P.
Usulan itu bahkan selalu
                        dimunculkan oleh PDI-P dalam
menghadapi berbagai persoalan
                        pelik untuk melawan fraksi
lain. Tentu saja, itu mengecewakan
                        banyak pihak, karena voting
lantas menjadi senjata ampuh
                        untuk membunuh aspirasi dari
fraksi lain.

                        Dalam suatu persidangan,
misalnya, pernah terjadi perdebatan
                        seru. Di tengah-tengah
perdebatan itu tiba-tiba ada usulan dari
                        salah seorang anggota FPDI-P
agar segera dilakukan voting.
                        ''Yang lebih lucu, sewaktu
pemilihan wakil Ketua DPRD Kodya
                        Surabaya. Sesuai dengan tata
tertib pemilihan, jabatan ketua
                        dewan sudah dipegang PDI-P,
tapi mereka berusaha ikut
                        merebut jabatan wakil ketua.
Padahal, tiga wakil ketua itu
                        harusnya diberikan kepada
fraksi lain. Karena merasa
                        mayoritas, 23 suara, PDI-P
mengajak voting. Jelas ditolak
                        semua fraksi,'' ujar seorang
anggota dewan setempat.

                        Mayoritas PDI-P tersebut,
menurut sejumlah anggota DPRD
                        Kodya Surabaya, justra malah
meresahkan. Ini bukan karena
                        anggota dewan dari partai lain
kalah suara, tapi lebih disebabkan
                        oleh kualitas anggota FPDI-P
yang rendah, dan karena itu
                        cenderung arogan dan
totaliter. ''Mereka juga membangun
                        koalisi dengan yang lain.
Karena itu, perlu kekuatan
                        penyeimbang,'' ujarnya.

                        Namun, menanggapi keluhan soal
kapasitas SDM yang banyak
                        mengundang kekecewaan
tersebut, sejumlah anggota FPDI-P
                        justru mengharapkan agar semua
pihak ikut meningkatkan
                        kualitas masing-masing.
''Jangan hanya menyalahkan. Para
                        lulusan akademi itu kan diberi
ilmu lebih. Harusnya ikut
                        meningkatkan SDM kami, bukan
malah mengolok-olok begitu,''
                        ujar Arif Indrianto, Ketua
Komisi B DPRD Surabaya dari
                        FPDI-P.

                        Hal serupa juga disampaikan
Basuki, Ketua DPRD Kodya
                        Surabaya yang juga anggota
FPDI-P. ''Itu bukan berarti kita tak
                        punya SDM. Tapi memang itulah
orang partai yang telah banyak
                        berbakti ke partai. Untuk
menutupi kekurangan itu, jelas kami
                        butuh partisipasi pihak lain.
Tanggung jawab membangun
                        Surabaya ini kan tidak hanya
jadi beban FPDI-P, tapi juga yang
                        lain,'' ujarnya.

                        Basuki mengakui kualitas SDM
PDI-P rata-rata memang
                        rendah. Kendati demikian, ia
bertekad akan segera menutup
                        kekurangan tersebut melalui
berbagai cara, antara lain
                        pembekalan dan secara aktif
melibatkan berbagai pihak, seperti
                        akademisi dan LSM, untuk
meningkatkan kualitas para anggota
                        FPDI-P itu. 
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke